
"Ayah..." teriak Angga saat ke luar dari kelas anak ganteng itu lansung berlari menyongsong Ayahnya dengan wajah berbinar.
Edo lansung melihat ke arah sang anak, karena tadi matanya sedang fokus memandang hpnya, karena ada pelanggannya yang memesan barang.
Edo terkekeh melihat tingkah sang anak, dan lansung berjongkok dan membetangkan ke dua tangannya agar sang anak masuk ke dalam pelukannya.
Hap.....
"Kenapa lari lari hm.... klau jatuh bagaimana?" tanya Edo sambil memeluk anak semata wayangnya itu.
"Adek lagi senang Yah... tadi adek kuis dapat nilai seratus" bangga Angga.
"Waahhhh..... benar kah..." tanya Edo tak kalah bahagianya.
"Hmmm...." Angguk Angga dengan cepat.
"Anak Ayah memang pintar, Bunda mu... berhasil mendidik anak Ayah ini!" seru Edo dengan bangga.
"Kan Ayah juga suka bantuin Angga belajar, bearti Ayah juga berhasil dong..." ucap Angga juga membanggakan Ayahnya itu.
Tiba tiba mata Angga lansung berkaca kaca, sungguh menyesal dia mengingat masa lalunya yang brengsek.
"Maafkan Ayah...." ucap Edo serak.
"Ayah... jangan sedih, yang lalu biarlah berlalu, yang penting sekarang Ayah ngak akan ninggalin Angga lagi kan?" menenangkan Ayahnya, dan mengecup pipi Ayahnya bertubu tubi.
"Ayah tidak akan meninggalkan kamu lagi nak, Ayah akan selalu berada di samping mu hingga besar nanti" janji Edo, dan menatap anaknya dengan sungguh sungguh.
"Ayah janji ya...." Angga memberikan jari kelingkingnya kepada Edo. Edo lansung menyambutnya.
"JANJI...." ucap Ayah dan Anak itu serentak dan setelahnya mereka tertawa bersama.
__ADS_1
"Ayo... pulang, Ayah ingin mengenalkan kamu sama Om dan Tante mu" ujar Edo.
"Mereka ngak jahat kan Yah... kaya nenek waktu itu?" tanya Angga sedikit ragu, karena dia masih punya trauma bertemu dengan keluarga Ayahnya itu.
"Ngak kok Nak, mereka baik kok" ucap Edo dengan tersenyum miris, dia tau anaknya masih trauma mengingat kejadian dengan Mamanya waktu itu.
"Ya udah yuk... kita pulang" ajak Angga.
Edo lansung memasangkan helm di kepala sang anak, dan setelahnya Edo pun memakai helm sendiri dan menstater motor lansung meninggalkan sekolah dengan kecepatan sedang.
"Lihat lah si Angga, walau pun Bunda dan Ayahnya bercerai, tapi anak itu tetap mendapat kasih sayang yang penuh dari ke dua orang tuanya" Ibu ibu mulai bergosip.
"Iya saya juga salut sama Renata, padahal sudah di sakiti terlalu dalam, tapi demi anak dia bisa berdamai dan mengalahkan ego nya"
"Untungnya si Edo itu juga mau berubah dan tak sebejat dulu lagi" di anggukin oleh ibu ibu lainnya.
"Dan saya juga salut sama orang tua Renata, demi cucu mereka, mereka dengan berbesar hati memodali usaha manta menantunya dan memberikan satu buah toko kepada mantan menantunya, agar cucunya bisa mendapatkan kasih sayang orang tua yang lengkap.
Begitulah gosip gosip ibu ibu di siang hari itu, sambil menunggu anak anak mereka keluar dari kls masing masing.
"Waaahhh... ponakan tante ganteng sekali" ucap Lila memeluk Angga dengan penuh kasih sayang dan mengecup pipi putih bersih dan sedikit caby itu dengan gemes.
Angga yang di perlakukan seperti itu hanya tersenyum malu malu, karena baru kali ini di cium oleh orang asing.
"Kamu mirip sekali dengan Bunda mu sayang..." seru Heru sambil mengacak gemes rambut Angga.
"Iya, aku Bunda Renata Versi laki laki" kekeh Angga.
Hahahahah...
"Bisa aja kamu jawabnya" sahut Heru terkekeh mendengar ucapan keponakan semata wayang nya itu.
__ADS_1
"Kan kata orang orang memang begitu Om..." polos Angga.
"Iya iya, benar itu" ucap Edo melerai mereka.
"Sekarang kita makan dulu yuk..." ajak Edo kepada ke dua adik dan anaknya.
"Ayo... aku sudah dari tadi lapar, tapi Ayah masaknya lama banget" keluh Angga memegang perutnya yang berpura pura benar benar kelaparan.
Edo hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan random sang anak.
"Ya sudah ayo makan yang banyak, biar ngak kelaparan lagi" ujar Edo menggandeng sang anak, dan di ikuti oleh Heru dan Lila.
sesampai di dapur mata Heru dan Lila melotot tak percaya abangnya itu bisa memasak banyak menu, padahal dulunya dia hanya taunya menyuruh nyuruh saja.
"Ini benaran abang yang masak, ngak beli kan..." tanya Lila yang masih belum bisa percaya sepenuh hati.
"Iya iya lah abang yang masak, emang siapa lagi" ucap Edo menatap malas ke arah Lila.
Lila yang di tatap seperti itu hanya cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf... abisnya kan dulu abang sukanya hanya menyuruh nyuruh kami saja, makanya aku sedikit ngak percaya" cengir Lila, dan di anggukin oleh Heru.
"Kan setiap orang bisa berubah ke yang lebih baik lagi, abang masak karena abang ingin anak abang juga bisa mencicipi masakan Ayah juga, bukan hanya Bundanya saja yang bisa memasakan makanan buat dia, dan abang juga ingin menebus kesalahan abang di masa lalu" tutur Edo.
"Ahhh.... abangku, kau berubah sangat jauh, kami sangat menyayangi kamu bang" ucap Lila memeluk Edo dengan erat.
"Eiitttsss..... Angga juga mau pelukan sama Ayah juga" ucap Edo dan ikut memeluk sang Ayah dengan erat.
Tentu saja Edo sangat bahagia mendapatkan pelukan kasih sayang dari ke dua adiknya, yang dari dulu tidak pernah mereka lakukan.
Bersambung....
__ADS_1