
"Dek, kamu yakin bisa mas tinggal di rumah" tanya Edo saat ini, berat rasanya dia mau meninggalkan sang istri dan anaknya, klau bukan karena pernikahan adiknya sungguh malas dia pulang ke kampung apa lagi mamanya yang selalu menjelek jelekan Renata.
"Bisa mas... di rumah juga ada ibu, ayah sama Bagus kok" ujar Renata membelai rambut suaminya yang sedang tidur di atas pangkuannya sambil mengecup ngecup perut Renata yang mulai membuncit itu.
"Tapi mas yang ngak mau pisah sayang" rengek Edo.
"Klau mas ngak pulang kan kasian Rani mas, dia berharap mas datang" bujuk Renata.
"Huufff.... Baiklah... kamu hati hati di sini sam Angga ya, mas paling 3 hari di sana" ujar Edo.
"Iya bawel" Renata menjawir pipi suaminya dengan gemas.
"Minta vitamin dulu sayang" ujar Edo lansung menyesap bibir sang istri tangannya juga ikut berkelana ke dalam baju sang istri.
Sementara di luar, Lila dan Heru mendengus kesal dengan abangnya itu.
"Dasar abang ngak ada akhlak emang, di tungguin malah lama banget keluarnya, gerutu Rani.
"Sudah kalian makan aja dulu, dari pada nungguin abang kalian yang lagi kasmaran itu" ujar Ibu Renata terkekeh, dia sudah paham betul dengan tingkah menantunya itu, yang tidak mau jauh jauh dari Renata, apa lagi semenjak Renata hamil sudah pasti dia semakin menempel.
"Iya Bu..." ujar Rani dan Heru patuh.
"Oh... Iya itu ada sedikit oleh oleh buat di bawa ke kampung, jangan lupa di masukin ke mobil" ujar Ibu Renata.
__ADS_1
"Ya ampun bu... kok repot repot segala" ujar Rani tidak enak hati dengan orang tua kakak iparnya itu.
"Ngak repot kok, cuma itu uang bisa ibu kasih, kan ibu ngak bisa menghadiri pernikahan Rani, jadi sekalian nitip kado buat Rani" ucap Ibu Renata itu.
"Makasih banyak ya bu, udah banyak ngerepotin ibu dan keluarga Ucap Heru tidak enak hati.
"Apa sih kalian ini! kita kan keluarga, jadi ngak usah pakai ngak enak hati segala" tutur Ibu baik itu.
Sementara di dalam kamar, Edo tersenyum riang karena sudah mendapatkan jatahnya.
"Sudah puas" kekeh Renata yang masih polos itu.
"Belum sih, tapi kasian kamu sayang" ujar Edo dengan tangan nakalnya masih merayap kemana mana dan bibirnya kembali mencucup gunung kembar sang istri.
"Dasar... sama anak aja iri" sewot Renata.
Edo hanya terbahak dengan ocehan sang istri.
"Ayo mandi, nanti telat loh, aku rasa pasti Lila sudah mengomel di luar" ujar Renata yang mau beranjak dari kasur.
"Nanti dulu sayang, sekali lagi ya, main cepat aja, lihat ini" tunjuk Edi ke arah burung perkututnya yang sudah berubah bentuk dan membalikan sang istri, dia lansung menyerang istrinya yang sedang menungging itu.
"Dasar suami ngak ada puasnya" gerutu Renata yang pasrah dengan suami nya itu.
__ADS_1
Edo keluar dari kamar dengan wajah yang segar dan senyum manisnya.
"Dasar abang ngak ada akhlak, kita di suruh pagi pagi ke sini, tapi jam 9 baru keluar dari kamar" kesal Lila.
"Ncek abang ngantuk" elak Edo dia lansung berjalan ke meja makan mencari makanan di sana, ternyata habis bercocok tanam itu juga membuat perut lapar.
Renata juga menyusul Edo ke meja makan, dia juga sudah merasakan lapar dari tadi sebenarnya, namun suami mesumnya itu tidak melepaskannya barang sebentar.
"Sinih sayang mas suapin" ujar Edo memanggil sang istri.
Renata dengan patuh berjalan ke arah suaminya itu, dengan telaten Edo menyuapi sang istri dan juga dirinya sendiri, di balik tembok sana, senyum Ibu Renata tersungging ke atas dan matanya berkaca kaca, pada akhirnya anaknya mendapatkan kebahagian dari laki laki yang dulu pernah menorehkan luka di hati anaknya itu dan kini dia pula yang menyembuhkan luka anak perempuannya itu.
"Abang berangkat ya... kamu jaga diri, jangan banyak gerak, jangan ke toko, Angga minta golong di antar sama Ayah aja ya, kamu jangan kemana mana" ujar Edo mewanti wanti sang istri.
"Iya mas, mas hati hati, jangan ngebut ngebut bawa mobilnya, salam sama Papa, mama dan Rani, aku ngak bisa datang" ucap Renata dengan perasaan bersalah.
"Iya nanti di sampaikan, ngak usah di pikirin, mereka juga tau kok kamu ngak bisa pergi jauh jauh" ucap Edo menenangkan sang istri.
Edo memeluk sang istri dan mengecup singkap kening istrinya sebelum berangkat.
"Dada.... kak..." Lila melambaikan tangannya dan terdengar klason mobil berbunyi.
Tit... tit...
__ADS_1
Dan mobil Edo mulai bergerak meninggal kan pekarangan rumah Renata tersebut.