
"Anaknya juga begitu kok Bun, Yah, suka merendahkan orang, aku juga suka di katai sama dia, tapi aku diam aja" Angga saat mereka sudah duduk di mobil.
"Tapi adek ngak lawan dia kan?" tanya Zahra, takut anaknya kenapa napa.
"Ngak kok Bun, aku diam aja, ngapain lawan dia, sam aja dong kita sama dia" ujar Angga sok dewasa. Membuat senyum Renata dan Edo terkembang.
"Pintar anak Bun sam Ayah, benar itu ngapain kita lawan dia, sama saja kita bodohnya kaya dia" ujar Edo.
Asik bercerita ngalor ngidul, kini mereka sudah berada di restoran ayam kakek yang sangat terkenal di seluruh penjuru dunia itu.
"Adek sama Bunda tunggu di sana, biar ayah yang pesan" ujar Edo, yang menyuruh istri dan anaknya mencari kursi untuk duduk.
"Ok ayah..." ujar Angga bersemangat mencari tempat di ikuti oleh Renata dari belakang.
"Bun... nanti aku mau adek cewek sama cowok ya bun" ujar Angga dengan mata berbinar.
"Ha.... banyak amat, emang kenapa ngak satu aja, pilih salah satu cewek atau cowok" tawar Renata yang kaget dengn permintaan Angga.
"Aku pengen punya adek cewek yang bisa aku jaga bun, biar bunda ada temannya, trus pengen punya adik cowok biar nanti kami bisa jaga bunda sama adik cantik" kekeh Angga penuh binar.
Renata hanya menggeleng gelengkan kepalanya, mendengar permintaan sang anak.
"Kenapa Bunda gelang geleng, bunda ngak mau?" tanya Angga dengan wajah sedikit murung.
"Ehhh... ngak kok, bunda mau kok sayang" rayu Renata yang tiba tiba jadi kaget melihat wajah murung anaknya itu
"Ada apa sayang?" tanya Edo yang membawa nampan berisi pesanan mereka, dia menatap bingung melihat orang orang terkasihnya dengan mimik yang berbeda beda.
"Angga pengen punya adik dua cewek sama cowok tapi bunda ngak mau" adu Angga kepada sang ayah dengan mata berkaca kaca.
Edo lansung melihat sang istri yang gelagapan, apa benar istrinya tidak ingin mempunyai anak lagi, apa sebegitu traumanya istri cantiknya itu dengan kelakuannya dulu, sampai sampai tidak ingin mempunyai anak lagi, pikir Edo.
"Ehhh... bukan gitu kok mas, aku cuma nanya kok, kok mau dua adik, gitu aja kok" terang Renata panik, melihat wajah kecewa suaminya itu.
__ADS_1
"Apaan nanya aja, tadi bunda geleng gelang kepala, bearti bunda ngak mau punya adik lagi" ketus Angg dengan bibir maju dan wajah cemberut, namun tangannya sedikit demi sedikit meraih es cream yang berada di depannya.
"Gini sayang, bukan bunda ngak mau, cuma kita serahkan sama allah saja, klau allah kasih adik buat Angga cepat atau lambat Angga pasti punya adik, cewek atau cowok kan sama aja, toh yang penting kan Angga punya adik" bujuk Renata.
"Ngak mau aku mau punya adik cewek sama cowok cicit Angga yang tidak mau di tolak.
"Ok ok, nanti kita berdo'a sama sama allah, agar angga cepat punya adik, klau adiknya cewek nanti ayah bikin lagi sama bunda Adik cowok buat kamu, jadi sekarang makan lah yang banyak, nanti baru kita bahas lagi" ujar Edo menengahi.
Namun ucapan Edo itu membuat Renata melotot tidak percaya, bisa bisanya suaminya itu bicara tanpa filter di depan sang anak.
"Ayo Yah... bikin sekarang, aku mau lihat" semangat Angga, yang tidak tau cara membuat adik, dia fikir membuat adik sama seperti membuat kue kali, lansung jadi.
"Eh..." ujar Edo terjengkit kaget dengar ucapan sang anak, Renata lansung menunduk dan pura pura tidak tau, sambil memakan makannya, dia masa bodo, biarin aja suaminya yang menyelesaikan urusannya sama anaknya itu, lagian bicara tanpa filter dengan sang anak, sudah tau anaknya itu selalu ingin tau dengan segala hal, pak acara asal bicara di depan anaknya itu.
