Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 124


__ADS_3

"Sayang...." ucap Rinto memeluk Rani dari belakang yang sedang membuka pernak pernik di kepalanya.


"Apa Mas...?!" jawab Rani yang masih fokus sama kegiatannya.


"Capek ya...." tanya Rinto yang mulai akgresif itu, menciumi pipi dan curug sang istri.


"Lumayan..." jujur Rani, siapa yang tidak capek walau tidak melakukan pesta berlebihan bahkan sore hari acara sudah usai, tetap saja dia kecapean sudah beberapa hari harus mengurus ini dan itu.


"Kasian istri yayang Rinto, sini di bantuin" kekeh Rinto


Rani melotot tidak percaya dengan ucapan suami nya ini, apa benar laki laki ini suaminya atau ada yang menyamar, yang dia tau suaminya ini orang kaku, jarang tersenyum bahkan bercandapun seadanya dan ini apa, dia bicara lebay seperti ini membuat Rani bergidik ngeri sendiri.


"Kenapa mukanya begitu" tanya Rinto saat melihat sang istri menatap dirinya aneh.


"Ini Mas Rinto kan ya, suami Rani?" tanya Rani ragu ragu.


"Ya iya lah Yang... suami kamu, masa suami orang" sewot Rinto.


Rani terkekeh melihat tampang yang biasanya acuh tak acuk itu berubah menjadi menggemaskan kaya gini.


"Abis Mas itu beda tau ngak" ucap Rani yanh masih terkekeh.

__ADS_1


"Berubah apanya sama aja" ketusnya.


"Iya Mas berubah, dulu mas itu kaku tau ngak, ngak pernah alay klau ngomong, tapi sekarang berubah" ujar Rani.


"Ya kan dulu abang belum punya bini buat di ajak manja manja, kalau sekarang kan ada ih... itu aja ngak ngerti" ujar Rinto bersungut sungut.


"Hahaha.. Maaf maaf mas sayang, suaminya Rani cintanya Rani, kekasihnya Rani, pujaan hatinya Rani" ujar Rani merayu dan mengedip ngedipkan mata manja.


"Jangan goda mas sekarang sayang, maa ngak mau melahap kamu sekarang, masih banyak keluarga di luar, dan mas juga ngak mau suara merdu kamu bikin mereka pengen" kekeh Rinto tanpa filter.


"Hiiii... menyebalkan" Rani memukul bahu sang suami karena jengkel.


Rinto hanya terkekeh kini tangan Rinto membuka hijab yang menutupi rambut sang istri, dia sangat penasaran dengan rambut istrinya itu.


Rani hanya tersenyum malu melihat suaminya yang tak lepas memandang wajahnya itu.


Lama lama wajah Rinto mendekat ke wajah sang istri.


"Minta dp awal dulu ya..." ujar Rinto meraup bibir sang istri dengan tiba tiba.


Rani melotot kaget dengan kelakuan suaminya itu, namun itu hanya sebentar dan Rani mengikuti permainan lidah suaminya itu.

__ADS_1


"Katanya belum pernah melakukan beginian, tapi ke lihai sih mas?" tanya Rani saat tautan lidah mereka terlepas.


"Naluri sayang..." kekeh Rinto kembali menyerang bibir ranum Rani yang mulai membengkak, tangannya tak tinggal diam, ikut membuka resleting baju kebaya rani dari belakang, perlahan bahu putih mulus Rani terlihat nyata di depan sang suami.


"Ya ampun sang baru kebuka sedikit aja, ini burung perkutut lansung mengepakkan sayapnya" kekeh Rinto memaksa tangan Rani memegangnya.


Tentu saja wajah Rani merona malu, karena memegang tongkat bisbol yang sudah mengeras di balik celana sang suami.


"Mas ih..." ujar Rani malu malu meong, secara Rani janda dan sudah tau rasa itu walau pun sudah lama tidak merasakan nya tetap saja Rani jadi gugup.


"Keras ya sayang.." tanya Rinto tak berfilter.


"Hmm....." jawab Rani yang tidak tau menjawab pertanyaan absrud sang suami.


"Boleh ya sekali aja, nanti malam baru sambung lagi" ucap Rinto dengan tampang memelas, apa lagi melihat belahan bukit himalaya semakin kelihatan karena baju Rani merosot.


Rani hanya mengangguk pasrah.


"Yes.... " pekik Rinto ke girangan, dan lansung buru buru membuka pakaian yang dia kenakan dan menyisakan boxer yang sudah menggelembung.


Terjadilah pertempuran sengit di sore itu, tanpa ada gangguan karena rumah yang di tempati adalah rumah baru yang di sediakan oleh Rinto dan jangan lupa kamar itu sudah di kasih peredam suara oleh Rinto.

__ADS_1


"Aggghhhhh.... Terimakasih sayang, katanya kamu sudah pernah menikah, tapi ininya kenapa masih sempit separti belum di jamah" ujar Rinto di sela sela pelajarannya dan bergiling kesamping sang istri, tangan jahilnya kembali merayap ke dalam goa sang istri.


"Aku merawatnya dengan baik, karena pasti suatu saat aku akan menikah lagi, dan aku ingin menyenangkan suamiku" jawab jujur Rani.


__ADS_2