
"Pa... nanti mama mau ke arisan ya?!" ucap Bu Eni minta izin sama suaminya.
"Iya pergi aja, ngak apa apa, soalnya nanti papa juga ada kerjaan yang sangat penting yang akan papa kerjain" ucap Pak Bandi sumringah melihat ke arah sang istri, dan sesekali melirik ke arah Seli yang ikut makan di meja makan itu bersama mereka.
"Iya pah... papa jangan terlalu capek, sudah tua loh?!" peringat Bu eni kepada sang suami. dia tidak tau kerja apa yang akan di kerjain suaminya itu.
"ngak kok mah, capek juga ngak masalah yang penting capeknya papah bikin papa senang kok" ucap Pak Bandi ambigu.
"Ncek... mana ada capek bikin senang" dengus Bu Eni.
"Ada dong, buktinya aja papa suka" ucap Pak Bandi sumringah dan menggesek kakinya di bawa meja ke paha Seli, dan jari jari kaki bergerak gerak di sela sela paha itu, membuat Seli menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara, membuat pak Bandi tersenyum puas, melihat wajah mantan menantu.
"Sialan aki aki ini, mumpung wanita tua ini pergi, gue kasih saja dia obat tidur dan gue beraksi di sini mencari barang barang gue" gumam Seli, yang sejak dulu sudah menyiapkan obat tidur buat Pak Bandi, cuma waktunya saja yang belum sempat, dan akhirnya waktu yang dia tunggu tunggu pun datang juga.
"Tau ah... papa ngelindur" ucap Bu Eni.
Pak Bandi hanya tersenyum tak jelas, karena merasakan ada cairan di sawah sepetaknya yang dia obok obok di bawah meja, dengan jempol kakinya.
"Oh... iya bu... itu si Heru ke mana sih... sudah beberapa hari ngak pulang pulang, sekali pulang sebentar doang, kayak ngak betah di rumah?" ujar Pak Bandi di sela sela kerjanya di bawah meja.
Seli bertahan sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan suaranya dan berdiri dari duduknya.
"Kenapa kamu Sel!" bingung Bu Eni melihat wajah Seli yang memerah, dan berdiri dari duduknya itu.
__ADS_1
"Ngak apa apa bu, perut aku sakit" alasan Seli.
"Sakit kenapa, jorok kamu?!" omek mantan Ibu mertua.
"Kayaknya aku kebanyakan makan sambal Ma..?!" alasan Seli yang tak masuk akal, Pak Bandi hanya menyeringai puas melihat wajah Seli.
"Makanya jangan rakus jadi orang!" omel Bu Eni, dan melanjutkan makannya.
"Iya mah... maaf, aku ke belakang dulu" ucap Seli dan gegas pergi dari ruang makan itu, sambil merutuki mantan papa mertua.
"Dasar tua bangka sialan, habis ini mati loe!" gerutu Seli, dan membuat kopi di sana, sambil mengintip sedikit ke meja makan, takut takut ada yang datang ke dapur.
Seli membuat kopi yang sudah di kasih obat tidur, dia tau setelah makan biasanya papa mertuanya selalu minum kopi.
"Pa ini kopinya..." ucap Seli menarok kopi di meja itu, dan dengan sigap pak Bandi meremat semangka bangkok Seli.
"Makasih sayang..." sambil mengedipkan mata.
Seli hanya tersenyum kecut, dan pergi dari ruangan itu, sebelum manta mama mertua keluar dari kamar.
"Minum lah kopi itu sampai tandas, dan setelah itu gue beraksi" gerutu Seli sambil berjalan.
"Ngomong sama siapa kamu Sel...?" tegur mantan mama mertuanya, tiba tiba sudah ada di samping Seli dengan penampilan hedonnya, memakai perhiasan punya Seli, dan untungnya yang dia pakai hanya yang imitasi.
__ADS_1
"Eh... mama, ngak sama siapa siapa kok, tadi ada semut di tangan aku" kaget Seli yang takut ke tahuan sama mantan mama mertua.
"Dasar ngak jelas kamu" ketus Bu Eni, meninggalkan Seli yang masih berdiri di sana.
"Hufff... untung ngak ke tahuan" gumam Seli mengelus dadanya.
"Pa.. mama berangkat ya?!" ucap Bu Eni cipika cipiki sama sang suami.
"Iya mah... hati hati ya, papa mau tidur dulu lah, ngantuk banget ini mata" tutur Pak Bandi, setelah menghabiskan kopi buatan Seli.
Seli dengan sigap membersihkan meja makan, dapur dan tong sampah, membuang semua sampah sampah yang ada di situ keluar, untuk membuang jejaknya.
Setelah kepergian Bu Eni dan melihat Pak Bandi yang sudah terkapar di kursi tengah itu, dan Seli membawa cangkir bekas kopi dan mencucinya.
Dan Seli lansung melakukan aksinya, tanpa menunda nunda lagi.
Seli masuk ke kamar manta mama mertua, dan membuka lemari di sana, dan kamar itu adalah milik Seli dengan mudah Seli mencari barang barang berharganya,
Tampa membuang waktu lama, Seli lansung memasukan semua surat surat penting dan Perhiasan, dan uang tunai yang tidak Bu Eni tidak tau tempatnya, dan beruntung uang itu masih utuh.
"Huff... akhirnya dapat juga, gue harus keluar dari sini dan gue jual rumah ini lansung" gumam Seli, dia keluar dari kamar itu dan membawa tas yang sudah dia persiapkan untuk kabur selama ini.
"Bye... Bye... selamat jadi gelandangan, dan rasakan apa yang di rasakan manta menantu loe yang dulu" gumam Seli, meninggal kan rumah itu, masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di luar sana.
__ADS_1
Bersanbung...