Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 55


__ADS_3

"Kami di minta oleh Tuan kami untuk mengosongkan rumah ini" ucap para laki laki yang berbadan besar dengan tatapan sangar, membuat Bu Eni bergidik ngeri.


"A-apaa..." pekik Bu Eni kaget


"Apa anda tidak mendengar ucapan saya tadi" preman tersebut melotot melihat ke arah Bu Eni membuat kakinya gemetaran.


"Saya tidak pernah menjua rumah ini, ini rumah saya...!!" kekeh bu Eni.


"Ncek... emang kau yang punya ini, kau hanya menumpang di rumah ini, yang punya nya sudah menjual ke bos kami, ibu Seli Anggita" tutur preman tersebut.


"A-apaa....!! itu ngak mungkin, suratnya masih di saya, kenapa bisa sama kalian!!" teriak Bu Eni prustasi.


"Ncek... ngak usah mengada ngada nenek peot, ini foto copy suratnya, dan yang asli ada sama bos kami, jadi gimana? haa...!!" marah preman yang sudah tidak sabar menghadapi bu Eni.


"Ini tidak mungkin...! surat nya ada sama saya...!!" tolak bu Eni.


"Klau memang ada, bawa ke sini, klau anda tidak bisa memberikannya, jangan salahkan kami melempar anda keluar!!" garang preman itu.


"Baik lah... kalian tunggu di sini, aku akan mengambil surat suratnya!" ucap Bu Eni, gegas ke dalam rumah, mau mencari surat surat tanah, yang dia yakin, dia sudah menyimpan surat itu dengan benar.


"Ada apa sih... bu, suara ribut ribut di luar" tutur si bapak yang baru bangun dari tidurnya, dia kebelet ke kamar mandi, namun yang dia dengar istrinya lagi teriak teriak di luar sana, entah dengan siapa.

__ADS_1


"Itu pak ada orang yang ngaku ngaku, sudah membeli rumah ini dari Seli" ucap sang Istri.


"APAAA...." Pak Bandi tidak kalah kaget, mendengar ucap sang istri, matanya yang tadi masih mengantuk, lansung melotot, rasa kantuk tadi hilang entah kemana.


"Bapak lihat aja ke kuar, itu orang rame banget lagi, mana badannya serem serem, ibu mau ke dalam nyari surat rumah ini!" tutur Bu Eni, sambil melangkang ke dalam kamarnya.


Pak Bandi lansung ke luar menemui orang orang suruhan suami Rina, sementara Bu Eni masuk ke dalam kamar, untuk mengambil surat rumahnya.


Ceklek...


Bu Eni membuka pintu lemari, dan mencari apa yang dia cara, namun tidak ada yang dia temukan, malahan bu Eni di buat kaget kotak perhiasannya hilang tidak ada yang bersisa satu pun.


"Ada apa ma...?" tanya Rani masuk ke dalam kamar mamanya. karena kaget mendengar jeritan sang mama.


"Barang barang mama hilang Ran hu.... uu...." Bu Eni terus menangis dan kekesotan di lantai seperti anak kecil dan menjambakin rambutnya.


"Kenapa Ma...?" tanya Pak Bandi yang juga ikut masuk, mendengar jeritan sang istri.


"Semuanya hilang pa... semuanya di curi sama Seli pa, hu.... uuu...." Bu Eni terus menangis dan menuduh Seli mencuri di rumah itu, padahal dia yang mengambil harta orang.


Pak Bandi juga jatuh merosot, mendengar ucapan sang istri, dia tidak menyangka, Seli akan melakukan semua itu.

__ADS_1


"Ini salah Papa, kenapa papa bawa perempuan pembawa sial itu pulang, klau ngak papa bawa di ke rumah ini ngak mungkin kita akan ke hilangan rumah dan barang berharga kita! huu.... uuu...." jerit Bu Eni.


Para preman yang tidak sabar menunggu akhirnya menerobos masuk ke dalam rumah itu.


"Bagai mana? tidak ada kan, sekarang silahkan keluar, kalian tidak di perbolehkan membawa apa pun dari rumah ini, selain pakaian kalian!!" bentak preman itu.


"Ini ngak benar pak, kami di maling pak" kekeh Bu eni.


"Brak......"


Preman tersebut menggebrak pintu dengan keras, membuat Bu Eni, Pak Bandi dan Rani terlonjak kaget.


"Dasar manusia tidak tau diri, kalian yang merampas hak orang, kalian yang merasa terzolimi, keluar kalian sekarang juga...!! apa perlu kami seret kalian dengan paksa!!" ancam para preman itu.


"Iya iya, beri kami waktu untuk mengambil baju baju kami" ucap Pak Bandi pasrah.


"Cepatan, kami kasih waktu 10 menit...!" titah preman itu.


Dengan berat hati Bu Eni, Pak Bandi dan Rani keluar dari rumah itu dengan perasaan kacau, dan belum lagi di sorakin oleh warga.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2