Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 75


__ADS_3

"Ayah... nanti kita berenang di pantai ya, kita main kejar kejaran ya Yah..." pinta Angga kepada sang Ayah, memang hari ini keluarga Renata pergi berlibur ke pantai.


Bukan tanpa sebab mereka berlibur ke pantai,


dari dulu bocah itu ingin berlibur ke pantai bersama anggota ke luarganya, dan baru kali ini terlaksana, karena ke sibukan Ayah dan Bundanya.


"Baiklah... apa pun yang adek mau akan Ayah turuti, hari ini Ayah milik adek" tutur Edo sambil tersenyum kepada sang anak, di sela sela dia menyetir mobil.


"Yeeeyy.... Ayah yang terbaik, aku sayang Ayah...." girang Angga bertepuk tangan, ingin memeluk sang Ayah namun tak bisa, karena Ayahnya sedang menyetir.


Renata, Edo dan yang lain tersenyum haru melihat kebahagian Angga.


Tak henti hentinya anak itu berbicara, bertanya ini dan itu dan mengutarakan keinganannya bermain di pantai.


Dua jam berlalu sampailah mereka di pantai yang sangat indah, dan Angga lansung berlari riang mengejar bibir pantai itu.


"Angga tunggu nak... jangan pergi sendiri, itu bahaya sayang..." teriak Edo cemas, anaknya itu terlalu aktif, akhirnya Edo juga ikut berlari mengejar anaknya, dan di ikuti rombongan keluarga Renata berjalan santai menuju tempat Anak dan Ayah itu.


Mereka menggelar tikar di bawah pohon rindang di pinggir pantai itu, menarik semua barang bawaannya.


"Pergi lah, susul anak mu Re, dia ingin bermain bersama Ayah dan Bundanya" tutur sang Ibu.


"Iya Bu...." jawab Renata, dan dia lansung berjalan ke arah anak dan mantan suaminya.


"Bunda.... sini....!" teriak Angga memanggil sang Bunda.

__ADS_1


Renata tersenyum dan menghampiri sang anak.


"Adek... ngak buka baju dulu, biar enak buat berenangnya?" tanya Renata.


"Ngak Bun... pake baju ini aja, bolehkan Bun...?" tanya Angga.


"Ya udah... boleh..." sahut Renata.


"Ayah... kejar aku....!" Angga berlari di bibir pantai itu dengan kencang dan di susul oleh Edo.


"Ayah... payah... masak ngak bisa kejar aku...!" ledek Angga kepada sang Ayah, yang masih jauh tertinggal di belakangnya.


Bukan Edo tak mampu mengejar sang anak, namun dia membiarkan anaknya menang agar sang anak bahagia.


"Klau ke tangkap sama Ayah jangan nangis ya...!" teriak Edo dari belakang.


"Ngak akan, coba kejar aku...." teriak anak itu dengan wajah tengil nya.


"Ya udah, ini Ayah mau kejar kamu, ayo... lari lebih kencang lagi, biar Ayah tangkap" teriak Edo.


Angga semangat lari lebih kencang lagi, membuat anak itu ngos ngosan.


"Ayah mulai ya dek.... Ayah hitung nih..." teriak Edo.


"Iya kejar lah...." balas Angga juga berteriak.

__ADS_1


Satu....


Dua...


Tigaaa.....


Edo menghitung dan lansung berlari mengejar Angga.


Hap....


"dapat....." pekik Edo lansung menggendong sang anak di bahunya.


"Ahahaha..... ternyata aku bisa ketangkap sama Ayah" kekeh Angga di atas bahu sang Ayah.


"Iya dong, Ayahh..." sombong Edo dan membawa kembali Angga ke arah keluarga Renata yang sedang duduk santai di bawah pohon besarnya di pinggir pantai itu.


"Saya senang melihat Angga bahagia seperti ini" ucap Paman Renata.


"Iya, setidaknya anak itu, sudah merasakan kasih sayang ke dua orang tuanya, walaupun mereka tidak bisa berkumpul seperti anak anak lainnya, namun dia tetap bahagia, dan mengerti dengan ke adaan orang tuanya, dia tidak banyak menuntut, hanya hal hal kecil seperti ini yang dia ingin kan." tutur Ayah Renata itu.Dan di anggukin yang lain.


"Makasih Diman, Darmi kalian sudah menjaga Renata selama ini, dan selalu ada di setiap sudah dan senangnya Renata" tutur Ayah renata itu.


"Tidak perlu berterima kasih, Renata sudah saya angga anak sendiri kok mas" jawab Pak Diman tersenyum.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2