Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 111


__ADS_3

"Mbak mau pesan kamar untuk tiga jam saja" ujar Edo kepada resepsionis hotel tersebut.


"Baik pak...." ujarnya ramah, namun melihat Renata dengan tatapan merendahkan dan sedikit sinis.


Edo yang melihat itu lansung tersulut emosi, dia tidak suka ada orang yang melihat istrinya dengan tatapan menghina seperti itu.


"Mbak...! kamu bisa sopan memandang istri saya, istri saya bukan wanita penghibur seperti yang kamu pikirkan!" kesal Edo.


Membuat resepsionis itu menunduk malu dan tidak enak hati, ternyata tatapan dan fikiran dia bisa di baca oleh laki laki di depannya itu.


"M-maaf pak" ujar resepsionis itu, ada rasa bersalah dan juga rasa takut, karena dia ketahuan memandang perempuan cantik di samping laki laki itu, yang dia pikir wanita penghibur yang suka naik keranjang laki laki demi gaya hedonnya.


"Minta maaf sama istri saya!! dan jangan pernah kamu ulangi lagi sikap kamu yang seperti ini, jangan suka berfikir negatif sama orang dan jangan sampai hotel ini jadi kurang pengunjung gara gara kamu karyawan yang tidak kompeten seperti ini!" sarkas Edo.


Membuat resepsionis itu menunduk dengan tubuh mulai menggigil dan keringat sudah betcucuran di pelipisnya.


"Maaf pak, ada apa ini?" ujar seseorang dari belakang, menegur Edo yang tadi dia lihat sangat emosi.


"Ini karyawan ini, saya memesan kamar hotel untuk beberapa jam, karena saya mau nunggu anak saya pulang sekolah yang tidak jauh dari sini, namun karyawan ini menatap istri saya seperti menatap jijik dia fikir istri saya perempuan bayaran kali" kesal Edo membeberkan uneg uneg di hatinya.


"Betul begitu Ria...!" tegas laki laki berseragam rapi itu.


"M-maaf pak..." ujar karyawan yang bernama Ria itu dengan suara bergetar ketakutan.


Kamu kalau masih ingin tetap bekerja di sini, jaga sikap kamu kepada tamu tamu di hotel ini, dasar... sudah berkali kali di peringati ngak berubah ubah, mentang mentang kamu ada orang dalam di sini, kamu jangan seenak kamu di sini, sekarang kamu pindah ke belakang, kamu ke bagian cuci piring sana!" bentak laki laki itu.

__ADS_1


"Loh... pak janga gitu dong, kan sayang sudah minta maaf, kenapa harus di pindahkan ke bagian dapur sih, saya ngak mau, mana mungkin saya di pindahkan bukan ke bagian yang saya tekuni" elak Ria.


"Kamu pindah ke sana, dan renungi semua kesalahan kamu, klau kamu tidak betah dan keberatan silahkan kamu mengundurka diri dari sini, hotel ini tidak akan ke hilangkan dengan karyawan seperti kamu!" sarkas laki laki itu.


Mau tidak mau, Ria pergi ke belakang tanpa meminta maaf kepada Renata, karena dia kesal di pindahkan kebagian cuci piring.


"Maaf pak dengan ke tidak nyamanan bapak dan ibu, jadi sebagai gantinya, kalian boleh memakai kamar hotel tanpa membayar uang sewa" ucap laki laki itu dengan hormat.


"Eehhh... ngak usah begitu Pak... kami akan tetap membayar lagi pula mbak tadi sudah di hukum kok" ujar Renata dengan tidak enak hati.


"Tidak apa apa Bu, ini sebagai tanggung jawab kami" ucap laki laki itu.


"Baik lah klau bapaknya memaksa" ujar Edo yang sudah tidak mau berbasa basi lagi, karena moodnya sedikit berantakan ulah karyawan tadi.


Ceklek....


Pintu kamar hoter itu di buka oleh Edo dan menarik tangan sang istri, agar masuk ke dalam kamar tersebut, dia lansung melangkah menuju ranjang kamar hotel tersebut, sambil menghempaskan tubuhnya disana.


"Huufff.... niat mau *** ***, malah terjadi masalah tidak mengenakan" kesal Edo berguling guling di kasur hotel tersebut.


Renata malah terkekeh melihat sikap suaminya yang kata Renata sangat menggemaskan.


"Sini sayang" ujar Edo menarik tangan sang istri agar mendekat ke arahnya.


Bukkk....

__ADS_1


Renata yang di tarik tanpa persiapan mendarat sempurna di atas tubuh sang suami.


"Aduhhh.... mas kok di tarik sih... sakit ngak?" tanya Renata khawatir terhadap sang suami takut kesakitan karena ketindihan badannya.


"Mana ada sakit, yang ada empuk karena kena sama ini" ucap Edo sambil meremas semangka kembar di dada sang istri.


Wajah Renata lansung memerah bak kepiting rebus ulah ucapa frontal suaminya itu.


Edo membalikan tubuh sang istri menjadi dia kini yang berada di atas tubuh sang istri.


"Kita mulai sayang..." ujar Edo tanpa basa basi mulai lah tangan nakalnya menari nari di rubuh sintal sang istri dan membuka satu persatu pakaian istrinya itu.


Tok....


Tok...


Tok....


"Haisss.... ganggu aja sih..." kesal Edo.


"Sudah... buka dulu aja, mana tau penting" ujar Zahra mengelus lembut dada bidang Edo.


Edo mendengus kesal, namun tak ayal tetap melangkah ke arah pintu dengan wajah masamnya, namun sebelum itu dia sudah menutupi tubuh istrinya dengan selimut, mana sudi dia tubuh istrinya di lihat orang lain.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2