
"Rani...."
Panggil seseorang yang sangat Rani kenal suara itu, ingin rasanya Rani lari, namun apa daya kakinya sakit untuk di bawa berjalan.
"Ran...." Lagi lagi laki laki itu memanggil nama Rani namun sedikitpun Rani tidak ingin menoleh ke arah suara itu, rasa sakit, rasa terhina, rasa kecewa kepada orang itu membuat Rani enggan melihat orang tersebut.
"Rani... maaf kan Mas, Mas sudah membuatmu sakit dan kecewa" ucap orang itu, tak lain tak bukan mantan suami Rani.
"Nagapain lagi Mas nemuin aku, pergi sana!" usir Rani yang tidak mau menoleh sedikit pun.
"Ran, maafin Mas, Mas tau kamu pasti sakit hati, kecewa dan benci sama Mas, Mas tau itu, mau bagaimana lagi Mas juga ngak mau ke hilangan istri istri dan anak anak Mas" tutur laki laki itu. Rani hanya diam dan tidak mau sedikit pun menoleh ke arah laki laki itu.
"Mas tadi mencari kamu kerumah kamu, kata warga kamu sudah tidak tinggal di sana lagi" tutur mantan suami Rani, lagi lagi Rani bungkam tidak mau mengeluarkan suara sedikit pun.
"Huufff.... sudah lah, capek juga Mas ngomong kamu tetap ngak akan mendengarkan Mas, baik lah... Mas nemuin kamu, Mas mau balikin ini, dompet kamu di bawah tempat tidur" baru lah Rani menoleh dengan tatapan datarnya, memang Rani mencari dompetnya yang tidak tau dimana.
"Ini dompet kamu, dan ini uang sebagai tanda bersalah Mas sam kamu" tutur mantan suaminya itu, Rani menerimanya tanpa kata dan tatapan datarnya, dia memang butuh uang dia ngak mau munafik, dia menerimanya tanda ada drama, masa bodo anggap saja itu nafkah pertama dan terakhir dari mantan suaminya itu.
"Mas pergi ya..." ucap mantan suami Rani itu, dia tetap tak menyahut sama sekali, setelah ke pergian mantan suaminya itu, Rani memeriksa isi dompetnya, dan amplop yang di berikan oleh mantan suaminya itu.
__ADS_1
Ternyata isinya masih lengkap, dengan sisa uang di dalam dompet sebesar dua juta, dan di memeriksa isi amplop yang di berikan mantan suaminya, ternyata ada uang sekitar lima jutaan, setidak tidaknya Rani bisa bertahan hidup sampai dia mendapat kerjaan.
"Huuu... untung laki laki brengsek itu ngembaliin dompet gue, dan se ngak ngaknya dia juga ngasih gue uang, jadi gue bisa bertahan hidup sampai dapat kerjaan" gumam Rani. .
Sementara itu Bu Eni sudah sampai di rumah menantu kayanya.
Ting....
Tong...
Bunyi Bel di dalam rumah itu memekakan se isi rumah.
Ceklek...
"Haduuhh.... buka pintu dong San, panas nih!" gerutu Bu Eni. Santi hanya memandang Bu Eni dengan malas, dan membuka kan pintu pagar rumahnya.
"Ada apa Ibu ke sini!" ketus Santi, melihat sifat songong sang mertua yang lansung menyelonong masuk rumah tanpa di suruh.
"Kasih minum dulu napa... haus nih, abis jalan jauh dari luar" keluh Bu Eni, Santi hanya memutar mata males.
__ADS_1
"Edo.... bawa air pitih ke depan...!" teriak Santi tanpa sungkan dekat sang mertua, membuat Bu Eni terlonjak kaget dan di tambah yang di teriakin itu anaknya sendiri.
Edo buru buru membawa air yang di minta sang istri.
"Ini Yang... tumben minta air putih biasanya jus" sela Edo, yang belum mengetahui ada Mamanya yang datang.
"Bukan buat saya, tapi buat itu" tunjuk Santi dengan dagunya yang tidak ada sopan sopanya.
Bu Eni melotot tidak percaya mendengar jawaban ketus dan tidak ada sopan sopanya sama suaminya, apa lagi ada mertuanya di sana.
"Mama... ada apa ke sini" kaget Edo, melihat sang Mama, yang berpenampilan agak beda, Edo menarok air minum di sepan ibunya.
Sebelum menjawab pertanyaan Edo, Bu Eni melirik air minum itu, dia mendengus kesal cuma di suguhkan air putih doang, mau protes takut ngak di kasih minim, mau ngak mau Bu Eni meminum air putih tersebut.
Setelah minum baru lah Bu Eni bercerita.
"Jadi gini... bla... bla... bla..., makanya Mama minta tinggal di sini, boleh ya sin..." rayu Bu Eni.
"Apaa....!!".
__ADS_1
Bersambung....