Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 109


__ADS_3

Di tempat yang berbeda Bu Eni marah marah kepada suami dan anaknya, karena baru di ksih tau klau Edo dan Renata kembali rujuk, dia tidak terima.


"Apa apaan sih papa ini mau aja ngerestui Edo kembali sama perempuan itu, klau mau balikan harusnya minta uang sama perempuan itu, ayo... kita balik ke jakarta mama mau nemuin perempuan itu, mama mau minta uang sama dia, enak saja senang senang pak uang anak kita, sementara kita di sini hidup susah, ayo kita kembali ke jakarta.


"Maaa... kapan sih, kamu ini sadarnya, kapan Renata senang senang pakai uang Edo, yang ada Renata itu yang bantu Edo bisa sukses seperti sekarang ini, bukan hanya Edo ma... tapi Lila sama Heru juga di bantu sama Renata, mama ini... kenapa ngak berubah berubah sih, hanya ada uang uang saja isi kepalanya!" Kesal Pak Bandi.


"Cih... sukses apanya, buktinya sangat pelit, ngak pernah ngirimin uang buat mama, dan sekarang malah mau nanggung anak orang lagi, dasar anak tidak tau di untung!" maki Bu Eni.


"Maa... rumah kita ini klau bukan bantuan uang dari Edo aku ngak bakal bisa beli dengan penghasilan papa sama Ranu ma, ini juga Edo yang nambahin uangnya, dan satu lagi, Edo tiap bulan kirim uang buat makan kita, asal kamu tau" sarkas Pak Bandi.


"Lagian siapa suruh beli tanah dan bangun rumah di kampung, mam kan ngak mau tinggal di kampung ini, bisa stres lama lama tinggal di sini, yang setiap hari yang di dengar ceramah dan kajian terus, ngak ada tempat tempat nongkrong, ibu ibu di kampung sini pada kuno" dengus Bu Eni memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Pak Bandi dan Rani hanya bisa mengurut dada dan geleng geleng kepala melihat kelakuan Bu Eni tersebut, mereka bingung dengan cara apa harus menyadarkan Bu Eni.


"Terserah mama, yang penting sekarang Edo sudah nikah lagi dan dia bisa membahagiakan anaknya" sahut Pak Bandi meninggalkan Bu Eni, lebih baik dia mengurus ayam dan ternak filenya dari pada mendengarkan celotehan Bu Eni yang membuat naik darah itu.


"Mama ngak sudi pa... mama ngak mau dia balikan sama Renata, klau Renata ngak ngasih mama uang, mama pusing ngak punya uang dan ngak bisa beli apa apa keinginan mama" sentak Bu Eni namun di acuhkan sama Pak Bandi.


"Mama mau uang kerja ma, jangan diam aja di rumah, lagian ke inginan apa yang ngak di penuhi semua makanan yang mama minta kami beliin, ouhh... ke inginan main judi lagi, Ohhh... itu tidak akan bisa lagi ma, berubah lah mah, mama sudah tua, kita ngak tau umur kita sampai kapan, klau mama ngak sholat, ngak ngaji, mama ngak bertaubat dengan segala dosa dosa mama, apa mama ngak takut masuk api neraka" ujar Rani.


"Bukan nyumpahin mama, tapi memperingatkan mama saja kok, agar mama berubah jadi orang yang lebih baik lagi" ucap Rani lembut.


"Aahhh... sudah lah, ngak usah ceramah budek kuping mama, sebentar lagi juga ada ceramah di mesjid bikin tambah budek kuping mama aja" ucap Bu Eni berlalu ke kamarnya, dan membanting pintu.

__ADS_1


Brakkk...


"Astaga mama..." kaget Rani yang terlonjak dengan kelakuan mamanya itu.


"Rani... masakin mama udang mentega sama cah kangkung" ucap Bu Eni yang kembali membuka pintu kamarnya.


"Ngak ada bahannya ma... makan yang ada aja dulu, tadi aku kan udah masak sup tulang iga" tutur Rani.


"Dasar pelit kamu, katanya keinginan mama kalian penuhi, bukti nya ini apa, minta masak itu aja ngak mau!" sinis Bu Eni.


"Huufff... terserah mama lah, klau mau bikin. sendiri, aku ngak akan masakin, kecuali mama mau cari bahan sendiri dan memasaknya sendiri" rani juga ikut kesal dengan mamanya itu, dan menyusu sang ayah ke arah belakang rumah untuk melihat ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2