Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 81


__ADS_3

Sebelum magrib Edo sudah sampai di rumah Renata, untuk menjemput sang anak mau sholat magrib ke mesjid.


"Ayahhh....." teriak Angga memanggil sang Ayah, dan melompat ke gendongan Edo.


Edo dengan sigap menangkap sang anak, hatinya menghangat dapat perlakuan manis dari anaknya itu, dia fikir anaknya akan menjauh kepadanya gara gara kejadian tadi siang, rupanya tidak, anaknya malah dengan semangat menemuinya.


"Aku kangen Ayah..." ucap Angga memeluk Ayahnya, memang sehari tadi Angga belum sempat bermanja manja kepada Ayahnya.


"Ayah juga kangen sama anak Ayah ini, tadi sore Ayah ke sini Angga ngak ada" saut Edo mengecup pipi anaknya.


"Tadi Angga ikut Om Bagus ke pasar malam" ucap Angga.


"Waahhh.... seru dong, baik apa aja tadi nak?" tanya Edo.


"Naik komedi putar, naik kora kora sama main lempar botol" ucap Angga semangat.


Edo mengangguk agukan kepalanya tanda mengerti.


"Yuk... ke mesjid dulu kita, nanti telat" ucap Edo, membawa sang anak ke mesjid.

__ADS_1


Renata melihat pemandangan itu ikut terharu, dia tidak menyangka, Edo akan memperlakukan Angga sangat baik dan penuh kasih sayang, terbayang penolakannya dulu yang tidak ingin mempunyai anak, malah menyuruh Renata menggugurkan kandungannya.


"Sudah... jangan di lihatin terus, sana wudu' keburu waktu magrib habis loh..." tegur Ibunya.


"Iya bu..." ucap Renata dan berjalan ke kamarnya untuk ber wudu' dan sholat magrib.


Beberapa saat berlalu, kini Edo berhadapan dengan Ayah Renata.


"Pak.... saya minta maaf atas kejadian tadi siang, sungguh saya tidak menduga Mama akan datang dan berbuat kasar kepada Angga" ucap Edo penuh sesal.


"Hufff...." Ayah Renata menarik nafas dalam, mau menyalahkan Edo tentu saja tidak mungkin, karena bukan Edo pelakunya, malah Edo membela anaknya.


"Sudah lupakan saja, itu bukan kesalahan kamu kok, jujur sebenarnya marah, tidak terima cucu saya yang saya asuh dari kecil di perlakukan kasar sama orang membuat darah saya mendidih, apa lagi itu nenek kandung Angga sendiri, namun mau bagaimana lagi, memang sudah watak mama kamu seperti itu, saya hanya harap maklum, kamunya yang harus hati hati menjaga Angga" tutur Ayah Renata itu.


"Iya Pak... maaf" ucap Edo penuh sesal.


"Ini untuk pertama dan terakhir kalinya" ucap Angga lagi.


Ayah Renata itu menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Saya juga minta kelonggaran bagi hasil jualan, buat bulan ini ya pak" ucap Edo semakin tidak enak hati.


"Emang ada apa?" tanya Ayah Renata itu pura pura tidak tau, walau sebenarnya dia sudah tau, tadi selentingan mendengar gosip orang orang di saat dia lewat tadi, namun lebih jelasnya mending dia bertanya lansung kepada sumbernya.


"Tadi Ibu datang marah marah ke toko, saya tidak tau entah dari siapa dia tau saya ada di sini, kami sudah lama tidak bertemu dan bertukar kabar bla... bla... bal... " ucap Edo menceritakan kejadian siang tadi tanpa di tutup tutupin sedikit pun.


Ayah Renata itu mengangguk anggukan kepalanya.


"Ya sudah, ngak usah di pikirin kamu cicil aja nanti, yang penting isi toko jangan sampai kurang, agar pelanggan kamu tidak pergi ke toko lain" ucap Ayah Renata itu.


"Makasih pak... makasih banget sudah berkaki kali memaafkan saya, sungguh saya tidak hati" ucap Edo berkaca kaca.


"Ngak apa apa, santai saja, kamu sudah saya anggap anak saya kok, jadi jangan terlalu di fikirkan" Ayah Renata itu menepuk nepuk pundak Edo.


"Makan dulu Yah... Do... keburu dingin makanan di atas meja" ucap Ibu Renata yang datang dari dalam rumah.


"Yuk... kita makan dulu Do..." ajak Ayah Renata, yang tidak dapat di tolak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2