Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 6


__ADS_3

Hari ini adalah hari keberangkatan Renata ke jakarta, dia berangkat di terminal Bus antar kota.


Sungguh Renata sangat sedih jauh dari keluarganya, namun karena keinginan merubah nasib, mau tak mau dia harus berpisah sementara waktu dengan keluarga nya itu.


Jaga diri di rantau orang ya nak, baik baik tinggal sama Bibi, semoga kamu cepat dapat kerja di jakarta ya, biar tidak lama merepotkan Bibimu" ucap sang Ibu memeluk Renata.


Iya Bu... Ibu Do'ain aku terus ya bu" pecah sudah tangis Renata.


"Kakak baik baik di rantau orang ya, jangan lupain aku di sini, selalu kasih kabar?!" ucap Bagus adik Renata.


"Iya dek, kamu jaga Ibu sama Ayah di rumah ya, jangan banyak main, bantuin Ayah sama Ibu" ucap Renata memeluk sang adik.


"Iya kak, kakak tenang aja, Ibu sama Ayah aman sama aku, aku kan anak laki laki yang hebat, pelindung keluarga" oceh Bagus.


Renata terkekeh mendengar ucapan adiknya itu, ibu mereka pun ikut terkekeh mendengar ucapan anak bungsunya itu.


"Ya sudah naik gih... itu Busnya sudah mau berangkat?!" titah sang Ibu.


"Iya Bu... dada Ibu... adek... aku berangkat?!" seru Renata dari tangga Bus.


"Dada...." balas Ibu dan Adiknya melambaikan tangan sampai mobil itu keluar terminal.


"Hufff.... akhirnya gue berangkat juga, Ayah maafkan Rena, Rena hanya ingin tinggal di jakarta sama Bibi, tidak di Batam" gumam Renata.


****

__ADS_1


Hari berganti malam malam berganti siang begitu seterusnya, hingga tiba waktunya Renata sampai di terminal Rawamangun.


"Dimana Bibi? apa mereka tidak menjemput gue, mana ini sudah menjelang subuh lagi, gue kan ngak tau nih... daerahnya, Ya Tuhan bibi mana sih..." gerutu Renata.


"Renata...." teriak seseorang di belakang renata, ternyata itu pamannya.


"Paman... Kirain ngak jemput Rena, Rena sudah ketakutan ini" celoteh Renata.


"Enak saja kamu, mana mungkin Paman sama Bibi tidak menjemput ponakan cantik kami ini!" ucap sang paman memeluk Renata yang sudah di anggap ponakan sendiri.


"Hehehe.. ya kali..." cengenges Renata.


"Ayo... pulang Bibi, adik dan ayah mu sudah menunggu kita di rumah.


"Hauduhh... Ayah pasti marah sama aku Paman, dia ngak bolehin aku ke jakarta, dia maunya aku ke Batam" keluh Renata mulai cemas.


"Hufff.... Syukurlah, Rena jadi tenang, Rena takut di seret pulang ke kampung lagi" keluh Renata.


Pamannya hanya terkekeh mendengar ocehan Renata yang dari dulu memang sudah cerewet itu.


"Paman gedungnya tinggi tinggi sekali ya, di kampung mana ada yang kayak gini, yang ada sawah dan kebun yang luas, seluas mata memandang" celoteh Renata.


"Iya. Di sini gedungnya tinggi tinggi" kekeh Paman Diman.


"Trus naiknya pake apa paman? ngak mungkin kan klau naik tangga, belum separoh jalan pasti tututnya sudah gemetaran" oceh renata yang kampungan itu.

__ADS_1


Paman Diman lansung menyemburkan tawa nya, mana ada gedung setinggi gaban itu pakai kaki kosong.


Tuk...


"Hahaha... kau ini ya" Paman Diman lansung menjitak kepala ponakannya yang terlalu udik itu.


"Haduuuhhh... kenapa kepala aku di jitak sih paman" kesal Renata sambil mengusap kepalanya.


"Lagian kamu ini aneh aneh saja, mana ada orang naik gedung tinggi gitu pakai kaki kosong" oceh Paman Diman.


"Jawab aja kek, jangan pakai di jitak juga, namanya juga ngak tau" sungut Renata dengan bibir yanh sudah panjang.


"Naiknya pakai lift, ponakan paman yang cantik tapi bodoh" kekeh pak Diman.


"Klau sudah cantik ya cantik aja paman, ngak usah di tambah embel embel bodohnya juga" kesal Renata sewot.


"Iya iya maaf, ya udah turun sudah sampai nih" jawab Paman Diman.


"Haa... sudah sampai ya paman, kirain masih jauh" kekeh Renata.


Dia turun dari mobil dan lansung berteriak...


"Bibi....."


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan Vote.


"Terimakasih..."


__ADS_2