
"Angga senang nak?" tanya Edo kepada sang anak.
"Iya, aku sangat, sangat senang Yah... dulu aku hanya jadi pendengar saat teman teman ku bercerita, sehabis mereka berlibur bersama keluarganya, ada Ayah dan Ibunya, dan sekarang aku merasakannya, ternyata benar kata teman temanku, klau kita liburan bersama orang tua itu menyenangkan" ucap Angga dengan mata berbinar dan tersenyum bahagia.
"Maaf, maafkan Ayah, nak." ucap Edo dengan suara tercekat, dia menyesal telah membuat kebodohan dalam hidupnya, selalu mengikuti kemauan sang Mama hingga membuat rumah tangganya berkali kali kandas, akibat campur tangan orang tuanya, sekarang bukan hanya dia dan mantan istri saja yang terluka, namun ada anak juga yang ikut terluka, gara gara mengikuti ke egoisan sang Mama.
"Ayah tidak salah" ucap Angga dan memeluk tubuh Ayahnya, dia tau Ayahnya sedih dan menyesal, bocah itu bisa melihat raut wajah sang Ayah tidak baik baik saja.
Edo membalas pelukan hangat sang anak, dia mengecupi seluruh wajah anaknya.
"Ayah sayang Angga, maafin Ayah..." ucap Edo serak.
"Angga juga sayang Ayah dan Bunda banyak banyak, Ayah jangan minta maaf terus" tutur anak kecil itu bijak.
"Nanti kita pergi liburan lagi, klau Angga libur sekolah, dan Bunda ada waktu luang, kita Libur bareng lagi, Angga boleh pilih kemana pun Angga mau" tutur Edo.
"Beneran Yah... Ayah ngak bohongkan" tanya anak itu, menatap Ayahnya penuh binar.
__ADS_1
"Iya, Ayah janji..." ucap Edo memberikan jari kelingkingnya.
"Yeeeee...." sorak Angga ke girangan dan meloncat loncat tanda anak itu bahagia.
Renata dan keluarganya tersenyum haru melihat itu semua, mereka tau Angga sangat bahagia setelah bertemu sang Ayah, apa lagi Edo juga memanjakan anaknya itu, dan selalu mengantar jemput Angga pergi dan pulang sekolah, ke tempat les dan mengaji, selalu mengajak Angga untuk sholat berjamaah ke mesjid.
Melihat perubahan sang mantan menantu, dan juga melihat kebahagian cucu satu satunya membuat Ayah Renata itu turut bahagia.
"Re..." panggail sang Ayah.
"Iya yah... asa apa?" tanya Renata melihat ke arah sang Ayah.
"Ngak Yah" ucap Renata menggelengkan kepalanya.
"Kenapa..? bukannya Edo sudah banyak berubah, dan lihat Angga sangat bahagia bersama Ayahnya.
"Mas Edo memang sudah berubah, tak di pungkiri ke hadiran Mas Edo membuat Angga semakin bahagia, tapi... masalahnya bukan itu saja Yah..." ucap Renata.
__ADS_1
"Lalu apa?" tanya Ayahnya yabg belum mengerti.
"Keluarganya Yah... Mama, papa dan adik adik belum tentu berubah, aku ngak mau Angga terluka gara gara itu, memeng Mas Edo sudah banyak berubah, dan dari awal memang dia sangat baik, makanya aku mau menerima lamaran dia, tapi pengaruh orang tua dan adiknya, membuat pernikahan aku tidak bertahan lama" tutur Renata.
Ayah Renata mengangguk paham, dia lupa Edo masih mempunyai ke luarga, karena senang melihat cucu satu satunya bahagia, dia lupa soal itu"
"Biar lah seperti saja Yah... yang penting Angga masih tetap dapat kasih sayang sadari kami" ujar Renata.
"Iya.. maafkan Ayah nak... Ayah melupakan hal itu, Ayah hanya melihat wajah bahagia cucu Ayah saja" sesal sang Ayah.
"Tidak apa, wajar kok Ayah bertanya dan memberikan saran, itu ngak salah kok" jawab Renata memeluk tangan sang Ayah.
"Apa kamu ngak ada niatan buat nikah lagi Re...?" tanya Bi Darmi.
"Belum ada Bi, selain trauma, aku juga memikirkan ke bahagian Angga Bi, ngak semua orang bisa menerima status janda, apa lagi mempunyai anak, ok... lah, laki laki nya mau, belum tentu keluarganya bisa menerimanya bukan?" jawab Renata.
Keluarga Renata itu mengangguk paham, dia tidak akan memaksa Renata soal itu, mereka cukup tau apa yang di alami oleh Renata, selama ini, dan bagaimana Renata banting tulang mencari nafkah.
__ADS_1
Lama mereka bermain di pantai, hingga matahari terbenam baru lah mereka pulang ke rumah
Bersambung...