
Satu bulan berlalu niat Edo untuk mempersunting kembali di Renata menjadi istri dan ibu untuk anak anak kini terkabul sudah.
Di mana hari ini hari yang sangat di tunggu tunggu oleh Edo, Renata dan tentunya tidak kalah hebohnya dengan Angga, anak itu sungguh terlihat bahagia saat ke dua orang tuanya kembali bersatu.
Impian sederhananya sudah terkabul, hidup bersama ke dua orang tuanya, dan setiap hari dia bisa bertemu dengan ayahnya, tanpa ada halangan lagi.
"Kamu bahagia sayang...?" tanya Edo di atas pelaminan kepada Angga yang tidak mau jauh jauh darinya, pesta pernikahan ke dua Edo dan Renata memang tidak di adakan besar besaran, hanya mengundang para sanak saudara, tetangga terdekat dan karyawan mereka saja.
"Tentu saja aku sangat bahagia, karena aku akan tinggal satu rumah dengan Ayah dan Bunda, kita akan hidup bersama selamanya, tanpa ada waktu untuk berpisah dari ayah" jawab anak itu riang. Edo dan Renata tersenyum lembut melihat kebahagian sang anak.
Ya pasti sebelum Edo dan Renata kembali rujuk, pasti waktu mereka sangat di batasi, karena mereka bukan lah muhrim, dan tak pantas Edo berlama lama berada di rumah Renata, begitu pun sebaliknya, saat Renata berkunjung ke toko Edo.
"Mas ngak hubungi Papa, mama dan Rani?" tanya Renata, memang ke tiga orang itu tidak ikut menghadiri pernikahan ke dua Edo dan Renata itu, karena suatu halangan.
"Sudah sayang, tadi pas mas ijab kabul tadi Lila melakukan Vidio call" ujar Edo, walau sedikit sedih, karena pernikahannya kali ini tidak di hadiri oleh ke dua orang tua, dan salah satu adiknya, namun Edo tetap bahagia, karena dia tau sebab papa dan Rani menolak hadir, ya... karena sang mama yang masih sangat egois, mereka takut Bu Eni akan berulah di acara Edo tersebut, untuk menjaga jaga itu, mereka memilih tidak menghadiri acara Edo, namun mereka tetap merestui dan mendukung pernikahan ke dua itu.
__ADS_1
"Maaf ya mas, gara gara aku.." ucapan Renata terpotong oleh sanggahan sang suami.
"Sudah sayang, itu bukan karena kamu, tapi ke inginan mereka kok, dan mas juga mendukung semua itu, semua demi kelangsungan acara kita, mas ngak mau, hari yang sudah sangat mas tunggu tunggu di kacaukan sama mama mas, mas ngak mau" ucap Edo menatap dalam Renata.
"Maafkan mama mas yang belum berubah ya sayang, mas janji mulai saat ini, kamu dan anak kita adalah prioritas mas, dan mas akan melindungi kalian, mas tidak akan mengulangi kebodohan seperti di masa lalu lagi" ucap Edo sungguh sungguh, Renata hanya menangangguk dan tersenyum simpul mendengar ucapan sang suami.
"Mentang mentang, hari pernikahan kalian, jadi dunia hanya milik berdua, kami para tamu undangan kalian anggap apa, nyamuk, lalat, atau ilalang yang bergoyang" celoteh Angga yang tiba tiba sudah berada di dekat mereka, entah sejak kapan laki laki usil itu berada di sana, membuat Edo mendengus kesal dengan sahabat sang istri.
"Kamu ngapain ngundang si rese ini sih... sayang" gerutu Edo melirik kesal kepada Angga, yang melihat Edo masa bodo.
"Selamat ya Re... semoga samawa ya, dan ngak ada lagi air mata ke sedihan, yang ada hanya air mata bahagia, jujur sih... gue sedikit keberatan sama loe yang balikan lagi sama om ini, niatnya kamaren gue mau ngenalin loe sama bos gue, dia baik, ganteng, tajir melintir pula, tapi sayang loe sih... udah ke pincut sama om itu" goda Angga, yang tak henti hentinya membuat Edo kesal.
"Haiii... bocah sialan, kenapa sih... kamu suka sekali buat masalah sama saya, dengar ya... Renata itu... hanya milik Edo SE O RA NG....!! ngak ada yang lain, dan satu lagi, jangan panggil saya Om saya bukan om om, umur kita cuma beda 4th" kesal Edo kepada Angga.
"Ihhh.... si om, sensi amat sih, lagi datang bulan ya, saya bukan bocah ya om, masa bocah bisa bikin bocah, lagian suka suka saya lagi manggil om siapa, yang pentingkan saya hormat sama om" cerocos Angga.
__ADS_1
Renata dan Rini hanya tepuk jidat melihat adu mulut para suami mereka itu, entah kenapa, semenjak pertemuan mereka saat itu, Angga dan Edo seperti ada dendam pribadi.
"Udah Ihhh... kamu ini kenapa suka sekali bikin masalah sama bang Edo sih, malu tau di lihat orang" omel Rini.
Angga hanya mengangkat bahu acuh dan melengos tak mau melihat Edo, begitu pun dengan Edo, melihat tingkah ke dua laki laki tersebut, para tamu undangan dan orang tua Renata terkekeh melihat pertengkaran tersebut, mereka mendapat hiburan gratis di acara sakral tersebut.
"Ya udan Ya Re, bang Edo... gue bahagia melihat loe bahagia, dan semoga samawa ya, gue ngak mau lama lama, takut terjadi gencatan senjata di sini, kan ngak lucu" kekeh Rini.
"Iya, makasih ya Rin....udah datang di acara gue, salam sama baby" ujar Renata, memang Rini tidak membawa anak mereka ke acara Renata tersebut, karena anaknya itu, lagi di bawa oleh neneknya ke rumah saudara Angga.
Rini lansung menarik tangan suaminya dari atas panggung itu, sebelum sempat jauh dari sana, Angga masih sempat sempatnya menginjak kaki Edo.
"Aiiisss.... bocah gendeng, kenapa kaki saya kamu injak" kesal Edo, menahan sakit di kaki nya.
"Ouh... maaf saya pikir itu tadi kayu" ujar Angga tanpa perasaan, dan melenggang turun dari panggung tanpa menghiraukan ocehan Edo.
__ADS_1