Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 53


__ADS_3

"Hua... Ibu ngantuk pa!" benar saja, selesai makan Bu Eni lansung menguap, dan ingin tidur.


"Ya sudah, Mama tidur aja dulu, papa mau nonton" seru Pak Bandi, sejujurnya buka tontonan yang dia inginkan, tapi menunggu manta menantu yang belum pulang, membuat dia sedikit kesal.


"Ya sudah... mama tidur dulu ya..." Bu Eni beranjak dari ruang makan dan pergi meninggal kan suami nya di meja makan seorang diri, tanpa membersihkan meja makan terlebih dahulu.


"Hmmm..." jawab Pak Bandi yang masih asik merokok di sana.


"Ncek... kemana sih, kamu sayang, pengen di gempur sampai pagi kamu kali ya " oceh Pak Bandi, meninggalkan ruang makan dengan banyak bungkus nasi goreng dan abu rokok yang berserakan di ruang makan itu.


Dia keluar dan melihat di pagar rumahnya ke arah jalan, sampai kakinya pegal orang yang di tunggu tidak jua menapakan batang hidungnya.


Akhirnya Pak Bandi memilih masuk ke dalam rumah, karena sudah tidak tahan dengan hawa dingin dan banyaknya nyamuk menggigit tubuhnya.


Baru juga ingin menyusul sang istri ke dalam kamarnya, mau di hiya hiyain, walau sang istri tidur pulas yang penting dia bisa kuda kudaan sendiri, namun langkahnya terhenti mendengar pintu rumahnya di ketok orang.


Tok..


Tok..


Tok...

__ADS_1


Dengan semangat empat lima, Pak Bandi berjalan membuka pintu, berharap seli yang pulang, dengan senyum mengembang dia membuka pintu rumahnya itu.


Ceklek...


Senyum yang tadi tersungging indah kini luntur, dengan wajah kaget.


"Rani... kenapa kamu pulang ke rumah, mana sudah malam lagi, lah ini kamu kenapa berantakan gini!" pekik Pak Bandi melihat ke adaan Rani yang tidak berbentuk dan tubuh kurusnya.


"Pa, kasih masuk dulu pa" pinta Rani dengan wajah memelas.


"Ha... iya, masuk sana?!" Pak Bandi lansung menggeser tubuhnya.


"Kamu kenapa, kok kamu bisa seperti ini?" tanya Pak Bandi.


"Ini semua gara gara Papa... papa yang berhutang aku yang nanggung penderitaan nya" kesel Rani menangisi nasib nya.


"Ncek... kamu ngapain nyalahin papa, kan kamu sendiri yang juga mau di ajak nikah sama laki laki itu" kesal Papanya.


Memang iya, saat Pak Bandi terlilit utang sama rentenir, dan Rani memang ada hubungan gelap juga sama Rentenir itu, dan saat itu Rani di manjakan, dan sering di kasih banyak uang sama suami siri nya itu, dan dia menawarkan diri menjadi istri ke tiga laki laki yang sudah mempunyai dua istri yang lebih cantik dari Rani walaupun dia sudah tua, wajah mereka tetap cantik, seakan akan menolak tua.


Rani terdiam saat itu juga, menyesal dia mau menikah dengan laki laki kelainan se* itu.

__ADS_1


"kamu kenapa bisa begini?" tanya Pak Bandi melihat wajah lusuh sang anak.


"Aku di rumah itu di paksa melayani suami ku, sampai pagi, kadang di saat berhubungan suka memukul, dia mengikat aku, dan menggigit aku pa, dan paginya aku di siksa sama istri istrinya untuk membersihkan rumah mereka, aku di kasih makan sekali sehari, suami aku semenjak aku masuk ke rumah itu juga selalu kasar sama aku, dia bilang aku hanya buat pelunas hutang, jadi istri istrinya boleh menyiksa ku, saat aku mengadu pada suamiku, bukannya membela aku, malah dia ikut memukul ku, aku sudah tidak tahan di sana, aku mau kabur ternyata ketahuan oleh istri istrinya, dan mereka melaporkan aku sama suamiku, suamiku murka dan memukul aku, trus menggauli aku dengan kasar, setelah itu dia menalak ku pa hiks... hiks..." Rani mengandu kepada papanya.


Pak Bandi hanya bisa menghela nafas sesak mendengar cerita anaknya, ada sesal yang membiarkan anaknya menikah dengan rentenir itu, dia juga sudah mendengar banyak cerita di luar sana, namun karena anaknya bersikeras ingin menikah dengan laki laki itu, apa lagi melihat menantunya juga royal kepada anaknya, akhirnya dia menyetujui pernikahan Rani.


"Rani juga sering di gilir sama anak anaknya yah, Rani di perlakukan seperti binatang" adu Rani.


Duar...


Sakit sungguh sakit hati Pak Bandi mendengar cerita anaknya, ingin rasanya dia membunuh mantan menantu yang seusia dengan pak Bandi itu, tapi mana berani dia, bisa habis dia di tangan anak buah mantan menantunya itu.


"Kamu sudah makan...?!' tanya Pak Bandi lembut


"Belum dari kemarin" ucap Rani sesegukan.


"Bersihkan badan kamu, setelah itu makan, di belakang ada nasi goreng, makan lah, trus tidur" titah Pak Bandi menatap iba kepada anak ke duanya itu.


Rani beranjak masuk ke dalam rumah nya, dan Pak Bandi menatap punggung ringkih anaknya yang sudah kehilangan semangat hidup itu, dengan perasaan berkecamuk, sungguh hatinya sakit melihat keadaan Rani saat ini, mana anak perempuannya yang satu lagi tidak tau rimbanya, belum lagi Heru yang juga jarang pulang akhir akhir ini.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2