
"Kok istri dan anak mu ngak di ajak ke sini Do, apa dia jijik datang ke kampung, dasar orang sok kaya, padahal berasal dari kampung juga" ketus Bu Eni.
"Bukan ngak mau Ma, tapi istriku lagi hamil muda, jadi ngak boleh perjalanan jauh" jujur Edo.
"Alah... manja amat sih, klau niat mah pasti bisa kok, tanda ngak niat dia makanya ngak datang" ujar Bu Eni berapi api.
"Aku yang ngak izinin istriku datang ke sini, karena aku ngak ingin terjadi apa apa sama istri dan anakku, walau istriku ngak datang tapi istriku tetap nitip kado buat Rani bahkan Ibu mertuaku juga nitip kok" Bela Edo mulai tersulut emosi.
"Halah... Kado apa yang dia kasih, paling juga spray satu" sinis Bu Eni makin menjadi jadi.
"Istriku nitip kado kalung 10gram sama uang dari mertua ku 5jt ma... apa itu masih kurang!" ujar Edo dengan mata memerah menahan sesak di dadanya, kenapa mamanya ini tidak pernah berubah, semakin tua semakin bertingkah.
Bu Eni sedikit kaget mendengar kado dari Renata dan Ibunya namun dia kembali menguasai diri bersikap seolah biasa aja, dia berlalu dari ruangan tempat mereka berkumpul.
"Sabar kak, ngak usah di dengarin" ucap Lila mengelus pundak Edo.
"Mama itu kapan berubahnya sih" ujar Rani dengan suara seraknya itu, bukan mereka tak ingin melawan mamanya, cuma besok adalah hari baik buat Rani tidak mungkin keluarga marahan.
__ADS_1
"Maafin sikap mama mu ya Do, papa bersyukur Rena ngak datang ke sini, dari pada nanti justru lebih sakit hati mendengar ucapan mama mu itu" ujar Pak Bandi.
Heru hanya bisa mengelus dada dengan kelakuan mama nya itu.
"Iya Pa... tapi kayanya aku ngak akan lama di sini pa, aku selesai acara Rani, lusa aku lansung pulang ke jakarta Pa.... takut aku semakin melawan kepada mama, dan aku berdosa, apa lagi istri ku sedang hamil pa" tutur Edo menyampaikan ke inginannya.
"Iya ngak pa apa, dari pada lama lama di sini kamu ikut ngak waras" kekeh Pak Bandi mencairkan keadaan.
"Ooohhh... Iya kak, kakak abis nikah mau tinggal di mana?" tanya Lila.
"Itu... Rumah yang di samping rumah yang baru di bangun itu ternyata Rumah Bang Rinto yang sengaja dia bangun untuk kita nanti" ucap Lila.
"Hmmm..." ucap Rani yang merasa bersyukur mendapatkan laki laki sebaik Rinto, walau dia sudah tau kisah masa lalu Rani dia tidak menyerah, malah tekadnya semakin bulat untuk menikahi Rani.
"Semoga kali ini jodoh kakak sampai maut memisahkan ya kak" ujar Heru ikut senang dengan pernikahan kakaknya itu.
"Aamiin..." sahut yang lainnya.
__ADS_1
Di dalam kamarnya Bu Eni menggerutu kesal, karena anak laki lakinya tidak bisa lagi dia provokasi lagi, malah sekarang Edo sangat melindungi istrinya.
"Dasar sial... pelet apa sih yang di kasih sama perempuan kampungan itu, sampai sampai sekarang Edo lebih membela dia bukan saya ibunya, apa coba kelebihannya, pokoknya saya harus bisa membujuk Edo agar saya bisa ikut ke kota, ngapain coba hidup di dusun kaya gini, kerjaan cuma pengajian pengajian tiap hari membosankan" gerutu Bu Eni yang mondar mandir di kamarnya.
"Ngapain kamu mondar mandir kaya gitu Ma...?" tanya Pak Bandi yang heran melihat kelakuan istrinya itu.
"Ehh... ngak ngapa ngapain" ujar Bu Eni terjengkit kaget dengan teguran sang suami.
"Ohh... Sudah sana tidur, besok bangun pagi" titah Pak Bandi.
"Ahh.. Iya..." Bu Eni gegas naik ke kasur dan membaringkan tubuhnya di kasur, dan di ikuti oleh Pak Bandi.
"Huufff... Untung papa ngak dengar rencana saya, klau dia dengar kan bisa berabe, pasti saya di halang halangi buat balik ke kota lagi, saya sudah tidak betah di sini" gumam Bu Eni dalam hati.
"Saya tau apa yang ada di otak mu itu Ma...
dan jangan harap itu bisa terlaksana, saya tidak ingin anak anak kita hidup sengsara lagi, sudah cukup kamu menyusahkan Edo selama ini, sampai sampai dia harus berpisah dari istri yang sangat dia cintai dan juga anaknya karena ego kamu itu, tidak untuk selanjutnya saya garda terdepan yang menjadi pembela anak anak kita, cukup selama ini saya menuruti setiap kemauan kamu yang tidak masuk akal itu" gumam Pak Bandi sebelum dia menutup matanya.
__ADS_1
Bersambung....