
"Kak.... Selamat ya, semoga kakak sama calon dede sehat terus ya, jangan sakit lagi, bikin cemas tau..." ucap yang duduk di kursi samping bed Renata dan mengelus lembut perut rata Renata yang sudah dinyatakan hamil 1 bulan itu.
"Makasih do'anya ya...." ucap Renata tulus dan tersenyum lembut ke arah Lila, di antara Lila dan Rani dulunya memang Lila lah yang selalu membela dan suka memberi perhatian kepada Renata, bahkan dia sudah bercerai juga tak jarang Lila berkunjung ke rumah Renata sebelum dia pergi keluar kota.
"Kakak harus banyak banyak istirahat ini, jangan ke toko toko dulu deh" ujar Lila yang masih mengomel.
"Ngak pa apa kakak mu ke toko, kan ada abang yang jaga, abang sudah menyediakan tempat istirahat yang nyaman buat kaka di toko, lagian kalau kakakmu sendirian di rumah, abang juga kerja ngak fokus" ujar Edi yang datang tiba tiba.
"Ncek... Bilang aja ngak mau jauh dari kak Re..." cibir Lila melirik sinis sang abang.
" Iya lah... Abang ngak mau kehilangan momen kakak iparmu hamil, abang dulu ngak pernah mengurus kehamilan Angga, sekarang biar abang yang melakukanya sendiri" ujar Edo penuh tekat, dia ingin menjadi ayah siaga untuk anak ke duanya ini, sekalian untuk menebu kesalahannya di masa lalu.
Renata hanya tersenyum haru mendengar ucapan Edo tersebut, bagaimana tidak, dulu saat hamil Angga dia menjalani beban berat seorang diri, ngidam ini itu ngak berani minta kepada orang tuanya, dia tidak ingin membangunkan orang tuanya untuk mencari apa yang dia inginkan, dia hanya menahannya sendiri, dan beruntungnya sang adik lebih peka, selalu bertanya "kakak ingin makan apa?"
"Kamu mau kan sayang, klau siang kita di toko, biar mas yang merawat kamu dan anak kita, mas ngak ingin kehilangan momen ini lagi" ucap Edo sendu.
"Iya... Aku mau kemana pun mas bawa" ujar Renata, dia juga ingin merasakan perhatian dari suaminya saat hamil, di penuhi setiap ngidamnya, di buatkan susu setiap pagi atau malam hari, membayangkan itu saja Renata sudah sangat senang.
Edo tersenyum dan mencium lebih pelipis sang istri, tanpa memperdulikan Lila sang adik yang masih ada di sana.
Cup....
"Woooiii... abang ngak ada akhlak, masih ada jomblo di dalam sini loh... tolong lah di hargai" kesal Lila.
"Hehehe... kirain abang udah ngak ada orang" kekeh Edo.
"Ncek... dengus Lila sambil memutar matanya malas.
__ADS_1
"Oohhh... Iya bang, Kak Rani di lamar sama teman kerjaannya, abang sudah tau...?" tannya Lila lagi.
"Sudah, kemaren Rani sama papa telpon nanyain keadaan Renata, sama ngasih tau itu, mudah mudaha lakinya baik dan mau menerima kekurangan dan kelebihan Rani" ucap Edo sendu.
"Iya bang, semoga aja, tapi kata Ayah cowoknya yang ngebet pengen nikahin kak Rani secepatnya, tapi kak Rani minta istiqaroh dulu" sahut Lila.
"Bagus itu, serahin semua sama Allah, biar jalan lancar sampai akhir, bukan nafsu kita semata" ujar Edo balik.
"Hm.... Benara kata abang" Lila mengangguk anggukan kepala nya.
"Kamu kapan dek...?" tanya Edo ke Lila.
"Aku ada sih bang, tapi... akunya masih ragu, takut dia cuma main main di tambah keluarganya keluarga terpandang, jadi takut aku bang" Keluh Lila
"Kenapa kamu ngam istiqaroh aja kaya Rani" ujar Edo.
"Iya bang nanti aku istiqaroh" kata Lila tersenyum ke abangnya itu.
"Rani, jangan sama kan semua laki lali, dan semua keluarga dengan keluarga kamu yang dulu, semua orang itu berbeda beda sayang, walau dulu abang mu ini luar biasa kelakuannya, lihat lah sekarang dia jadi ayah yanh siaga dan sayang sam anak istri" ujar Renata.
"Iya kak... Maaf" jawab Lila, jujur dia memang trima dengan keluarganya sendiri, bahkan dia tidak ingin menikah klau mengingat apa yang terjadi pada keluarganya, dia takut karma itu akan sampai ke dia, itu yang ada di bayang bayang Lila, apa lagi mendengar kisah rumah tangga Rani sang kakak, semakin lah dia di buat ketakutan.
"Klau kamu masih Ragu, lalukan istiqaroh seperti Rani, minta yang terbaik, jodoh yang baik" ujar Edo, dia tidak memaksa sang adik untuk menikah, dia tau adiknya itu trauma juga karena dirinya.
"Iya bang..." ujar Lila mengangguk kan kepalanya.
Ceklek...
__ADS_1
"Makanan datang...." seru Bagus dan Heru dari balik pintu, memang ke dua laki laki itu sedang mencari makanan, karena waktu makan siang sudah datang, mereka melarang Ibu Renata mengantar makanan, dia tau ibu itu kecapean.
"Waahhh kayanya enak" ujar Renata.
"Bagus sengaja membeli sup daging agar sang kakak mau makan, dan juga ada buah rujak yang di beli oleh Heru.
"Makan ya sayang, Mas suapin" ucap Edo mengambil makanan buat Renata.
"Boleh rujak dulu mas?!" pinta Renata merayu.
"Makan nasi sedikit dulu ya, nanti baru rujak, kasian dedek sayang, masa baru makan lansung di kasih yang asam asam" ujar Edo mengelus perut rata Renata.
"Ya udah deh...." pasrah Renata pada akhirnya.
Renata makan dengan lahap, di suapi oleh sang suami.
"Mas ngak makan?" tanya Renata.
"Nanti kamu aja dulu" jawab Edo dan tersenyum lembut kepada sang istri.
"Makasih Mas....." ucap Renata tulus dengan senyum tulusnya.
"Kenapa harus terimakasih, Mas yang harus ngucapin terimakasih sayang, kamu sudah mau mengandung anak mas lagi, dan mau menerima laki laki bajingan ini kembali dalam hidup kamu" ucap Edo penuh sesal.
"Ncek... kenapa harus ingat ingat yang dulu, lupain kesakitan yang sudah kita rasakan, jadikan itu pelajaran buat kita ya, dan sekarang kita sonsong masa depan yang cerah bersama anak anak kita" ucap Renata memegang tangan sang suami.
Edo mengangguk dengan mata berkaca kaca memeluk sang istri, sungguh dia sangat bersyukur di pertemukan untuk ke dua kalinya dengan wanita cantik baik hati, ibu dari anak anaknya itu, membuat hidupnya semakin berarti.
__ADS_1
Bersambung....
Bersambung.....