Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 48


__ADS_3

"Bun... mana nasi goreng Angga..." tanya Angga mencari sang bunda yang sedang ber kutat di dapur.


"Tunggu sebentar ya nak, ini lagi bunda siapin" ucap Renata sambil memasukan nasi nasi goreng kesukaan sang buah hati ke dalam mangkok.


"Ok... Bunda, Angga tunggu di meja makan" ucap Anak itu sambil berjalan ke meja makan dan lansung duduk di kursi yang biasa dia duduki sambil menyeruput susu coklat ke sukaan anak ganteng itu.


"Eehhh... cucu kakek sudah ada di sini, kok tumben belum di panggil sudah nongkrong di meja makan?" tanya sang kakek sambil mengelus rambut anak kecil itu.


"Iya, nanti nasi goreng adek di habisin sama Om Bagus" jawabnya dengan bibir monyongnya.


"Haiii... bocil, pagi pagi sudah ngajak gelut ya... siapa yang mau ngabisin nasi goreng kamu" omel Bagus yang sudah rapi dengan pakaian dab tas sandang untuk berangkat ke kampus, walau cuaca tidak bersahabat, namun dia tetap semangat belajar, agar cepat tamat, dan tidak merepotkan sang kakak lagi.


"Hehehe... ngak ada kok Om" cengir anak kecil itu, sambil mengedip ngedipkan mata lucu.


Kakeknya hanya terkekeh melihat tingkah lucu cucu satu satunya.


"Nasi goreng datang....!" teriak Renata membawa nasi goreng dalam mangkok, di ikuti oleh sang ibu dari belakang membawa piring dan sendok.


"Huaaa.... nasi goreng banyak...!!" teriak Angga penuh semangat.

__ADS_1


Renata hanya tersenyum dan kembali ke belakang mengambil telur mata sapi, kerupuk dan bawang goreng.


"Dek... kamu bawa mobil aja, hujan lumayan deras itu" ucap Renata sambil mengambilkan nasi goreng buat Angga yang sudah mengiler.


"Iya kak, niatnya emang gitu" kekeh Bagas.


"Trus bunda mau naik apa klau mobilnya di bawa om?" tanya Angga yang mengkhawatirkan ibunya.


"Bunda bareng Kakek Diman, tadi kakek tlp mama, katanya mau lewat tempat kerja mama jadi sekalian" tutur Renata sambil mengelus kepala anaknya, dia terharu dengan perhatian anaknya yang baru 5th lebih itu, tapi sudah posesif kepadanya.


"Angga juga mengangguk anggukan kepalanya, melihat interaksi Ibu dan Anak itu membuat keluarganya tersenyum, mereka bangga kepada anak kecil itu, dari kecil sudah memperhatikan sang Bunda.


Assalamualaikum...


"Bang... bawa mobil kan?" tanya Elko kepada Bagus.


"Bawa, kenapa emang, mau nebeng ya?" goda Bagus, kampus Bagus memang melewati sekolah Elko, dia memang sering nebeng sama Bagus, klau dia malas naik motor.


"Tau aja bang..." kekeh Elko lansung duduk di meja makan itu, dan lansung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng, sebelum di suruh makan oleh pemilik rumah.

__ADS_1


"Ya sudah... buru makan, nanti kalian telat" ujar Renata, adek habisin makanya ya, bunda mau mandi, mau berangkat kerja" ucap Renata dengan lembut kepada anak semata wayangnya.


"Ok... Bunda" saut Angga dengan mulut penuh nasi.


"Aku berangkat ya Yah, Bu..." ucap Bagus menyalami Ibu dan Ayahnya, tidak lupa mencium pipi keponakannya.


"Iya... hati hati, jangan ngebut ngebut, jalanan licin, sama jarak pandang terbatas, bawa payung noh, takut masih hujan di kampus" ucap sang ibu.


"Ok... Ibu peri" Bagus memberikan jempolnya kepada sang ibu.


"Wak... Elko berangkat ya" ucap Elko menyalami ke dua paruh baya yang masih menunggu cucunya makan itu, dan mencium Angga.


"Kamu bawa payung juga Ko... masih deras itu hujan.


"Iya wak... Ada kok payung, tadi kan aku bawa payung ke sini" cengir Elko, dan di anggukin oleh ke dua kakek nenek itu.


"Nenek Angga sudah kenyang" ucap Angga mengelus perutnya yang sudah membuncit.


"Ohh... cucu nenek sudah kenyang, ya sudah sana nonton tv" titah nenek nya.

__ADS_1


Angga mengangguk, dan berjalan menuju ruang tengah.


Bersambung...


__ADS_2