Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 128


__ADS_3

"Bayinya sehat, detak jantung bagus, air ketuban cukup, apa Bapak Sama Ibu mau lihat jenis kelaminnya?" tanya dokter.


"Boleh dok" ujar Edo semangat dengan mata berbinar, tadi dia bisa mendengarkan detak jantung sang anak yang jedag jedug jedag jedug, membuat hatinya bergetar, dan kini di bisa melihat jenis kelamin sang anak.


Renata melihat antusias sang suami juga ikut mengulum senyum, dia tidak menyangka Edo akan se antusias ini, mengingat ke hamilan pertama dia, ah... sudah lah tidak perlu lagi mengingat apa yang sudah terjadi.


Layar monitor itu terus bergerak gerak mencari kelamin sang anak.


"Nah.... ternyata dia tuan putri Pak..." tutur sang dokter dengan ikut tersenyum bahagia.


"Benar kah, Alhamdulillah.... jadi sepasang anak kita sayang" ujar Edo mengecup pipi sang istri tanpa menghirau kan adanya dokter di sana.


Dokter terpaksa mesem mesem melihat tingkah Edo itu, akan tetapi dokter itu lebih suka melihat pemandangan seperti ini, dari pada kebanyakan hanya datang seorang diri, muka keruh sang suami, dan bahkan tidak perduli dengan janin yang ada di dalam rahim sang istri, melihat ke antusiasan Edo, dokter yang menangani Renata ikut bahagia dengan itu.


"Mas, malu ih..." sungut Renata malu malu di lihat oleh dokter dan perawat.


"Hehehe... maaf dok, kelepasan habisnya saya sangat senang karena mempunyai tuan putri jadi sepasang anak saya, tinggal nambah satu jagoan lagi" cengenges Edo.


"Membuat Renata melotot sempurna, bagaimana tidak, bayinya saja belum lahir suaminya sudah memikirkan tambah anak satu lagi, memang kadang kadang suaminya ini minta di pikuk kepalanya, dia pikir Renata itu kucing.


Dokter hanya bisa gelang geleng kepala, mendengar curahan hati Edo itu.


"Paling tidak di jeda 2th ya pak, kasian anak dan Ibu klau terlalu dekat" tutur sang dokter memberi penjelasan.


"Hehehe... Iya dok, ngak mungkin juga minta sekarang, kasian istri saya" cengenges Edo.


Perawat membersihkan sisa sisa jel di perut Renata, Edo pun ikut turuntangan membantu sang istri.

__ADS_1


"Apa ada yang masih di rasa selama hamil bu?" tanya Dokter kepada Renata.


"Sudah ngak dok, cuma makannya yang semakin *****" kekeh Renata mengingat pola makannya akhir akhir ini.


"Tidak Apa itu lebih bagus loh bu, ada kok yang hamil malah ngak bisa masuk makan sama sekali ujung ujung di rawat deh, kan kasian bayi dan Si Ibu kurang nutrisi" ujar sang dokter.


Renang dan Edo mengangguk membenarkan ucapan sang dokter.


"Karena ibu sudah tidak mual, saya tidak kasih obat mual, saya cuma kasih vitamin, jangan lupa minum susu, makan sayur sayuran, kacang kacangan dan buah buahan, makan ngak usah banyak tapi sering itu lebih bagus, karena kemilannya sudah masuk 6 bln, jadi akan gampang begah dan sesak.


Renang yang sudah paham lansung mengangguk tanda mengerti.


"Terimakasih dok..." ujar Edo dan Renata sebelum meninggalkan ruangan sang dokter, Edo selalu membantu sang istri.


"Kita ambil obat duku ya, adek duduk di sini, mas mau kasih resep dulu" ujar Edo.


Edo mengusap sayang puncak kepala sang istri sebelum dia ke apotek memberikan resep dokter, perilaku Edo tersebut tentu saja membuat iri dan juga baper orang orang di sana.


"Mau beli makan lagi ngak sayang?" tanya Edo setelah kembali dari apotek.


"Ngak ah... nanti aja lihat rujak bebeg di pinggir jalan" ucap Renata.


Edo mengangguk tanda paham.


"Mas...." panggil seseorang kepada Edo.


Tentu saja Edo jadi mematung melihat wanita yang berada di depan matanya itu.

__ADS_1


Renata menjadi bingung kenapa sang suami jadi tegang begitu, apa ada masalah dengan wanita yang ada di depannya itu, Renata lupa siapa suaminya sebelum ini.


Wanita yang Memanggil suaminya juga sedang hamil besar, membuat otak Renata sedikit traveling.


Apakah wanita hamil itu ada hubungan dengan sang suami, atau jangan jangan anak dalam kandungan wanita itu adalah anak suaminya, karena wanita itu hanya datang seorang diri, jantung Renata mulai berdetak tidak karuan, membayangkan semua itu, sungguh dia tidak sanggup menghadapi masalah di tinggal saat hamil oleh suaminya itu untuk ke dua kalinya.


Ingin rasanya Renata berteriak saat itu juga, namun dia masih punya kewarasan, ini di tempat umum dia tidak ingin menjadi pusat perhatian orang banyak.


"Mas... Siapa dia...?" tanya Renata memegang tangan suaminya yang masih setia mematung melihat wanita yang ada di depan sang suami yang juga ikut memandang suaminya itu.


Sungguh hati renata sakit melihat ini semua, beruntungnya sang anak tidak ikut, jadi Angga tidak melihat kejadian ini, yang akan membuat anaknya sakit hati dan kembali menelan kepahitan untuk ke dua kalinya.


"Ehhh... Sayang.... Maafkan mas?!" ujar Edo dengan sangat bersalah dan gelagapan.


Melihat Edo yang seperti itu, hati Renata semakin hancur, dia percaya anak itu adalah anak sang suami, dia tau suaminya itu dulu laki laki yang bagaimana, dia ceroboh kenapa mau mu saja menerima Edo kembali, sekarang dia kembali merasakan sakit yang sama untuk ke dua kalinya.


Bagaiman dia harus memberi tahu sang anak, dia takut anaknya terluka untuk ke dua kalinya, kepala Renata rasanya ingin pecah saat ini, hatinya sakit, bagaimana dia menjalani hari hari setelah ini, bagaimana anaknya, dia takut memberi tahu Angga dengan ke jadian ini.


"Sayang...." panggil Edo namun tidak di hiraukan oleh Renata, justru renata bengong pandangan matanya kosong, tiba tiba.


Brukkkkk...


"Sayaaaannnngggggg....." panggil Edo memekik melihat sang istri jatuh tak sadarkan diri.


"Sayang, bangun sayang, jangan kaya gini, jangan bikin mas takut sayang, Re.... bangun.." ujar Edo panik melihat sang istri, para tenaga medis bergerak dengan cepat membawa Renata ke UGD, Edo mengikuti brankar sang istri dari belakang dengan perasaan kacau, dua tidak lagi memperdulikan wanita tadi.


Dia mondar mandir di depan pintu UGD dengan tampang kusutnya dan mengacak acak rambut karena frustasi melihat keadaan sang istri, dia tidak mau terjadi apa pun kepada sang istri dan calon anaknya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2