
"Do... Mama ikut ke jakarta ya, mama ingin melihat cucu mama, dan ingin liburan sebentar di jakarta?!" bujuk Bu Eni.
"Maaf ma... Edo ngak bisa, soalnya mobil penuh" ujar Edo menolak permintaan mamanya.
"Penuh apanya, kalian cuma bertiga, apanya yang penuh?" sergah Bu Eni.
"Aku mau belanja barang dagangan ma, makanya aku bawa mobil, klau ngak ngapain bawa mobil capek cepek in badan aja.
"Halah.... Bilang aja kamu ngak mau mama ngajak mama ke jakarta, kenapa? kamu di larang sama istri sialan kamu itu, belagu amat sih dia, lagian mama juga ada hak di mobil itu" sengit Bu Eni.
"Ma... Berhenti ngata ngatain istri aku, ini yang bikin aku ngak mau ngajak mama ke jakarta, belum apa apa sudah menuduh istri ku yang ngak ngak dan mengata ngatainya, dan satu lagi mobil ini bukan punya aku mah, ini punya mertua ku, dia yang meminjamkan aku mobil, aku sempat menolak tapi dia memaksa, agar aku ngak kerepotan gonta ganti mobil untuk belanja dagangan" sahut Edo sedikit emosi, mamanya itu memang benar benar susah untuk di sadarkan.
__ADS_1
"Ncek... punya mertua melulu, kan punya mertua kamu juga jadi hak milik kamu, kan kamu sudah kasih dia cucu satu lagi, wajarlah dia kasih kamu mobil itu sabagai tanda Terimakasih..." ucap Bu Eni tidak tau malu.
"Astaga ma... jadi mama menganggap anak anak ku itu barang dagangan, yang bisa di ganti dengan barang" marah Edo tak menyangka dengan pola pikir mamanya itu.
Bu Eni hanya melengos mendengar bentakan sang anak.
"Sudah Do, ngak usah di dengarin ucapan mama kamu yang mulai gila itu, lama lama dia semakin menjadi jadi, papa ngak segan segan masukin dia ke rumah sakit jiwa" ujar Pak Bandi turut marah mendengar ucapan sang istri.
"Klau ngak gila lalu apa namanya, cucu kamu sama kan dengan barang di jual beli kan, harta orang kami ingin selalu merampasnya, heran saya sam kamu, kenapa say bisa jatuh cinta sama kamu, klau ngak ingat sudah tua dan sudah ada cucu sudah saya tinggalkan kamu, saya bisa cari istri lebih baik dari kamu" ujar Pak Bandi penuh emosi dengan sang istri.
Bu Eni hanya melengos mendengar kemarahan sang suami.
__ADS_1
"Do, Ru, La kalian mulai sekarang berhenti kirim papa uang bulanan, papa rasa semua sudah cukup dengan usaha papa saat ini, dan kami juga sudah punya rumah, ladang lumayan luas, dan sawah, sekarang pikirin gimana buat beli toko sendiri dan punya rumah di kota, dari pada ngontrak tiap tahun bayar bikin sesak dada terlalu mahal" tutur Pak Bandi.
"Itu kewajiban kami pa?!" ujar Edo.
"Ngak nak, selama papa masih bisa, jangan pikirin kami, papa sama mama cuma berdua, usaha papa di sini lebih dari cukup untuk makan sehari hari dan bisa juga buat menabung, kamu juga Do, kamu sudah mau punya anak dua, usahakan beli rumah sendiri jangan melulu bergantung sama mertua dan istri, punya rumah dengan hasil jerih payah sendiri itu lebih nikmat rasanya" tutur Pak Bandi.
"Iya Pa, ini aja aku lagi nabung pa, biar bisa bangun rumah di belakang rumah mertuaku. aku diam diam beli tanah di sana, kejutan buat istri ku pa, lagian aku juga malu masih numpang sama mertua ku itu, walaupun dia itu sangat baik dan pengertian, namun aku laki laki tetap merasa tidak enak hati" ujar Edo.
"Halah... Ngapain harus malu, semua harta istri kamu itu juga harta kamu" sela Bu Eni, namun sayang satu pun tidak ada yang menanggapi ucapan sesatnya itu.
Lila dan Heru sangat senang karena abangnya tidak luluh dengan hasutan sang mama seperti dulu, membuat rumah tangga sang abang berkali kali kandas ulah sang mama.
__ADS_1
Bersambung...