Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 31


__ADS_3

Edo sampai di kontrakannya, namun dia di buat terkejut, ternyata kontrakan itu sudah kosong, dan sekarang ada orang yang sedang membersihkan kontrakan itu, seperti mau di tempati kembali.


"Maaf bu... mau nanya, yang ngontrak di sini kemana ya?" tanya Edo.


"Ngak tau mas... saya orang baru di sini, bahkan belum menepati rumah ini?!"


"Ouh... gitu ya bu, saya permisi dulu"


Brakkk...


Sempai di rumah Edo membuka pintu dengan kasar.


"Kenapa kamu buka pintu kasar banget Do...!" oceh Papanya.


"Renata sudah ngak ada di kontrakannya!" kesal Edo.


"Paling juga belum pulang kerja, klau ngak kepasar beli sayur" santai mamanya.

__ADS_1


"Bukan ma... tapi Renata sudah pindah dari kontrakan itu!" dengus Edo.


"Apa... kok bisa" kaget Mamanya, yang masih berharap menantunya itu mau jadi pembantunya dan perabotan menantunya buat dia.


"Ya bisalah... itu buktinya, coba aja waktu itu mama ngak hasut aku, ngak akan begini jadinya" frustasi Edo.


Iya waktu pulang dari rumah sakit, Edo di hasut sang ibu, agar menekan Renata agar mau memberikan uang gaji sang istri kepada Mamanya. Mamanya yakin Renata tidak akan mau pisah dari Edo, selain Renata mencintai Edo, dan kini Renata hamil, itu ngak akan mungkin membuat Renata ingin berpisah darinya, namun semua salah, ancamannya tidak ada pengaruh dengan Renata.


Dan dia juga menyesal dengan tidak tau dirinya dia sudah berkata jujur klau dia suka main wanita, Edo semakin frustasi, dia bingung antara menurut sama orang tua yang sudah melahirkannya atau istri yang sebenarnya dia cintai dia bingung tidak bisa mengambil keputusan, takut durhaka sama Mamanya, dan tidak ingin ke hilangan istrinya.


"Senang kan, loe... sekarang Bang... istri loe sudah pergi, enak di tinggal, makanya klau sudah nikah bahagiain anak orang, bukan loe jadiin babu dan loe porotin." sinis Lila.


"Lila... kamu ini bukannya kasih solusi malah bikin orang mangkin pusing!!" marah Edo.


"Gue bahagia kak Renata pergi dari loe, semoga dia dapat pendamping yang baik untuknya dan bapak yang baik buat janin dalam perutnya" kekeh Renata.


"Dia anak gue renata, anak gue bukan anak laki laki lain!!" teriak Edo.

__ADS_1


"Anak loe gimana...? loe kan ngak mau punya anak, dan dengan teganya loe suruh kak Renata buat gugurin anak loe, sekarang dia sudah pergi dan loe merasa bersalah... dan menganggap anak dalam kandungan kak renata anak loe, hellloooo.... abang gue yang bego kebangetan loe sudah terlambat dan sudah sangat sangat terlambat, wanita yang loe cintai dan sudah loe hancurin hati dan hidupnya, sudah tidak ingin lagi bersam sama loe bang!!"


"Sudahlah Lila jangan selalu menambah masalah, Renata itu pasti balik kesini dia itu cuma lagi emosi aja, makanya dia pergi, paling dua hari lagi balik kesini!" marah Mamanya yang masih meyakini Renata akan pulang ke rumah mereka.


"Tau nih... si Lila, suka banget lihat orang mangkin panik" oceh Rani.


"Tapi aku sependapat sama Kak Lila, ngapain kak Rena mau balik lagi ke sini, dari pada tinggal di rumah kayak neraka mending ngak balik lagi ke rumah ini, andai aku sudah besar dan sepantaran sama abang, mungkin gue duluan ketemu mbak Renata dan gue nikah sama dia dan gue buat dia bahagia, dia istri yang baik, pintar masak, walau cerewet dikit ngak masalah di tambah dia cantik pekerja keras dan ahh... sudah lah susah di jabarkan kakak ipar aku satu itu" Heru malah membayangkan kakak iparnya itu, bagi Heru kakak iparnya itu adalah perempuan sempurna.


"Heee.... bocah! urusin dulu ingus loe itu... malah menghayal si Renata loe...!" omel Rani yang tidak suka.


"Idiihhh... gue menghayal kak Renata bukan yang jorok jorok tapi sikap baik kak Renata, loe sama kak Lila kalah jauh dari Kak Renata, tapi kak Lila lebih baik dari pada loe..." sungut Heru.


Membuat Rani meradang. bisa bisanya Heru membandingkan dia sama Ipar sialannya itu.


"Heruuu.... awas loe ya...!!" teriak Rani yang sudah kabur entah kemana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2