Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 32


__ADS_3

"Permisi pak.... mau tanya?" ucap kurir kepada Edo yang saat itu sedang duduk santai di teras rumah bersama keluarganya.


"Iya mas... mau nanya apa?"


"Betul ini rumah Bapak Edo Julianto?" ucap Kurir itu.


"Iya mas... saya sendiri"


"Oohh... kebetulan sekali, saya mau mengantarkan ini" Kurir itu lansung menyodorkan amplop yang tertera kantor pengadilan agama.


"Apa ini...." gumam Edo dengan tangan bergetar.


"Silahkan tanda tanganni di sini pak..." ucap Kurir tersebut.


Edo lansung menandatangani kertas yang di berikan oleh kurir.


"Terimakasi...." kurir lansung pergi dari rumah itu.


"Apa itu Do....?" kepo sang mama.


Edo hanya diam dan masih fokus membaca surat yang dia terima.


Deg....

__ADS_1


Jantung Edo lansung berdetak kencang, dia tidak menyangka Renata dengan cepat mengurus surat cerai mereka.


Brukkk....


Edo jatuh ke lantai.


"Edooo...." teriak orang yang ada di sana, karena kaget melihat Edo tersimpuh di lantai.


"Ada apa... kenapa kamu jadi begini?!" ucap mamanya, melihat Edo yang menangis setelah membaca surat dari kurir tadi.


"Rena ma.... Rena gugat cerai Edo...." raung Edo tidak terima.


"Ha... serius kamu!!" mamanya ikut kaget.


Namun tidak dengan Lila dan Heru.


"Lila... Heru... apa apaan sih kalian!" kesal mamanya.


"Lah... salah kami apaan, kan ini yang mama inginkan" ucap Lila tanpa beban.


"Ya ngak gitu juga kali, ngak lihat abang kamu!" kesal mamanya.


"Emang apa hubungan sama kami, kan itu pilihan abang sendiri yang tidak bisa jaga istri baiknya, dan pilihan dia juga yang mau mengikuti keinginan mama dan menyakiti hati istrinya, bagus kan klau abang sudah di gugat, kan abang bisa bebas cari cewek bodoh yang bisa mengikuti kemauan mama dan papa?!" ucap Lila sengaja membaut abangnya bisa mikir dan ngak di butakan dengan rasa bakti kepada orang tua, yang jelas jelas menyesatkan.

__ADS_1


Tiga kali menikah dan tiga kali rumah tangga abangnya kandas gara gara orang tuanya, sebenarnya dia kasihan sama abangnya, namun karena abangnya selalu di doktrin oleh mamanya jadi selalu menurut, padahal jelas jelas merugikan dirinya sendiri.


"Ini klau di bikin novel seru kali ya kak, judulnya Tiga kali menikah tiga kali kandas gara gara orang *****tuaku*****, kekeh Heru tanpa filter"


"Benar dek... kamu pintar banget, tapi nanti jangan sampai bodoh kayak abang" ucap Lila.


"Kalian ini ya... anak kurang ajar, anak yang ngak bisa menghargai orang tua!!" marah mamanya.


"Ma... gimana kami mau menghargai mama... mama selalu menjerumuskan anak anak mama ke jalan yang ngak benar, untung kami ini masih punya otak cerdas ngak sama kayak bang Edo dan kak Rani yang ngak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, akhirnya hidup mereka hancurkan, itu gara gara siapa coba" ucap Lila, yang sudah geram dengan mamanya itu.


Plak....


Satu tamparan melesat di pipi Lila, siapa lagi yang menampar klau bukan mamanya.


"Kakak.." kaget Heru.


Lila tersenyum sinis melihat mamanya, sedangkan mamanya lansung menatap ke arah tangannya yang sudah menampar pipi Lila.


"Maaf... maafkan mama?!" ucap mamanya menatap sendu ke arah Lila, dia merasa bersalah telah menampar anak perempuannya itu.


"Tidak perlu minta maaf, rasa sakit di pipi Lila ngak sebanding dengan rasa sakit kak Renata dan bang Edo, dia terpisah karena keegoisan mama" ucap Lila dan berlalu dari sana.


Sementara itu Edo masih duduk melamun memegang surat dari pengadilan tanpa perduli apa yang terjadi di depannya.

__ADS_1


Bersambung....


Haii... jangan lupa like komen daa vote ya...


__ADS_2