
"Haiii... anak Bunda kenapa manyun gitu, kok ngak ada semangat gitu sih..." goda Renata padahal dia tau kenapa anaknya itu manyun, karena sudah rindu kepada sang ayah.
"Ayah kapan pulang sih Bun... kok Ayah lama banget di kampung" ucap Angga dengan mata berkaca kaca.
"Sabar ya... nanti Ayah juga pulang kok, jadi anak Bunda ini harus semangat dong" ujar Renata.
"Iya Bun...." jawab Angga yang masih lesu berusaha menampilkan senyum terbaiknya.
"Ayo sarapan dulu" ajak Renata memberikan piring yang sudah berisi nasi goreng seofood.
Sementara itu Edo sudah rapi dengan baju kaos oblong yang berwarna biru laut dan celana jeans jeans biru dongker, dan rambut di sisir rapi walau tanpa pamode, bibirnya tak berhenti bersiul siul.
"Abang mau ketemu Angga apa Bunda Angga?" goda Heru melihat gaya abangnya yang sedikit rapi dari biasanya.
"Ya.... ketemu Angga lah... sekalian nganter dia sekolah, sudah kangen banget abang sama anak sholeh abang" ujar Edo.
"Yakin cuma mau ketemu Angga doang, ngak ada modus gitu buat dekitin Bundanya" kekeh Heru.
Itu berhasil membuat muka Edo bersemu merah jambu.
"Sambil nyelam minum air juga ngak apa apa bang" sahut Lila dari dapur membawa sarapan untuk mereka.
__ADS_1
"Kalian ini usil sekali" dengus Edo salah tingkah, saat di goda ke dua adiknya.
Edo lansungenyantap sarapannya dengan terburu buru, takut terlambat menjemput sang anak.
"Pelan pelan aja bang, kak Renata masih di rumahnya kok, ngak kemana mana, masih pagi juga" kekeh Heru.
"Terserah kalian mau ngomong apa" dengus Edo jengkel karena di goda terus oleh ke dua adiknya itu.
Hahaha.....
Pecah sudah tawa Heru dan Lila melihat wajah kesal sang abang.
Beberapa saat berlalu, kini Edo sudah berada di depan rumah Renata.
"Hati hati nak, kenapa harus lari lari, nanti jatuh gimana?" omel Renata melihat anaknya yang terlalu semangat itu.
"Astaga... cucu ku itu, bener bener deh" Ibu Renata itu menggeleng gelengkan kepala melihat sang cucu yang sudah berlari ke teras rumahnya.
"Sudah kangen banget dia sama ayahnya, jadi wajar dia kaya gitu, mana cowok pula" sela Ayah Renata itu.
"Kakak tumben dandan cantik pagi ini? mau nyambut kedatangan bang Edo ya?" goda Bagus menaik turunkan alisnya, melihat kakaknya yang berbeda pagi ini.
__ADS_1
"Apaan sih kamu...!" kesal Renata, yang memang sedikit berdandan pagi ini, karena dia tau Ayah dari anaknya itu akan menjemput Angga pagi ini.
"Ngak pa apa kok, ngak ada yang salah, sama sama duda dan janda ini, apa lagi mereka punya anak, klau mau balikan Ayah mah hayo aja, dari pada sama orang baru, mulai lagi menyesuaikan diri, dan belum tau sifat asli mereka, dan belum tentu juga tulus menyayangi Angga, klau ini bapak kandungan Angga sendiri, walau punya adik nantinya Angga ngak akan tersisihkan, toh sama bapaknya sendiri ini" ujar Ayah Renata itu.
"Emang Ayah merestui, klau Renata kembali sama Edo?" tanya sang istri.
"Ayah merestui, Ayah sudah melihat perubahan Edo selama ini, dan adik adiknya juga baik kok, cuma ibunya aja yang masih oleng, klau tinggal jauh kaya gini ngak mungkin juga dia mau merecoki hidup anaknya, walau di teror lewat telpon ngak masalah lah dia jauh ini, dan Edo pasti bisa mengatasinya, Ayah yakin Edo sudah berubah, dan tidak ada juga rumah tangga yang selalu baik baik saja, pasti ada riak riak kecil yang terjadi, yang terpenting komunikasi kita berkeluarga yang harus di jaga" ujar Ayah Renata itu.
Renata hanya menunduk, mendengarkan dan membenarkan apa yang di bilang Ayahnya itu.
"Iya juga sih kak, aku juga sering loh... lihat bang Edo itu suka curi curi pandang sama kakak, tapi dia takut mendekati kakak lagi, dia menjaga jarak dari kakak, aku rasa dia kurang percaya diri, karena sudah pernah melukai kakak, dan satu lagi, setiap kakak di dekati oleh laki laki lain, aku sering memergoki bang Edo bermuka sendu, dia kaya ngaj rela kaka di dekati orang lain, tapi di juga ngak ada hak melarang kakak, dia dilema kak,
"Kakak pikirkan lah itu semua, apa kakak ngak kasian sama Angga, dia begitu mengharapkan Bunda dan Ayahnya tinggal bersama seperti teman temannya, akan tetapi anak itu ngak berani ngomong sama Ayah Bundanya, takut akan membuat kalian tidak nyaman, jadi dia memendam perasaannya" ujar Bagus panjang lebar.
"Iya nak setidak tidaknya pikirkan lah anak mu, lupakan trauma mu nak, ada kami kok bersama kamu, dan Ibu yakin Edo juga masih sangat mencintai kamu, klau tidak, tidak mungkin dia menduda selama ini" ujar Ibu Renata itu memegang lembut tangan Renata.
Sementara di balik dinding sana ad dua pasang mata dan dua pasang telinga yang sedang menguping pembicaraan mereka, dengan ekspresi muka yang berbeda.
Edo terharu, tidak menyangka keluarga Renata akan mau kembali menerima dia menjadi anggota keluarga lagi, dan seandainya itu terjadi Edo berjanji tidak akan melukai hati Renata dan keluarga Renata lagu, dia akan berusaha menjadi suami ayah sekaligus menantu yang baik di keluarga ini, dia tinggal meyakinkan kan Renata saja klau begini ceritanya, ada rasa lega di hatinya setelah mendengar pembicaraan keluarga itu.
Dan Angga tak kalah bahagianya, ternyata kakek nenek dan Omnya tau perasaannya yang menginginkan Bunda dan Ayahnya bersatu, dia ingin merasakan keluarga bahagia mempunyai adik yang lucu seperti teman temannya, dia sendiri sudah punya rencana untuk menyatukan ke dua orang tuanya itu, senyum manis sudah mengembang di wajah anak itu dengan sempurna, dia rasa hari ini hari yang membahagiakan untuk dirinya.
__ADS_1
Bersambung.....