
Sore hari acara pernikahan sederhana itu berakhir juga, seluruh tamu sudah pulang ke rumah mereka, termasuk sanak saudara Renata, Edo hanya di wakilkan oleh ke dua adiknya, Lila dan Heru, berhubung keluarga dari papa dan mamanya, tinggal jauh juga dengan mereka.
"Huuufff... akhirnya kelar juga" ujar Renata masuk ke dalam kamar pribadinya, dan kini kamar itu juga bukan hanya kamar dia seorang, kini kamar itu bertambah penghuni yaitu suaminya sendiri.
"Capek ya..." tanya Edo yang baru masuk ke dalam kamar itu, dan melangkah mendekati sang istri yang masih berbaring melepas lelah nya di kasur empuk itu, pakaian Renata pun belum di ganti.
"Hmmm... sedikit" saut Renata yang masih betah memejamkan matanya, dia tidak sadar sang suami terus mendekatinya.
Cup....
Tanpa aba aba Edo lansung mengecup lembut bibir manis sang istri.
"Mas... kaget Renata sambil membuka matanya.
"Apa..." jawab Edo tanpa bersalah.
"Mesum ihh..." dengus Renata.
"Biarin, sudah halal ini, udah ngak perlu di tahan lagi" ucap Edo, sambil mengelus wajah sang istri dan terus turun ke bawah tanpa aba aba, membuat Renata menggit bibir bawahnya, agar tidak mengeluarkan suara merdunya.
__ADS_1
"Mas... ahhh.... masih sore tau, kerjaan masih banyak di luar" gumam Renata.
"Sebentar saja sayang, sudah lama mas tahan ini, kamu itu semakin menggoda tau ngak, mas mati matian menahanya selama ini, tapi kali ini mas ngak mau menahan lagi sayang, bikin pusing tau ngak" ujar Edo dengan suara serak dan nafas menderu.
"Tapi mas...." ucapan Renata tertahan saat melihat wajah memelas sang suami, mau tak mau dia mengangguk karena tidak tega.
Edo yang mendapat lampu hijau lansung senang dan tanpa ba bi bu lansung menerjang Renata tanpa tending aling aling.
Memang Edo tak melakukan olah raga sore itu dengan waktu yang tidak lama, berhubung masih sore, dan takut klau lama lama olah raga sore anaknya akan mencari mereka.
"Ahhh.... Re..." de*** suara Edo mengeluarkan lahar panas, yang sudah lama tersumbat itu, dia kembali menyirami sawah sang istri.
"Makasih sayang, ini masih sama seperti dulu ngak ada yang berubah, masih sempit" ujar Edo ambigu.
"Gimana ngak sempit kan aku cuma sama mas ngelakuin nya, dan ngak pernah lagi, sekarang mas lagi yang acak acak sawah aku" gerutu Renata.
Edo terkekeh mendengar gerutuan sang istri, dan memeluk istrinya dari belakang, tangannya sibuk main main di atas dada sang istri.
"Mas ih... lepas napa sih, aku mau istirahat" rengek Renata.
__ADS_1
"Istirahat lah, mas mau mandi, trus mau bantu bantu di luar dulu" ucap Edo melangkah ke kamar mandi dengan ke adaan masih polos, tanpa malu sedikit pun.
Dia keluar kembali sambil membawa baskom dan waslap untuk mengelap tubuh sang istri, dari keringat dan sisa sisa percintaan mereka, Renata sudah tidak perduli, matanya sudah benar benar tidak mau di buka.
Setelah itu, Edo juga memasangkan pakaian untuk sang istri, dia takut anaknya akan masuk ke kamar ini, dan melihat bundanya tidak memakai pakaian selembar pun, bisa di tarok di mana wajahnya.
Selesai membantu sang istri, kini Edo juga membersihkan tubuhnya, dan keluar dari kamar mandi, memakai handuk sebatas pinggang, dia memakai pakaian yang sudah tersedia di kamar Renata itu.
Cup...
"Istirahat lah... mas keluar dulu ya..." tutur Edo dengan lembut dan membelai kepala Renata.
Ceklek....
"Ayah...." pekik Angga melihat Edo yang keluar dari kamar sang bunda.
"Apa sayang...?" ujar Edo menyambut sang anak, dan membelai kepala Edo penuh kasih sayang.
"Bunda mana yah....
__ADS_1
"Di dalam lagi istirahat, bunda kecapean, biarin aja dia istirahat, ayo bantu ayah..." ajak Edo. agar anaknya itu tidak menganggu tidur sang istri.