Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 123


__ADS_3

Pernikahan Rani dan Rinto berjalan dengan lancar, walau tidak mengadakan pesta besar besaran namun tetap terkesahan mewah, karena Rinto sudah menyiapkan semuanya, dia ingin memberikan yang terbaik untuk sang istri, walau pun Rani tidak meminta sama sekali.


"Selamat ya Dek.... Semoga pernikahan kalia ini adalah pernikahan terakhir sampai mau memisahkan" tutur Edo penuh haru.


"Iya bang makasih do'annya" jawab Rani memeluk sang abang.


"Selamat ya kak, semoga pernikahan kakak sakinah mawadah warohmah, dan cepat punya momongan" ujar Lila mengucap do'a untuk sang kakak.


"Selamat ya kak, bang aku semoga kalian bahagia sampai akhir" tutur Heru ikut senang melihat pernikahan sang kaka.


Rinto dan Rani tampak sangat bahagia di pelaminan itu, Rinto tak henti hentinya memegang tangan istrinya itu, padahal dulu sebelum halal jangan kan pegangan tangan, bersenggolan saja laki laki itu lansung buru buru menghindar, namun sekarang tangannya selalu gatal ingin menyentuh sang istri.


Di pojokan sana Rasti menatap benci ke arah pelaminan itu, melihat bagaimana Rinto memperlakukan Rani, melihat Rinto yang selalu tersenyum manis, padahal dulu senyum itu susah di dapatkan.

__ADS_1


"Dasar janda sialan, ngapain juga dia datang ke kampung ini, gara gara dia gue ngak bisa bersama abang Rinto, padahal gue udah lama menyukai bang Rinto gara gara dia impian gue jadi kandas" gumam Rasti dalam hati sambil menatap sinis ke arah pelaminan.


"Kamu ngapain ngeliat gitu Ras" tanya teman kerjanya.


"Ngak ada" ketus Rasti.


"Kamu ngak usah segitunya Ras, bukan kamu ajak kok yang patah hati, semua para perempuan di toko kita dan samping samping kita merasa patah hati kok, karena bang Rinto menikah, tapi santai aja tuh, lagian kitanya hanya bisa mengagumi dia, selama ini bang Rinto ngak pernah memberi harapan sama kita, yang dia tatap dari dulu hanya mbak Rani, kita aja yang terlalu memuja dia" ujar teman Rasti menasehati temannya itu.


"Lah itu luoe yang badoh, ngapain juga ngorbanin cita cita loe buat cowok yang sama sekali ngak mandang loe" kekeh temannya itu tak habis pikir dengan Rasti jelas jelas Rinto ngak pernah memberi harapan atau tebar pesona sama cewek cewek di sana, mereka aja yang ke semsem sama cowok tampan dan baik hati itu, namun irit bicara.


Rasti hanya mendelik tidak suka dengan ucapan temannya itu, yang mengatai dia bodoh.


"Bang Rinto habis nikah tersenyum mulu ya, ngak nyesal gue datang ke undangan dia, dapat bonus senyum bang Rinto, selama ini hanya senyum tipis yang bisa kita lihat, tapi itu cuma di kasih buat mbak Rani" ucap teman teman Rinto dan Rani.

__ADS_1


"Iya... Semenjak ada mbak Rani aja tu bang Rinto bisa senyum dulu mah pernah"


"Iya... Tuh... Lihat udah pintar becandain mbak Rani dari tadi ngak pernah lepasin tangan mbak Rani"


"Dengar kan Ras... Bang Rinto itu dulu seperti apa, jadi jangan kamu salahin mbak Rani, Cinta loe aja yang salah" ujar teman Rani.


Rasti yang di katai seperti itu hanya bisa mendengus kesal.


"Cih... Apa hebatnya janda itu coba" ketus Rasti yang tidak terima.


"Apa loe pura pura amnesia Ras, selama kita kerja apa pernah kita bagi bagi bonus, tapi karena ada mbak Rani dapat bonus dari pelanggan kita dapat bagian juga walau kita ngak jualan, apa loe lupa cara mbak Rani melayani orang sepenuh hati toko kita pelanggan makin banyak, apa mbak Rani pernah membiarkan kita kesusahan selama ini, itu aja loe ngak bisa ingat Ras, karena rasa iri loe itu, hanya mbak Rani yang bisa meluluhkan hati bang Rinto Ras, jadi buang rasa yang loe pendam dalam hati loe itu, dari pada loe semakin sakit hati" ujar temannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2