Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 101


__ADS_3

"Assalamualaikum...." ucap Salam Edo yang menghentikan pembicaraan mereka di meja makan itu, walau Edo sudah mendengar apa yang mereka ucap kan, namun Edo berpura pura tidak tau, begitupun dengan Angga lebih bisa menyembunyikan perasaannya dia yakin sebentar lagi bisa hidup bersama ke dua orang tuanya.


"Wa'alaikum salam...." serempak jawab mereka di sana.


"Wah.... ada yang senang nih!" goda Bagus kepada ponakan tampannya itu.


"Iya dong Ayah Angga sudah pulang tentu saja aku senang" ujar Angga tersenyum manis.


"Ya sudah... lanjut makan sayang, biar di anter sama Ayah..." ujar Renata lembut.


"Ta... ambilin piring buat Edo, sekalian sarapan" titah sang ayah.


"Ngak usah pak, tadi sebelum kesini sudah sarapan" tolak Edo tak enak hati. sambil melirik kearah renata.


"Yah... si abang pakai nolak, ngak lihat tuh... makanan kesukaan abang" sela Bagus.


"Makan dikit aja ya mas, biar nemanin Angga makan" ujar Renata.


"Boleh deh" ucap Edo malu malu, saat melihat sang anak melihat ke wajah Edo penuh harap.


Ayah Renata hanya tersenyum simpul melihat tingkah Edo bak ABG labil yang sedang jatuh cinta.


"Ayah sudah selesai, ayah duluan ya, ayah mau lansung ke toko, ada barang masuk pagi ini" ucap Ayah Renata.


"Ibu nganter Ayah ke depan dulu" sang istri pun ikut menyusul suaminya.


"Aku juga sudah selesai, aku berangkat dulu ya kak, bang?!" izin Bagus.

__ADS_1


Renata dan Edo hanya mengangguk, tanda mengerti, Angga sudah fokus sama makanannya.


"Dek, ini mas bawa sedikit oleh oleh dari kampung" ucap Edo memberikan kantong yang dari tadi dia pegang.


"Iya mas, makasih... kok segala repot repot sih" Renata.


"Ngak repot kok, cuma bawa oleh oleh itu aja" Edo.


"Ya udah mas makan gih..." suruh Renata.


"Iya bareng sama kamu ya.." ucap Edo sambil tersenyum manis.


membuat jantung Renata deg degan melihat senyum manis itu.


"B-baik lah...." patuh Renata.


"Jangan liatin Re mulu ih... makan makan aja sana" ucap Renata salah tingkah dengan pipi memerah bak kepiting rebus, karena di pandangin terus oleh Edo.


"Kamu semakin cantik" jujur Edo, tentu saja membuat pipi renata semakin merah merona.


"Mas bisa diam ngak" cemberut Renata sambil memalingkan wajahnya ke arah samping, agar Edo tak melihat wajah merahnya itu.


Edo hanya terkekeh dan lansung menyantap makanan yang ada di depan matanya, dia tidak mau lagi melihat ke arah Renata, dia tau mantan istrinya itu malu di goda olehnya.


Angga tau ayahnya sedang meluluhkan hati sang Bunda, jadi dia hanya diam dan pura pura cuek, seolah olah tidak tau, padahal hatinya bersorak riang gembira melihat itu semua.


"Masakan Bunda enak ya...Yah...." ujar Angga.

__ADS_1


"Hmm....selalu enak, dan bikin ayah nagih" jawab Edo.


"Iya Yah... aku juga selalu suka masakan Bunda, lihat lah badan aku ngak pernah kurus, itu semua gara gara bunda, yang selalu gagal bikin masakan ngak enak, jadi aku keterusan makan sampai makanan tak bersisa" ujar Angga.


"Hahaha.... kamu ini ada ada saja, mana ada orang mau gagal buat masakan enak, dasar kamu!" gemes Edo mengacak rambut sang anak.


Renata juga terkekeh mendengar celotehan buah hatinya itu.


"Sudah selesai belum, klau sudah buru berangkat sekolah, malah asik ngobrol, nanti telat loh..." sela Renata.


"Eehhh... iya, sudah siang, jadi lupa waktu kan, ayo sayang ayah antar ke sekolah" ajak Edo.


"Yah ayah... aku ambil tas dulu ke kamar" Angga berlari ke kamarnya untuk mengambil tasnya.


"Dek, mau ngak nanti siang kita makan di luar!" tanya Edo kepada Renata, tekadnya sudah bulat ingin meminta Renata kembali menjadi istrinya, apa lagi tadi saat mendengar orang tua Renata memberi lampu hijau, dia tidak ingin mundur lagi, dia sudah bertekad ingin mempersunting Renata secepatnya.


"Mmm... gimana ya, Angga ikut kan?" tanya Renata.


"Ngak... aku ngak mau ikut, Angga mau pergi sama Om, jadi Bunda aja sama Ayah yang pergi" tiba tiba anak itu sudah berada aja di dekat mereka.


Angga tau Ayahnya ingin mendekati bundanya lagi, dia akan memberi waktu untuk sang ayah.


"Anak pintar, tau aja ayahnya mau pedekate" gumam Edo dalam hati.


"Baik lah, nanti mas jemput aja, aku mau beberes dulu" jawab Renata.


"Ok, nanti mas jemput, dandan yang cantik" bisik Edo di telingan Renata sebelum berlalu dari ruang makan itu.

__ADS_1


"Ish... dasar, bikin jantung gue deg degan aja" gerutu Renata, memandang punggung Edo yang sudah menjauh dari hadapan nya.


__ADS_2