Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 86


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa Rani sehabis sholat subuh dia memasak untuk orang rumah walau dengan menu sederhana, dia masak sekalian untuk makan siang mama dan papanya.


Jangan di tanya mamanya ada di mana, sudah pasti masih bergelung di bawah selimut tebal.


Sedangkan Pak Bandi, sibuk membantu anaknya membersihkan rumah, jangan di harap sang istri mau membatu beres beres rumah, dari dulu pun tidak pernah mau membantu pekerjaan rumah.


Selesai memasak, Rani gegas ke kamar untuk bersiap siap berangkat kerja.


"Ran, sarapan dulu" ajak Pak Bandi memanggil Rani yang masih sibuk berganti pakaian.


"Iya Pa... ntar lagi Rani selesai" sahut Rani dari dalam kamar.


Pak Bandi yang sudah mendengar sahutan dari sang anak, dia lansung menuju meja makan, tanpa membangunkan sang istri, klau di bangunkan juga percuma, yang ada pagi pagi sudah ngajak ribut.


"Ran... ini ada uang, nanti kamu belanja kebutuhan rumah ya, papa lihat sudah pada abis" ucap Pak Bandi menyodorkan beberapa lembar uang kertas merah ke arah sang anak.


"Ngak usah Pa... pakai uang Rani aja, Rani masih punya uang kok, kemaren Rani juga dapat uang tips dari pelanggan, jadi uang ini papa simpan aja" tolak Rani.


"Tapi..." belum sempat pak Bandi menjawab Rani sudah kembali menyela.


"Pegang aja uang ini sama papa, kan papa lagi mau bikin kandang ayam dan mau beli anak ayam dan juga mau beli bibit sayuran" ucap Rani.


"Baik lah nak, papa ambil uangnya, tapi nanti klau usahanya sudah berhasil, kamu jangan menolak klau papa kasih uang" ucap Pak Bandi, dia sebenarnya tidak enak hati selalu merepotkan sang anak untuk menafkahi dirinya, belum rasa bersalah sudah menghancurkan masa depan anaknya itu.


"Iya pa... itu pasti, masa usahanya berhasil Rani ngak nyicipin hasilnya, oohhh.... tidak bisa" jawab Rani cengengesan.


Pak Bandi ikut tersenyum mendengar celotehan anaknya itu.

__ADS_1


"Ya udah ya Pa... Rani jalan dulu, takut Dewi sudah nungguin Rani" ucap Rani meminta izin kepada Papa nya dan menyalim takzim tangan papanya itu.


"Iya... kamu hati hati ya nak" ucap Pak Bandi, mengantarkan anaknya sampai ke teras rumah.


Rani berajalan menyusuri jalan setapak untuk mencapai ke jalan raya yang tidak begitu jauh dari rumah nya, dan ternyata dia berpapasan dengan Doni yang akan ke rumahnya.


"Ran... mau berangkat kerja?" tanya Doni.


"Iya bang... abang mau ke rumah" tanya Rani sopan.


"Iya..." ucap Doni dan tersenyum manis ke rani.


"Ooh... iya bang, klau gitu saya jalan dulu, papa sudah nunggu abang tuh..." jawab Rani.


"Iya... hati hati ya Ran..." Doni


Rani melanjutkan langkah nya ke pinggir jalan raya.


"Ran..." panggil Dewi yang sudah berada di sana.


"Loh... Dew... loe sudah dari tadi?" kaget Rani sekaligus tidak enak hati, karena Rani sudah duluan sampai di sana.


"Belum kok, baru juga nyampai" jawab Dewi.


"Ya udah yuk.... jalan" ajak Rani.


"Pakai helm dulu neng" Dewi menyodorkan helm ke tangan Rani.

__ADS_1


"Hehehe... iya lupa" ucap Rani cengengesan, dan lansung menerima helm tersebut lansung memakainya.


Dewi melakukan motornya agak sedikit kencang, memanglah Dewi orangnya membawa kendaraan tidak bisa santai selalu buru buru.


"Wi... loe bawa motor ngebut mulu sih" teriak Rani agar Dewi mendengar ucapannya.


"Gue klau ngak ngebut, ngak bisa" balas Dewi ikut berteriak.


Rani akhirnya hanya diam tak membalas ucapan Dewi lagi, dia malah asik menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang memanjakan matanya.


Tak selang lama sampai lah di toko tempat Rani dan Dewi bekerja. Toko itu juga belum buka karena bosnya belum datang namun karyawannya sudah duduk santai di sana.


"Waahhh... si pembalap kita sudah datang!" pekik Tika dan di tatap malas oleh Dewi.


"Ohh... ini anak baru yang kemaren banyak jual produk itu ya" ucap Salah seorang karyawan laki-laki yang memang belum berkenalan dengan Rani.


"Iya bang..." ucap Rani sopan.


Karyawan itu hanya mengangguk dan tersenyum ramah.


"Tetap semangat ya, semoga bulan depan kamu dapat bonus banyak" ucaonya lagi.


Rani hanya mengangguk saja, dia memang belum tau perihal ada bonus di toko itu, yang Rani tau baru gajinya saja.


Tak lama menunggu bos mereka datang dan menyerahkan kunci ke karyawan laki laki itu, karyawan lansung membuka pintu toko tersebut, karyawan yang lain ikut masuk dan memulai aktifitas mereka di toko itu, mengeluarkan elektronik dan memajangnya di depan toko dan membersihkan dari debu, semuanya bekerja tanpa ada canda sedikit pun, mereka melakukan tugas tugas mereka dengan tekun sambil menunggu para pelanggan datang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2