
Di saat ayah kandung Angga sedang frustasi kehilangan tambang uangnya, dan tidak bisa menguasai harta istri barunya dan malah terusir dari rumah mantan istri, di tempat lain Angga sang anak sedang berbahagia hari hari nya penuh tawa menghabiskan waktu setiap hari bersama sang bunda, sedikit pun Angga tak bertanya siapa Ayah, di mana Ayah, kenapa tidak pernah mencarinya, anak kecil itu sudah mati rasa duluan, bukan karena ajaran sang bunda, namun karena dia si anak kecil itu, yang terlalu kepo diam diam suka menguping pembicaraan Bunda dan nenek, yang bercerita tentang sang Ayah, selalu membuat air mata bundanya keluar dari mata cantiknya, Angga bocah kecil itu, berjanji dalam hati tidak ingain Ayah asal bunda tidak menangis lagi.
"Bunda...." teriak anak itu, saat bangun tidur mencari sang Bunda, yang sedang sibuk membuat sarapan di dapur.
"Iya nak... bunda di dapur" jawab Renata yang masih fokus membuat nasi goreng ke sukaan sang anak dan sarapan buat seluruh anggota keluarganya.
"Bun... Angga lansung memeluk tubuh bundanya dari belakang.
"Kenapa hmm... bangun tidur sudah merengek?!" tanya Renata lembut, sambil berjongkok menyamaratakan tingginya dengan sang anak.
"Ngak ada, pengen dengar suara bunda aja" kekeh Angga dan mengecupi pipi Renata banyak banyak, membuat Renata terkekeh geli.
"Sudah ih... geli Bunda tau ngak, mana belum sikat gigi, ini wajah bunda jadi basah dan bau jigong kamu" kekeh Renata mengelap wajahnya memakai baju yang di pakai Angga.
"Hahaha... biarin, biar bunda mandi lagi" kekeh Angga.
"Nakal kamu ya" Renata menjawil hidung mancung sang anak.
__ADS_1
Angga hanya nyengir kuda, melihat bundanya pura pura melotot.
"Mandi sana, nanti telat loh..." titah Renata.
"Ok bun, bunda masak apa bun?" tanya Angga sebelum pergi dari dapur.
"Bunda masak nasi goreng seo food sama telor mata sapi, dan kerupuk" jawab Renata, sambil melirik sang anak.
"Waahhh.... enak itu, bakal nambah nih, sarapan Angga?!' kekeh sang anak.
"Makasih bunda, bunda yang terbaik" Angga mengacungkan ke dua jempolnya dan mengedip ngedipkan matanya.
Renata hanya terkekeh dengan tingkah sang anak, semenjak Renata tidak lagi bekerja, anaknya itu semakin bahagia, bisa menghabiskan waktu berdua dengan sang bunda, kemana pun sang bunda pergi Angga akan selalu ikut, tidak pernah ke tinggalan, bahkan dia meminta sang bunda, menyediakan pakaian gantinya lebih banyak di atas mobil, agar pulang sekolah bundanya tidak harus bolak balik saat ingin pergi sesuatu tempat, memang anak kecil itu pemikiran sudah panjang, tidak sama dengan anak anak se usianya.
"Oh... cuma bunda yang terbaik, nenek ngak!" sang nenek entah datang dari mana, tiba tiba sudah ada di belakang Angga.
Membuat Angga sedikit tersentak, karena kaget, namun itu tidak lama, dia kembali dengan senyum cerahnya, menularkan senyum itu kepada sang nenek.
__ADS_1
"Tentu aja nenek juga yang terbaik, selain bunda, kakek dan om bagus semuanya terbaik buat Angga" tutur anak itu dengan mata berbinar dan lansung memeluk sang nenek.
"Dasar kecil kecil sudah pintar merayu" kekeh neneknya, sambil mengkusuk rambut sang cucu.
"Ngak apa apa, yang Angga rayu nenek Angga kok, bukan orang lain" kekeh Angga, Renata hanya gelang gelang kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.
"Kakek kapan pulang nek?" tanya Angga yang merindukan sang kakek, kakek Angga itu sedang mudik ke kampung, untuk melihat usahanya di kampung, yang di kelola oleh para saudaranya.
"Mungkin minggu depan, kenapa? sudah rindu sama kakek?!" tanya Nenek Angga.
"Hmmm" anak itu menjawab dengan anggukan.
"Nanti kita vicall kakeknya, sekarang anak bunda mandi dulu gih, ini nasinya sudah matang loh?!" tutur Renata, agar anaknya tidak sedih, karena mata Angga sudah mulai berkaca kaca.
"Ok bun, Angga mandi dulu" tutur Angga kembali semangat, dia berlari kedalam kamarnya, untuk membersihkan badan dan berganti seragam sekolah.
Bersambung....
__ADS_1