Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 127


__ADS_3

Edo melajukan mobil ke sekolah Angga terlebih dahulu sebelum dia mengantar sang istri ke rumah sakit.


"Abang nanti tunggu Ayah sama bunda jemput ya, jangan mau di ajak orang asing, selain keluarga kita" ujar Renata mengelus kepala sang anak.


"Siap Bunda..." sahut Angga sambil memberi hormat ala ala tentara.


Renata dan Edo terkekeh dengan tingkah anak pertamanya itu.


"Ya sudah masuk sana, belajar yang pintar, ngak boleh nakal, dengarin guru lagi nerangin pelajaran biar di kasih tugas ngak nanya nanya lagi" Ujara Ibu hamil yang mendadak jadi cerewet itu.


"Siap kanjeng Ratu..." ujar Angga berlari masuki sekolahnya, sebelum itu tentu saja dia menyalimi Ayah dan Bundanya.


Edo kembali melajukan mobil menuju rumah sakit, mengantar sang istri.


"Ada yang mau di beli sayang?" tanya Edo takut istrinya pengen membeli sesuatu, karena ibu hamil itu ***** makannya meningkat 2x lipat.


"Ngak ada mas, pengen jajan di kantin rumah sakit aja, pengen pie susu di sana" tutur Renata.


Edo mengangguk tanda mengerti, lansung melajukan mobil dengan kecepatan sedang, beruntung pagi ini jalanan belum padat, jadi mereka sampai di rumah sakit tidak memakan waktu yang lama.


"Duduk di sini, mas mau daftar dulu" ujar Edo menyuruh sang istri duduk di bangku yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.


Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, barulah Edo pergi mendaftarkan sang istri.


"Kursinya kosong mba?" tanya seorang ibu hamil menghampiri Renata.


"Ohhh... Kosong mbak duduk aja" ucap Renata dengan sopan.


"Makasih mbak" ujarnya lagi.


"Sama sama" jawab Renata.

__ADS_1


"Sudah berapa bulan mbak" tanya Ibu hamil itu kepada Renata.


"Lima bulan jalan enam mbak, klau mbak udah berapa bulan?" jawab Renata sekaligus bertanya.


"Ohhh... Baru masuk tiga bulan mbak" ucap ibu hamil itu.


Renata mengangguk tanda mengerti.


"Duluan ya mbak, suami saya sudah selesai" ujar Ibu hamil itu.


"Oohhh iya mbak, silah kan" ujar Renata dengan sopan.


Beberapa saat berlalu, Edo pun menghampiri sang istri.


"Ayo sayang, kita poli kandungan, apa mau jajan dulu" tawar Edo.


"ke kantin dulu mas, abis itu baru ke poli kandungan, paling dokternya juga belum datang" ucap Renata berdiri dari duduknya di bantu oleh Edi.


"Ternyata kamu bisa romantis juga ya mas dengan wanita yang kamu cintai, tapi bagaimana dengan keluarga serakah kamu itu" ujar seseorang yang ada di ujung sana, menatap Edo dengan tatapan sulit di artikan.


Sementara itu Edo dan Renata berjalan sambil bergandengan tangan, tidak merasa sesuatu apa pun, tepatnya Edo yang posesif tidak mau melepaskan sang istri, takutnya istri cantiknya yang berubah seperti ikan kembung itu terjatuh ke senggol orang atau terpeleset.


"Mau beli apa sayang?" tanya Edo saat sampai di kantin.


"Mau jus mangga, pie susu, risoles mayo, nasi bakar, jangan lupa sama air mineral"


Sekarang permintaan ibu hamil itu bukan hanya pie susu tapi segala macam makanan sudah dia sebut, Edo hanya terkekeh dengan permintaan sang istri dan lansung memesannya tanpa tawar menawar, bisa panjang urusannya klau menolak permintaan ibu hamil itu.


"Sudah, ada lagi ngak?" tanya Edo takutnya ibu hamil itu ada lagi yang mau di pesan.


"Ini aja" sahut Renata.

__ADS_1


Mereka kembali ke poli kandungan menunggu antrian Renata di panggil.


"Lumayan rame juga hari ini ya mas, ngak kaya biasanya" ujar Renata melihat kursi pasien poli kandungan itu tampak hampir penuh.


"Huum..." jawab Edo, melihat sekeliling yang memang benar adanya


"Duduk sini sayang" ujar Edo menyuruh sang istri duduk di sebuah kursi kosong di pojokan karena hanya itu satu satunya yang tersisa.


"Mas dimana?" tanya Renata karena sudah ada lagi kursi yang kosong"


Mas mah gampang bisa di sini" tunjuk Edo di lantai samping sang istri.


Renata mengangguk tanda mengerti memang tidak ada lagi kursi kosong, lagian lantai ruang poli itu juga bersih.


"Mau minum jus dulu?" tanya Edo menyodorkan jus kepada sang istri.


Renata mengambil dengan senang hati, setiap gerak gerik Edo dan Renata tak lepas dari pandangan seseorang di sana.


"Lihat apa sih sayang, kok dari tadi matanya sibuk merhatiin orang itu?" tanya suami perempuan itu.


"Itu...." tunjuk sang perempuan.


"Woalah ada mantan kamu toh, mau di samperin, mau di hajar" ujar sang suami.


Wanita itu hanya terkekeh mendengar ucapan sang suami.


Sementara itu Edo asik memijit mijit kaki sang istri, walau Renata tidak meminta sama sekali.


"Mas sudah ihhh... malu tau" ujar Renata, yang tidak enak hati di lihatin oleh orang orang di sana.


"Biarin aja sih, mas kan mijitin istri mas sendiri, bukan orang lain" sahut Edo masa bodo.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2