Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 38


__ADS_3

"Kenapa muka mama kusut gitu?" tanya Heru melihat wajah mamanya sejak pulang tadi tidak ada senyum sedikit pun, yang ada wajah kesal.


"Mama kesal sama Linda!" marah Mama Eni itu.


"Marah kenapa lagi" tanya Heru yang mulai tidak enak, pasti ada sesuatu, mamanya ini memang suka sekali merecoki kehidupan kakak dan abangnya, sampai sekang saja kak Lila tidak tau kemana, semenjak perceraian abangnya dengan Renata, Lila juga ikut menghilang dari rumah karena tidak tahan dengan kelakuan ke dua orang tuanya.


"Mama mau tinggal sama mereka di rumah istananya itu, kan mama juga ingin ngerasain hidup di rumah mewah, ya kali punya menantu kaya, mama ngak bisa mencicipi hartanya" gerutu Mama Eni. .


"Trus mama ngak di izinkan tinggal sama kak Linda di rumahnya gitu" sela Heru cepat.


"Boleh tinggal di sana sih... tapi... masa mama di suruh tinggal di kamar pembantu, udah gitu mama di suruh melayani keperluan mereka, mama ngak mau lah..." kesal Bu Eni


Heru cuma bisa geleng geleng kepala mendengar ucapan mamanya.


"Yang mama keselin lagi, masa abang mu di jadiin pembantu sama Linda, di suruh nganter anak anaknya ke sekolah, jadi sopir, pulang dari sekolah, masak di suruh nyuci sepatu dan ngangkatin jemuran" kesal mama Eni itu.

__ADS_1


"Sekarang mama tau kan, gimana rasanya hidup sama orang yang tidak sepadan, mama ingin menantu kaya raya, sekarang mama dapatin itu, tapi anak anak mama jadi babu di rumah baik suaminya atau pun istrinya, kedua anak mama menderita gara gara ke egoisan mama!" marah Heru.


"Dulu berapa kali mama hancurin rumah tangga bang Edo ma, dapat ka Renata yang baik dan ngak banyak cingcong, tetap mama usik"


"Mungkin ini karma mulai berjalan ma, mama ngak lihat ke sombongan kak Rani dulu, sekarang di jadikan babu sama suami dan ke dua madunya, dan abang juga sama, di jadiin babu juga sama istrinya"


"Itu buah dari mama, papa dan kak Rani perbuat dulu, yang semena mena sama menantu, dan pasangannya kini nikmatilah hasil perbuatan kalian" ceramah Edo panjang kali lebar.


"Kamu nyumpahin mama Ru...!!" teriak mamanya.


"Sial ini Heru... awas aja anak itu!!" kesal Bu Eni melihat kepergian Heru.


"Ini.. papa lagi, jam segini belum pulang!" kesal Mama Eni itu.


Sementara orang yang di tunggu tunggu kedatangannya oleh Bu Eni, lagi bercumbu mesra sama perempuan yang dulu pernah jadi menantunya.

__ADS_1


"Terus sayang... kau nikmat sekali... terus goyang pinggulnya" ucap Pak Bambang di bawah kukungan wanita yang ada di atas tubuhnya sedang bergerak liar, membuat Pak Bambang merem melek sambil memegang dua buah squishy yang lumayan besar dan bergoyang kesana kemari membuat Pak bambang gemas gemas gimana gitu.


Masih dalam ke adaan cangkul mencangkul lahan, timbul pertanyaan di dalam kepala perempuan itu.


"Pa... apa kau tidak takut mama mengetahui ini?" tanya perempuan itu yang masih berjoget ria di atas tubuh Pak Bambang itu.


"Ncek... jangan mikirin yang tak penting sekarang sayang... saya tidak perduli dia tau atau tidak, sudah malas saya sama tubuh peot itu, sudah tidak enak di pegang, baru maju mundur empat kali saja sudah minta berhenti, klau pun ketahuan saat kita main di kamar kamu sama Edo waktu itu sudah ke tahuan" dengan suara serak sambil meram melek dan tangan sibuk ******* ***** squishy Pak Bambang menjawab pertanyaan perempuannya.


Ya ternyata selama jadi menantunya pun Pak Bambang sering mengajak mantan menantunya *** ***, saat sang istri sibuk kelayapan anak anaknya sibuk kerja, di juga dia juga sibuk membajak sawah menantunya.


Pak Bambang terkulai lemas setelah mengeluarkan mayonesnya di dalam sangkar si mantan menantu, mantan menantunya itu masih menempel di dada telanjang mantan mertuanya.


Tak selang lima belas menit Pak Bambang kembali meng hiya hiyakan mantan menantunya lagi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2