
Hari berlalu bulan berganti, kini kehamilan Renata sudah memasuki bulan ke 5 membuat Edo semakin posesif kepada sang istri, karena ini kali pertama bagi Edo mengurus istri hamil, walau anaknya sudah mau dua, maklum dulu dia sudah berpisah dengan sang istri.
Bu Eni sudah mulai ada perubahan, sudah mau vidio call dengan cucu dan menantinya, walau belum akrab, baru bertanya kabar dan mengajak Angga bercanda, tapi itu sudah membuat Edo senang.
Rumah baru mereka juga sudah mulai di bangun, Edo akhirnya memberi tau klau dia membeli tanah di belakang rumah Renata itu, untuk pembangunan rumah tentu saja Edo butuh masukan sang istri.
Pagi ini Renata akan periksa ke dokter kandungan di temani oleh Edo, tadinya Angga ingin ikut namun dia harus sekolah.
"Ya.... Abang ngak jadi ikut lihat adek dong" cemberut Anak itu, karena hari ini dia akan ulangan.
"Ngak apa apa, nanti abang kan bisa lihat foto adek" bujuk Renata.
"Aahh... benar juga, adek nanti mukanya liatin ke komputer ya, abang ingin lihat wajah adek" ujar Angga sambil mengelus perut sang bunda.
Dug....
"Yaa.... Adek nya nendang tangan abang" pekik Angga ke girangan.
"Bearti Adeknya dengerin ucapan abang" ucap Edo.
"Ayah.... Nanti rumah baru kita di bikin kolam renang ya Yah, biar abang sama adek bisa renang di rumah, jadi ngak perlu ke kolam renang lagi" ucap Angga.
__ADS_1
"Baik lah... nanti kita buat kolam renang" ujar Edo menyetujui permintaan sang anak.
"Bikin taman bermain juga ya Yah..." ujar Angga lagi.
"Waahhh... abang banyak mintanya" kekeh Edo, namun dia tetap akan memikirkan permintaan sang anak.
"Ya sudah bikin aja Do, nanti kita tanam pohon biar ngak ke panasan anak anak bermain" ujar Ayah Renata memberi usulan.
"Mau sih Yah, tapi takutnya klau di buat Taman sama kolam renang rumah jadi kecil Yah" ujar Edo sedikit bingung.
"Ya udah, bongkar aja pagar belakang itu, jadi kan bisa pakai taman belakang, kan taman belakang rumah ini lumayan luas" ujar Ayah Renata.
"Ya ngak apa apa lah ini kan juga rumah Renata juga yang ngak masalah, sekalipun ini tanah milik Ayah sama Ibu emang kenapa, ini kan buat cucu kami juga" ujar ibu ikut nimbrung.
"Ya udah klau gitu nanti aku kasih tau sama kontraktor nya, taman rumah ini di gabung sama taman rumah belakang jadi satu, bisa bikin kolam renang, taman bermain, sama kebun ibu kan jadi enak ya" Ujar Edo.
"Nah kan dari kemaren udah di kasih tau, bilangnya ngak enak, ngak enak gitu mulu" omel Renata, ibu hamil itu semenjak hamil 3 bulan cerewetnya minta ampun, sang suami selalu salah di matanya, Edo tau istrinya itu hamil memang suka aneh aneh hanya sabar dan diam saja di omelin istrinya, kadang dia di tertawai oleh Bagus, di bilang anak abang balas dendam, Edo hanya mendengus kesal di ledek adik iparnya, apa lagi kalau Renata sudah menyuruhnya tidur di luar semakin jadi aja Bagus meledek abang iparnya itu.
"Bunda jangan marah marah mulu, nanti adek abang pemarah juga seperti bunda" cetus Angga dengan polosnya.
"Habis Ayah abang ini yang bikin kesal" menyalahkan Edo.
__ADS_1
Edo hanya bisa garuk garuk tengkuk yang tidak gatal.
"Sabar" ujar Ayah Renata menepuk menepuk pundak sang menantunya dengan terkekeh.
"Ya udah berangkat sana, takutnya Angga telat" lerai sang Ibu.
"Ah... Iya, jadi lupa" ujar Edo menepuk jidat.
"Belum tua sudah pikun" ucap Ibu hamil itu, sambil berjalan mendahului anak dan suaminya.
Hahaha....
Bagus tertawa lepas dari dekat pintu kamarnya, Edo hanya melotot kesal melihat adik iparnya itu.
"Bagus... iseng banget sih kamu" omel sang Ibu.
"Demen aja Bu lihat abang terzolimi" kekeh Bagus.
Edo hanya mendengus kesal mengejar sang istri, takut bumil itu berteriak lagi bisa berabe untuk kedamaiannya.
Bersambung....
__ADS_1