
Edo dan ke dua adiknya sudah sampai di kampung tempat ke dua orang tua dan adiknya tinggal.
"Hufff... akhirnya sampai juga, pegal badan ku" keluh Lila.
"Mana ya Rani? kok belum sampai" gumam Edo.
"Bentar lagi kali bang, nyari minum dulu lah" ujar Heru, dia pergi ke sebuah kios dan membeli tiga gelas teh manis untuk menghangatkan perut mereka.
"Abang...." teriak Rani sambil melambaikan tangannya.
Edo tersenyum senang melihat sang adik dan ikut melambaikan tangan.
"Maaf ya... aku sedikit telat" ucap Rani penuh sesal.
"Ngak kok, kami baru sampai kak" ucap Lila.
"Apa kabar kak?" tanya Lila sambil memeluk Rani.
"Baik... kalian gimana" ucap Rani membalas pelukan sang adik.
"Seperti yang kakak lihat, sepertinya kakak banyak berubah dan kakak semakin cantik tanpa dandan nan menor" ujar Lila dan tersenyum lembut kepada sang kaka.
Lila memang baru tau kalau Rani sudah berhijab, dan kini wajah Rani semakin cantik dan berseri tanpa dempulan yang menor, kini Rani hanya memakai bedak tipis tipis saja dan pakai lipblam di bibirnya, justru dengan penampilan dan riasan sederhana itu justru kecantikan Rani malah terpancar.
"Ah... kamu bisa aja, kakak sudah lama pak hijab semenjak kakak bercerai dan kakak putuskan untuk berhijab dan mendalami agama di kampung ini, kakak ingin berubah" ucap Rani serak mengingat dosa dosanya waktu dulu.
__ADS_1
"Syukur lah kakak sudah berubah, aku berharap kakak selalu istiqomah" do'a tulus sang adik, walau pun Lila belum berjib namun Lila dari dulu selalu memakai pakaian sopan.
"Aamiin....semoga kamu juga ikut berhijab ya dek, pasti kamu semakin cantik" puji Rani, yang dulu tak pernah memuji saudaranya itu, bahkan dia selalu berkata kasar dan menghina Lila.
"Iya kak, aku akan belajar memakai hijab nanti, nanti ajarin ya kak" ucap Lila semangat, melihat kakaknya yang sudah berubah, Lila pun ingin berubah.
"Kak..." panggil Heru.
"Oh... ya ampun, adik kakak ternyata kamu sudah semakin besar dek, dan semakin tampan" ucap Rani berkaca kaca.
"Kakak cantik banget pak pakaian tertutup gini, apa lagi make up menornya sudah ngak ada, makin cantik deh" puji Heru yang ikutan pangling melihat sang kakak.
"Kamu bisa aja dek" ucap Rani tersepu malu.
Edo hanya tersenyum melihat tingkah ke tiga adiknya itu.
"Haa... iya iya, ayo... kita pulang nanti di rumah kita lanjut" ucap Rani yang tersadar mereka masih berada di terminal.
Rani membawa ketiga saudaranya itu menuju sebuah angkot yang sedang mangkal di pintu terminal itu dan naik ke dalam angkot tersebut.
Tak berapa lama Rani menyetop angkot tersebut dan turun pertigaan kembali menaikin angkot menuju rumah mereka.
Lima belas menit berlalu akhirnya mereka sampai di rumah Rani dan ke dua orang tuanya tunggui.
Mereka melihat papanya sedang menunggu ke dagangan mereka di depan teras rumah itu dengan gelisah.
__ADS_1
"Pa...." teriak Lila memanggil sang papa.
"Lila... anak papa" ucap Pak Bandi sambil berjalan cepat menyusul sang anak dan memeluk Lila dengan erat.
"Kemana aja kalian nak, papa khawatir dengan kalian ber dua, papa sudah mencari kalian kemana aja tapi ngak ketemu" ucap Pak Bandi sedikit serak.
Memang lah Pak Bandi sudah mencari anak anaknya kemana pun namun tidak pernah ketemu.
"Maafin kami pa... kami pergi ke kota xx, kami kerja di sana beberapa tahun, dan kami baru pulang beberapa hari yang lalu, kami mencari kalian ke rumah kak Seli namun kata orang orang di sana papa dan mama sudah ngak tinggal di sana lagi, kami ketemu sama salah seorang warga, dia bilang abang ada di dekat rumah kak Renata, jadi kami cari abang kesana, dan kami putuskan untuk pulang ke kampung melihat kalian, sebelum kamu mulai buka usaha di sana" terang Rani.
Pak bandi mengangguk angguk tanda mengerti.
"Masuk dulu, kalian pasti capek, nanti jangan hiraukan kalau mama kalian bicara aneh aneh dengaren aja" ucap Pak Bandi memberi tahu anak anaknya.
Edo, Lila dan Heru mengangguk tanda mengerti, mereka sudah tau dengan watak sang mama, jadi sudah tidak aneh buat mereka.
"Assalamualaikum..." salam mereka serempak.
"Wa'alaikum salam..." sahut Pak Bandi dan Rani.
Si dalam rumah terlihat Bu Eni sedang menonton tv dan mengalihkan matanya ke arah pintu mendengar salam dari anak anaknya, namun dia enggan untuk menyamperin anak anaknya itu, dia masih kesal dengan Edo yang tak mau memberi dia uang dan tidak mau lagi dia pengaruhi membuat dia membenci Edo, apa lagi kini dia sengaja di ajak pindah ke desa terpencil ini, membuat Eni semakin kesal.
"Apa kabar ma....?" ucap Edo lembut.
"Lihat aja sendiri, emang ngak punya mata!" ketus Bu Eni dan kembali melihat acara tv, tanpa memperdulikan anak anaknya yang baru datang.
__ADS_1
Pak Bandi dan Rani hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Bu Eni tersebut.
Bersambung...