
"Sana pergi...!!" usir preman kepada Pak Bandi, Bu Eni dan Rani.
Bu Eni sangat kacau, rambutnya acak acakan, tidak ada lagi gaya sosialita di wajahnya, yang ada rasa marah, benci dan frustasi, di tambah malu, karena dari dulu dia selalu bersifat angkuh kepada para tetangganya, berasa dia orang paling kaya di antara para tetangganya itu, dan hari ini dia berasa di terjun bebaskan dari puncak gedung lansung di sambut ta* kebo.
"Huuu.... akhirnya keluar juga benalu itu dari rumah Seli"
"Sudah numpang, ngak tau diri, yang punya rumah di usir hartanya di kuasai, sekarang gimana rasanya, balik jadi gelandangan, emang enak"
"Orang klau numpang harusnya nyadar diri, ini ngak, syukurin balik ke kolong jembatan"
"Waahhh.... anak cantiknya, kenapa sudah kayak mayat hidup"
"Enak ngerebut laki orang, bahagia jadi istri ke tiga hahaha..."
"Enak ya Ran, jadi istri, di manja apa di siksa?, rasain karma kakak kakak ipar yang loe siksa, itu rasanya"
"Hus... hus... hus... pergi sana, biar kampung ini ngak kena sial gara gara kalian"
__ADS_1
Banyak cacian dan hinaan yang di lontarkan oleh tetangga Bu Eni itu namun tidak ada satu pun yang bisa mereka jawab, dulu seenak jidatnya mereka menghina tetangga tetangga di sana, di bilang tidak selevel dengan dirinya, namun sekarang mereka merasakan bagaiman rasanya tidak selevel dengan mantan tetangga tetangganya itu, bagaimana rasa hina dan di maki oleh para mantan tetangga itu.
Pak Bandi, Bu Eni dan Rani, berjalan sedikit terburu buru, karena sakit mendengar hinaan dan cacian oleh para mantan tetangganya.
Bug....
Namun Naasnya Rani yang terburu buru malah tersandung batu, dan membuat dia jatuh tersungkur.
"Buahahaha....." pecah sudah tawa para mantan tetangga itu, melihat Rani yang terjatuh, bukanya merasa kasihan mereka semua, malah itu jadi hiburan buat mereka.
"Rani..." pekik Bu Eni, melihat anaknya terjatuh, Pak Bandi lansung menolong anaknya itu, dia melihat kaki Rani ke seleo, Pak Bandi lansung memapah Rani, meninggal kan tempat itu.
Mereka sudah jauh meninggalkan rumah itu, lelah dan haus kini sudah terasa, apa lagi matahari lumayan terik.
"Duduk di sana dulu pa?!" tunjuk Bu Eni di sebuah halte.
"Hmmm... baiklah, papa juga sudah capek, belum lagi memapah Rani" tutur pak bandi.
__ADS_1
"Lagian ini juga ke salahan papa, coba saja papa ngak bawa jal**g sialan itu pulang, ngak akan kita terusir dari rumah itu!" sungut Bu Eni yang masih belum sadar dengan kelakuannya.
"Sudah lah bu, jangan ribut, lagian memang seharusnya kita keluar dari rumah itu, itu bukan hak kita, itu rumah mbak Seli kok?!" jawab Rani yang mulai sadar sedikit demi sedikit, semenjak dia mendapatkan perlakuan kasar dari keluarga mantan suaminya itu.
"Ncek... mana ada begitu, dia kan sudah menikah sama abang kamu, ya sewajarnya lah rumah itu buat ibu yang sudah melahirkan abang mu itu!" sungut Bu Eni tidak tau malu.
"Sudah lah bu, emang benar kok yang di bilang oleh Rani, itu bukan milik kita, kita aja yang serakah, yang selalu memoroti harta mantan mantan menantu kita" sela Pak Bandi.
"Ah... kalian sama aja, ngak ada bedanya!!' kesal Bu Eni, dan berjalan mendahului Rani dan Pak Bandi dia lansung menghentakkan bokongnya dengan sedikit kasar ke tempat duduk di halte itu.
Pak Bandi dan Rani hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Bu Eni.
"Duduk di sini papa mau cari minum dulu" ujar Pak Bandi.
"Jangan hanya minum, sarapan sekalian, lapar ini, dari pagi belum sarapan!" dengus Bu Eni kesal.
"Iya..." jawab Pak Bandi seadanya.
__ADS_1
Bersambung....