
Beberapa hari berlalu, kini saatnya Edo dan adik adik nya pergi ke kampung tempat orang tua mereka berada di kota xx
Wajah Angga pagi ini terlihat murung, karena dia tau hari ini ayahnya akan pergi untuk beberapa hari ke depan, memui nenek, kakek dan tantenya.
"Hai.... anak Bunda kenapa wajahnya lesu gitu?" tanya Renata.
"Hari ini ayah akan pulang kampung ya Bun... apa ayah akan pulang lagi" sendu Angga.
"Jadi Angga sedih gara gara Ayah mau pulang kampung?" tanya Renata.
Angga hanya mengangguk lemah.
"Ayah kan sudah bilang, ayah cuma pergi paling lama satu minggu, kenapa harus sedih, hmmm...." tanya Renata mensejajarkan dirinya dengan sang anak, dan menatap lebih ke arah Angga.
"Adek takut ayah ngak pulang lagi ke sini, ditahan sama nenek di kampung sana" jujur Angga memberitahu ketakutannya kepada sang Bunda.
"Ayah janji sayang, ayah cuma pergi paling lama seminggu, selama ayah pergi kita kan bisa telponan atau vidio call" ujar Edo tiba tiba sudah ada di dekat Renata dan Angga.
Edo begitu terharu ternyata anaknya sangat takut kalau dia tidak pulang lagi ke kota ini.
"Ayah...." pekik Angga lansung meloncat ke dalam pelukan Edo, untungnya kuda kuda Edo kuat, klau tidak sudah di pastikan mereka sudah berguling berdua.
"Kenapa sedih gini, kan ayah udah janji cuma ke kampung seminggu doang" ucap lembut Edo.
"Aku takut aja nenek ngak izinin ayah pulang lagi ke sini" ucap Angga sambil menyembunyikan wajahnya di curug leher sang Ayah.
Edo merasakan ada air hangat yang menetes di lehernya, sudah di pastikan sang anak sedang menangis, karena bahu sang anak juga ikut bergoyang.
"Jangan nangis sayang, klau adek nangis ayah ngak usah pulang kampung aja, ayah di sini aja sama adek ya?!" Edo yang tidak tega melihat sang anak menangis seperti itu.
"Ngak usah Yah...ayah pulang aja, kan ayah sudah janji sam kakek dan tante mau pulang kampung, pasti mereka juga kangen sama ayah, aku ngak apa apa kok, aku sam Bunda aja di sini" ucap Angga pada akhirnya, walau separoh hati bocah itu mengharapkan ayahnya tidak ikut pulang kampung.
__ADS_1
"Tapi adeknya sedih klau ayah tinggal, ayah jadi ngak tenang sayang?!" ucap Edo.
"Aku janji ngak akan sedih lagi" ucap Angga sambil memperlihatkan senyum paksanya, dan bekas air mata masih terlihat jelas di ke dua pipi chaby anak itu.
"Janji ngak sedih lagi?" tanya Edo.
"Hmmm..." Angga mengaguk kan kepalanya.
"Janji ngak nangis lagi?!" tanya Edi lagi.
"Janji Ayah...." ucap Angga meyakinkan kan.
"Ya udah klau gitu ayah berangkat ya... adek ngak boleh nakal, nurut sama bunda, jangan ikut sama orang ngak di kenal, jangan lari lari, dan ingat jangan lupa sholat ok...!" ucap Edo memberi peringatan kepada sang anak.
"Iya Ayah... dari kapan sih... Angga nakal, Angga kan dari dulu anak baik" cibir anak itu tak terima di celotehin sang ayah.
"Hahaha.... anak ayah ini kan anak pintar, anak baik, anak sholeh, dan patuh" kekeh Edo yang mendapat protes dari sang anak.
"Ah... iya, sampai lupa klau sudah ketemu sama anak ayah ini, klau gitu ayah berangkat ya sayang" ucap Edo mencium pipi Angga bertubi tubi.
"Iya Ayah, hati hati ya...." ucap Angga yang tidak mau kalau dan mencium pipi ayah bertubi tubi.
"Re... Mas berangkat ya... titip Angga, maaf seminggu ke depan kamu akan kerepotan mengurus anak kita" ujar Edo menatap manta istrinya itu.
"Iya Mas... ngak pa apa santai aja, aku sudah biasa kok, kamu hati hati ya...?!" ucap Renata tersenyum tulus.
"Kak kami berangkat ya..." ucap Lila dan Heru bergantian.
"Iya kalian hati hati ya, jangan lupa klau sudah sampai telpon kami, tau sendiri noh... bisa ngak berhenti berkicau" cibir Renata melirik sang anak.
"Angga bukan Burung ya Bun..." cemberut anak itu tak terima di katai berkicau.
__ADS_1
"Hahaha... iya iya maafin Bunda...." kekeh Renata sambil mengkusuk kepala sang anak.
"Lagian Bunda anak sendiri di katain burung" cibir Angga.
Semua yang ada di sana ikut tertawa mendengar sungutan Angga tersebut.
"Nih ada sedikit bekal buat kalian di perjalanan" tiba tiba dari dalam rumah Ibu Renata datang membawa sebuah tas belanjaan yang berisi berbagai macam masakan untuk bekal tiga bersaudara itu.
"Ya Allah Bu... kok sampai repot repot segala sih, jadi ngak enak ini" ucap Edo merasa tidak enak dengan mantan Ibu mertuanya itu.
"Ngak pa apa, santai aja, kamu ini kaya sama siapa aja, cuma ini yang bisa ibu kasih" ucap Ibu Renata itu.
"Makasih ya Bu... kami jadi ngerepotin" ucap Lila ngak enak hati.
"Ngak kok, santai aja, di makan ya..." ucap Ibu Renata itu.
"Iya Bu pasti...." ujar Heru menimpali.
"Ya udah kalau gitu kami berangkat ya Bu, Re, Angga" takut ketinggalan Bus" izin Edo.
"Iya hati hati..." sahut mereka serempak.
"Dah.... Ayah, Om, Tente....!" teriak Angga setelah orang orang itu sedikit menjauh dari hadapanya, dengan tatapan sendu akan berpisah dengan sang ayah.
"Dada.... sayang...!" balas Edo membalikan badan dan membalas lambaian tangan sang anak, sungguh dia tidak tega meninggal kan anaknya yang terlihat murung, bahkan air mata anak itu sudah jatuh membasahi pipinya.
Edo kembali membalikan badannya, tidak lagi melihat ke arah sang anak takut dia juga tidak kuat dan tidak jadi ikut pulang kampung menemui orang tuanya yang sudah setahun lebih tak bertemu.
"Sabar lah, tunggu Ayah... Ayah juga ngak ingin berpisah dengan kamu sayang" gumam Edo dalam hatinya.
Bersambung....
__ADS_1