"Ayo Yah... kita bikin!" semangat Angga yang makin kesenangan, tanpa tau sang ayah sedang berfikir cara memberi tahu dia.
"Emangnya Angga tua cara bikin adek?" tanya Edo pada akhirnya.
"Tau.... ayo kita ke super market, kita beli tepung, gula sama telur" ujar anak itu dengan polosnya.
"Kenapa...? ayah juga ngak mau punya adik sama kaya bunda" ketus anak itu menatap Edo dengan mata yang berkaca kaca.
"Astaga... anak ini" gumam Edo yang frustasi dia menatap sang istri agar sang istri membatunya, namun sangat di sayangkan, istri cantiknya itu seolah tuli dan hanya sibuk makan tanpa mendengarkan dia dan anaknya.
"Haduuhhh..... istri gue benar benar deh, ngak mau bantuin gue lagi, awas kamu sayang, sekarang cuekin aku, nanti malam habis kamu sama mas, biar cepat adiknya Angga jadi, biar anak itu tidak merajuk lagi" gerutu Edo frustasi.
"Emang enak... Syukurin ngomong sembarangan dekat anak, jadi susah sendiri kan, selesaikan sendiri masalahnya, aku moh" gumam Renata terkekeh dalam hati melihat wajah memelas sang suami, dia pura pura tidak tau.
"Gini sayang, bikin adik itu ngak pakai tepung, gula, telur dan lain lainnya" ujar Edo memberi pengertian kepada sang anak.
"Trus pakai apa dong?" tanya Angga dengan semangat, entah kemana wajah sedihnya tadi perginya.
"Adik itu hanya ayah dan bunda yang bikin?!" ucap Edo hati hati.
__ADS_1
"Lalu tunggu apa lagi, ayo... bikin sekarang!" ujar anak itu dengan semangat.
Gubrak....
"Haduuhhh.... susah sekali menjelaskan sama anak ini, rasa rasanya ingin saja gue kabur ke lubang semut untuk sementara" gumam Edo frustasi.
"Ayo ayah... tunggu apa lagi" desak Angga penuh semangat.
"Huuufff... Angga degar baik baik, jangan di potong ucapan ayah yah..." ujar Edo menarik nafasnya, dia takut untuk memberi penjelasan, klau nanti penjelasan itu bakal jadi pertanyaan yang akan menjebaknya kemasalah lainnya.
"Jadi gini, bikin adik itu memang ayah dan bunda yang bisa melakukannya, namun buka. di sembarang tempat" tutur Edo.
"Lalu dimana?" lagi lagi pertanyaan keluar dari mulut Angga.
"Itu hanya bunda dan ayah yang tau, makanya Angga harus tidur sendiri, jangan minta tidur bersama terus, agar adiknya cepat jadi" ujar Edo pada akhirnya.
"Klau Angga ngak tidur sama ayah dan bunda, adiknya cepat jadi gitu?" tanya anak itu.
"Kita do'ain saja, makanya Angga klau habis sholat selalu minta sama Allah agar cepat di kasih adik" ujar Edo.
"Baiklah, aku tidur sendiri mulai sekarang, eh... tapi sesekali bolehkan kita tidur sama sama?" tanya anak itu.
"Pasti boleh sayang" ujar Edo.
"Yeee... ngak pa apa, ngak sering tidur sama ayah bunda, yang penting masih bisa tidur bareng dan di bacain shalawat sebelum tidur, aku juga akan minta sama Allah agar cepat di kasih adik" semangat anak itu.
"Ya sudah, sekarang makan dulu yuk, itu nanti makanannya dingin jadi ngak enak" ujar Edo, memyodorkan ayam kriuk kakek ke hadapan Angga.
Anak itu menerima dan tanpa ba bi bu lansung melahapnya tanpa perduli orang tuanya lagi.
"Awas kamu sayang, nanti malam kamu habis sama mas, kenapa ngak bantuin mas tadi" bisik Edo di kuping sang istri.
Seketika Renata jadi merinding, mendengar bisikan sang suami, dia ngeri sendiri dengan ucapan suaminya itu, tadi saja Edo sudah memborbardirnya tanpa ampun, sampai sekarang aja bagian intinya masih perih dan sedikit bengkak, nah nanti minta lagi, bisa patah itu pinggang dan apemnya pasti bisa lebih bengkak lagi nantinya, mengingat ukuran tangkai cangkul sang suami yang berukuran jumbo itu
__ADS_1
Bersambung....