
"APA... RENATA HAMILLL....BAPAK PUNYA CUCU LAGI, GITU...!" pekik ayah Renata yang baru sadar.
"Iya Ayah.... Ayah bakal punya cucu lagi, tapi belum pasti, nanti kita periksa dulu ke dokter obgyn" ujar Edo terkekeh melihat tingkah konyol mertuanya itu.
"Angga mau punya adik Yah... Angga jadi abang ya Yah..." sorak Angga yang ikut bahagia mendengar sang bunda sedang hamil.
"Iya sayang... Angga bakal jadi abang, senang ngak punya adik?" tanya Renata yang masih sedikit pucat.
"Senang dong bun... kan Angga sudah lama pengen punya adik" ujar Angga sambil memeluk bundanya.
"Haiii.... Adikk... Ini abang, sehat sehat di dalam perut bunda ya, nanti kita bisa main bersama" ucap Angga di depan perut sang Bunda, membuat siapa saja ikut terharu dengan perkataan Angga itu.
"Nanti Abang mau ngak bantuin bunda jaga adik?" tanya Edo.
"Mau dong, nanti Angga akan jaga adik setelah pulang sekolah" semangat anak kecil itu sambil mengelus elus perut datar sang bunda dengan tangan kecilnya itu, senyum pun tak luntur dari bibir mungilnya itu.
__ADS_1
"Tuhan itu sangat baik sama Angga ya Bun....?!" ujar Anak kecil itu dengan senyum terkembang di bibirnya.
"Emang kenapa Angga berfikir seperti itu, emang dari apanya Tuhan baik sama Angga?" tanya Renata yang ingin tau jawaban anaknya, dan yang lain juga setia menunggu jawaban sang anak.
"Iya Tuhan selalu mengabulkan permintaan Angga, pertama Angga minta sama Tuhan sangar bunda berhenti kerja dan banyak waktu buat Angga, akhirnya Tuhan kabul kan, ke dua Angga ingin ketemu Ayah dan ingin di peluk sama Ayah sekali aja seumur hidup Angga, Angga ingin merasakan di gendong Ayah, Tuhan juga kabul kan, buktinya Angga sekarang bukan hanya sekali Angga di peluk di sayanh dan di gendong ayah,tapi setiap hari, setiap saat Angga minta Ayah selalu ada, ke tiga Angga ingin adik, Tuhan juga kabulkan, kini ada adik Angga di dalam perut Bunda" ucap Anak itu tanpa beban, tapi tak tau kah dia, perkatannya menyentil hati Ayah bunda, bahkan Kakek Neneknya ikut tersentil.
Edo tidak tahan menahan laju air matanya, dia merengkuh sang anak, merasa bersalah karena perbuatan dia anak dan istrinya tersakiti.
Begitu pun dengan Renata dia juga tidak bisa menahan air matanya, karena ambisinya ingin menjadi orang yang lebih dari segalanya, dia lupa ada anak yang butuh kasih sayang, dia pikir dengan banyak uang anaknya akan bahagia, ternyata pikirannya salah, anaknya juga butuh kasih sayang dia seorang Ibu, walau ada kakek nenek dan omnya yang selalu ada untuknya setiap saat namun anak itu juga butuh perhatian Ibunya, sungguh Renata merasa bersalah.
"Ngak apa kok Yah... itu sudah lewat, Angga sudah bahagia sekarang, tapi Ayah jangan berubah lagi ya, jangan tinggal kan kami lagi, Angga ngak mau adik merasakan haus kasih sayang seperti Angga, Angga juga ngak mau Bunda kembali bekerja" ujar anak itu sepertinya ada trauma tersendiri bagi Angga dari perpisahan orang tuanya itu.
"Ngak nak, itu ngak akan terjadi sayang, Ayah janji akan selalu ada buat kalian, bunda juga akan selalu ada buat Angga dan adik nantinya" ucap Edo dalam tangis penyesalannya sudah menyia nyiakan anak istrinya, dia berjanji apapun yang terjadi dia tidak akan mengorbankan keluarga kecilnya lagi.
"Maafin Bunda juga ya sayang, bunda pikir dengan banyak uang, Angga bisa beli apa pun keinginan Angga maka Angga akan senang, ternyata pikiran bunda salah sayang?!" ucap Renata sendu.
__ADS_1
"Ngak apa Bunda, Angga tau kok, bunda cari uang buat Angga, tanpa uang mana bisa kita makan enak, Angga minta apa pun bisa bunda beliin, cuma Angga Iri aja sama teman teman yang suka di temanin sama bundanya" ujar Anak itu.
Hati Edo semakin tercubit mendengar itu semua, harusnya anaknya tidak mengalami hal seperti ini, namun karena kebodohannya, dia membuat anak dan istrinya menderita.
"Maafin Mas...." ujar Edo memeluk Renata, sambil menangis di pundak sang istri.
"Ngak apa mas... semu sudah berlalu" ucap Renata menenangkan hati suaminya itu, dan mengelus punggung sang suami dengan lembut.
Orang tua Renata ikut menangis melihat drama keluarga kecil itu.
"Semoga mereka selalu bahagia ya Pak, ngak ada lagi yang bikin mereka berpisah, kasihan anak dan cucu cucu kita" ujar Ibu Renata.
Ayah Renata hanya mampu mengangguk kan kepalanya, tanpa bisa mengeluarkan suara, karena saking terharunya.
Bersambung.....
__ADS_1