Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 63


__ADS_3

"Do...." dari arah belakang sana, datang seorang wanita paruh baya, yang memanggil Edo, yang tak lain dan tak bukan dia adalah Bu Eni.


"Tumben mama ke sini?" tanya Edo yang bingung dengan tingkah sang mama, yang tidak biasa biasanya mendatangin dirinya ke tempat jualannya di pinggir jalan.


"Mama mau minta uang, mama bosan makan pakai telor mulu, mama pengen makan udang saus tiran, cumi lada hitam, nasi padang gitu" kesal Bu Eni yang belum melihat ke arah Renata.


"Ma.... mama kapan sih sadarnya, sudah susah kaya gini masih aja belagu pengen ini itu, apa salahnya makan pakai telor mah, masih bersyukur mama masih bisa makan, lihat orang di luar sana malah makan dua hari sekali" omel Pak Bandi.


"Diam kamu Pa....ini semua gara gara kamu, coba kamu ngak bawa perempuan sia**n itu kerumah! ngak akan kita jatuh miskin kaya gini!" omel Bu Eni kepada sang suami.


"Ma....sadar ma, sadar sebelum ajal menjemput, sadar Ma... dari kapan kita kaya, semua karena kelicikan kita yang memanfaatkan para menantu kita, bukan karena harta benda kita sendiri Ma... wajar lah yang punya minta di kembaliin hartanya" kesal Pak Bandi.


Bu Eni hanya mendengus kesal, mendengar celotehan sang suami, dan tidak sengaja matanya melotot melihat ke beradaan Renata dan anak kecil yang mirip banget dengan wajah Renata, namun anak itu laki laki.

__ADS_1


"Rena.... apa kah itu kamu, kamu makin cantik aja, apa kamu mencari Edo supaya kalian rujuk lagi, ah... syukurlah, jadi Mama bisa tinggal di rumah kamu, Mama ngak akan merasakan gatal gatal lagi" cerocos Bu Eni tanpa henti.


Membuat Renata hanya tersenyum miring dan geleng gelang kepala, melihat ke lakuan manta Ibu mertuanya yang kelewat pd itu.


"Ayo Re, ajak mama ke rumah kamu, kapan kalian akan menikah lagi, Mama sudah tidak sabar untuk pindah ke rumah kalian" ucap Bu Eni menggebu gebu.


Edo dan Pak Bandi di buat kesal dan malu dengan tingkah istri nya yang aneh bin ajaib ini, Bu Eni tidak perduli, dia mendekat ke arah Renata dan ingin memegang tangan Renata, dengan sigap Renata menghindar.


"Ya... Re... kenapa kamu menghindar, ayo kita ke rumah mu, ngak apa apa kamu masih mikir mikir nikahnya, yang penting mama sekarang tinggal sama kamu aja ya" semangat Bu Eni.


Wajah Bu Eni langsung suram mendengar ucapan Renata itu, tiba tiba kembali berbinar melihat Angga yang berada di samping Renata, dan memegang jari jari Renata.


"Haii....kamu pasti cucu nenek ya?" dengan tidak tau dirinya Bu Eni mencubit pipi Angga dan sedikit meninggal kan bekas di pipinya.

__ADS_1


Angga lansung mendesis karena perih, reflek Angga menampar tangan Bu Eni yang masih betah di pipi Angga itu.


"Ausss... kamu nakal banget sih, kenapa memukul tangan nenek, dasar anak kurang ajar" kesal Bu Eni, membuat Angga sedikit takut namun masih berdiri tegap di depan Bu Eni itu.


"Siapa suruh nenek cubit pipi aku, kan pipi ku jadi sakit" kesal Angga, Renata lansung kaget dengan ucapan sang anak, di memeriksa pipi Angga, yang memang ada bekas kuku Bu Eni di pipinya, membuat Renata meradang.


"APA YANG IBU LAKUKAN..." bentak Renata marah, karena pipi sang anak ada bekas kuku Bu Eni.


"Ncek... Mama cuma gemes doang, itu aja sampai heboh" cetus Bu Eni tanpa bersalah.


"MAMA APA APAAN SIH, MA....!!" bentak Pak Bandi dan Edo secara bersamaan.


Membuat Bu Eni terjengkit kaget.

__ADS_1


Renata lansung membawa Angga pergi dari situ tanpa mendengarkan teriakan orang orang di belakangnya, dia kesal anak kesayangan mendapat luka di pipinya, Renata yang membesarkan dan menafkahi Angga seumur umur belum pernah mencubit Angga sama sekali, membuat Renata ingin memaki orang orang itu, namun dia sadar ada anaknya yang mendengar umpatannya, lebih baik anaknya dia bawa pergi dari sana.


Bersambung...


__ADS_2