
Seminggu berlalu, kehidupan Renata mulai baik baik saja.
Dia menjalani rumah tangga dengan normal, tanpa campur tangan orang luar.
Masak buat suami, mencuci dan melakukan segala macam urusan rumah tangga layaknya ibu rumah tangga lainnya.
Huek....
Huek...
Huek..
Entah seminggu ini Renata selalu muntah muntah.
"Dek... kamu muntah lagi?" tanya Edo khawatir.
"Iya bang..." ucap Rena lemas, karena mengeluarkan isi perutnya.
"Ya udah kita ke rumah sakit yuk... takutnya kenapa napa, udah seminggu kamu kayak gini" ucap Rido.
Renata hanya mengangguk pasrah.
Sesampai di rumah sakit Renata di periksa ternyata dia hamil.
Namun Edo tidak begitu merespon kehamilan Renata.
"Abang ngak senang ya aku hamil?" tanya Renata.
"Bukan ngak senang, kita kan baru nikah kenapa harus hamil sekarang, harusnya kamu kb dulu kek, supaya ngak hamil" dengus Edo.
__ADS_1
"Eehh.. abang kamu sebenarnya nikah mau apa sih, aku bingung lama lama sama pernikahan ini" kesal Rena ikut emosi.
"Terserah lah... kamu pulang sendiri aja, abang mau pergi dulu ada urusan" Edo pergi dan meninggal kan Renata di rumah sakit sendirian.
Renata hanya terpaku di tempat dia berdiri, dengan mata berkaca kaca, melihat ke pergian Edo.
"Sabar ya nak, walau bagaimana pun, ayah mu tidak menerima kehadiran mu, Ibu akan selalu ada buat kamu, kita lalui ini bersama" gumam Rena sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Renata membeli obat dan vitamin di apotik. setelah itu dia membeli susu hamil seorang diri dan memakai uang sendiri, Rena berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan menyusahkan dan tidak akan meminta kebutuhan buat anaknya kepada sang suami, biar dia yang memenuhi sendiri tanpa suaminya.
Rena pulang kerumah dengan sedikit lelah, beruntung tadi sempat mengisi perutnya sebelum pulang.
Saat sampai di rumah ternyata ada mertua dan juga suaminya di sana.
"Dari mana kamu Ta... lama amat" dengus mertuanya.
"Dari rumah sakit ma?!" jawab Renata.
Periksa mah, ternyata aku hamil" ucap Renata.
"Ncek... kenapa harus hamil sih, lagian baru nikah sudah hamil aja, gatel banget kamu, ngak bisa apa pake kabe, segitunya kamu pengen punya anak dari anak saya" ketus Mama mertua Renata.
Deg...
Hati Renata sakit mendengar ocehan mertuanya itu, ternyata ucapan sang suami dan mertuanya sama.
Lalu apa gunanya mereka menikah, klau tidak menginginkan keturunan.
"Kamu kenapa ngak bilang dia sih... Do, ngak usah hamil dulu, belum tentu juga pernikahan kalian awet, kenapa harus buru buru hamil sih... kan jadi menyusahkan saja" oceh mertua Renata tanpa perasaan.
__ADS_1
Deg....
Hati Renata mangkin sakit mendengar ucapan mertuanya itu.
"Apa maksud mama ngomong kayak gitu?" ucap Renata bergetar.
"Ncek gini ya Renata... dengar baik baik.... saya ngerestui kamu nikah sama anak saya agar dia bisa ngerubah kehidupan kami, tapi mana buktinya, ngak ada satu pun, bukan dapatnya kekayaan malah nambah susah aja sama kehamilan kamu itu" sinis Mama mertua Renata.
Deg...
Hancur hati Rena mendengarkan ucapan sang mertua dan suaminya pun hanya diam dengan ucapan sang Mama, dia malah sibuk main game.
"Maksudnya apa ini bang?' tanya Rena terisak.
"Ncek... gini ya Renata, gue nikahin loe, karena gue lihat loe pekerja keras, banyak uang, sudah kerja di PT dan loe juga jualan. pasti uang loe banyak, sudah punya rumah bagus di jakarta, gue dan keluarga gue bisa kecipratan hidup enak sama loe, nyatanya loe sama aja kayak gue, malah lebih miskin dari gue, masak nikah ngak bisa bawa apa apa, malah gue yang ngasih makan loe, harusnya loe yang ngasih makan gue dan keluarga gue" oceh Edo tak berperasaan.
Duarr...
Bagai petir di siang bolong Rena mendengar pengakuan Edo itu, ternyata ada maksud terselubung dia menikahi Renata.
Sakit hati Rena mendengar pengakuan itu, dan Edo tidak pernah berkata kasar kini berkata kasar sama dia.
"Trus mau abang dan Mama sekarang apa?"
tanya Rena, walau harus sakit mendengar ucapan Suaminya biarlah sakit dia tahan, agar tau mau suami dan mertuanya itu.
"Mau gue....
Bersambung....
__ADS_1
Haiii... jangan lupa like komen dan vote...