Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 98


__ADS_3

Sementara di tempat nun jauh di sana, setelah menerima telpon dari anaknya membuat senyum Edo tak luntur dari bibirnya, bukan hanya sang anak yang membuat dia tersenyum seperti itu, namun Bunda sang anak lah membuat jantungnya mulai tidak normal kembali, setelah di pisahkan dengan jarak, yang biasanya mereka selalu berjumpa setiap hari, namun sudah beberapa hari terpisah membuat Edo memendam rindu bukan hanya kepada sang anak, namun juga kepada sang mantan istri.


Hmmm...


Hmmm...


"Kenapa senyum senyum sendiri, kaya orang yang sedang kasmaran?" kekeh Lila menggoda sang abang.


"Apa sih dek, abang habis telponan sama Angga doang kok" kilah Edo yang tidak ingin di ketahui sang adik, klau dia sedang memikirkan Bunda sang anak juga.


"Sama bundanya juga boleh kok bang, ngak ada yang larang loh, klau masih cinta kenapa ngak di pepet aja sih, ntar keduluan orang baru tau rasa, mbak Renata itu sekarang jauh lebih cantik dan **** dari pada dulu, banyak yang ngincar loh bang" ucap Sang adik panjang kali lebar.


Edo hanya mendengus mendengar godaan dari sang adik, bagaimana bisa dia mendekati Renata lagi, bukan tidak mau, hanya saja dia takut akan menyakiti Renata dan anaknya kembali, selagi mamanya belum berubah, Edo sedikit trauma soal itu.

__ADS_1


"Kenapa malah kesal di kasih tau?" tanya Lila heran.


"Abang sih... pengen banget balikan sama Renata, tapi.. abang takut membuat anak abang dan Renata kembali tersakiti, apa lagi mama masih begitu" keluh Edo menerawang memikirkan hidupnya, jujur dari lubuk hatinya paling dalam, melihat Renata di dekati oleh banyak laki laki tampan dan mampan membuat Edo tidak terima, dia masih berharap sang mantan kembali kepadanya, namun ada ketakutan sendiri juga klau Renata kembali kepadanya.


"Abang harus meyakinkan hati abang duku, apa pun keputusannya kami akan dukung abang, kami siap menjadi garda terdepan buay abang, masalah mama abang jangan fikirkan ada papa dan kak Rani yang akan menjaganya, mama tidak akan bisa keluar dari desa ini, secara papa dan kak Rani tidak pernah memberi mama uang" ujar Heru ikut menasehati Edo.


"Benar nak, kamu pikirkan dulu, dan sholat istiqaroh dulu, minta petunjuk sama Allah, soal mama mu, kamu tenang saja, papa yang akan menjaga dan mengawasinya, kini fikirkan anak mu, dia sangat merindukan orang tuanya bersatu" ujar Pak Bandi bijak, dia memang sudah berubah.


Edo hanya mengangguk setelah mendengar saran dari semua keluarganya.


"Adik mu itu, sebenarnya tau, cuma dia masih engan untuk memulai hubungan dengan lawan jenis, dia seperti rendah diri" gumam Pak Bandi mengingat anak gadisnya itu.


Edo hanya mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


"Kasian Rani ya pa, gara gara kita dia jadi korbanya, untung nya Lila tidak ikut ikutan" keluh Edo dalam penyesalanya.


Edo merasa apa yang terjadi kepada Rani, itu adalah karma dari pembuatannya yang suka mempermainkan perempuan di masa lalu.


"Abang jangan merasa bersalah, itu sudah takdir Rani juga, apa lagi saat itu Rani sendiri yang mau sama laki laki itu, padahal Rani sangat tau dia sudah mempunyai dua istri, Rani malah dengan berani beraninya ingin menikah dan menjadi istri ketiga laki laki itu tanpa perasaan, dan akhirnya Rani sendiri yang tersiksa, itu murni kesalahan Rani bukan kesalahan abang, mama dan papa, jadi kalian jangan merasa terbebani karena Rani ok" ujar Rani panjang lebar, dia tak ingin papa dan abangnya menyalahkan diri mereka, terlepas benar atau tidak karma itu yang dia dapat, Rani tidak perduli, se enggak enggaknya dengan kejadian itu membuat perubahan lebih baik pada hidup Rani dia lebih taat beribadah dan memakai pakaian tertutup sekarang ini.


"Kamu adik abang yang paling kuat semoga Allah menerima pintu taubat kita semua dan kamu, Lila, Heru dan abang mendapatkan jodoh yang baik setelah ini" ujar Edo.


"Aamiin..." sahut mereka bersama sama, mengamini do'a Edo tadi.


"Apa kalian hanya akan bercerita sepanjang hari di situ, ngak ada niat buat makan, saya sudah lapar tau!" Ketus Bu Eni yang sudah kelaparan, dia menunggu orang orang di meja makan dari tadi, namun tidak ada satu pun yang datang ke sana, dengan kesal Bu Eni mencari mereka semua, ehh.... ternyata orang orang yang dia tunggu malah asik ngobrol di luar sana, tanpa mengingat dirinya yang sudah kelaparan.


"Eh... ya sudah yuk... kita makan dulu" ajak Pak Bandi, melihat wajah kesal sang istri, bukan takut pak Bandi kepada sang istri, cuma hanya ingin menghindari pertengkaran saja dengan wanita paruhbaya itu dan sialnya wanita itu istrinya sendiri.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam rumah menuju ruang makan mengekori Bu Eni yang sedang menggerutu tidak jelas, namun merek hanya mengacuhkan saja ocehan Bu Eni tersebut, tanpa ada yang ingin menyahutnya.


Bersambung.....


__ADS_2