
Zahra merasa menyesal telah mampir di mall tersebut, membuat anaknya terluka, di pinggir jalan agak jauh dari orang orang kurang waras tadi Renata meminggirkan mobilnya.
"Maafin Bunda ya sayang...?!" seru Renata dengan mata berkaca kaca, merasa bersalah dengan anaknya itu.
"Kenapa Bunda yang minta maaf sama Angga, kan bukan Bunda yang bikin salah sama Angga, tapi nenek nenek itu, emang dia siapa sih Bun..." kepo Angga.
Mau tidak mau Renata memberi tahu sang anak, walau bagaimana pun, Angga juga ada hubungan darah dengan mereka, apa lagi Ayahnya.
"Nenek itu, neneknya Angga sama seperti nenek Sri yang di rumah, Nenek Sri itu Ibu nya Bunda, klau Nenek tadi, dia Ibunya Ayahnya Angga, kalau kakek tadi itu Ayahnya Ayah Angga" Angga hanya mengangguk tanda mengerti.
Setelah bertanya seperti itu, Angga hanya diam tidak bertanya yang lain lagi, apa lagi saat melihat wajah sang bunda sudah suram, Angga tidak mau sang Bunda bersedih karena pertanyaannya.
"Apa ini sakit nak..?!" tanya Renata memegang pipi bocah lucu itu.
"Perih Bun..." manyun Angga, memperlihatkan wajah imutnya.
__ADS_1
"Kita obat dulu ya?" Renata lansung mengambil kotak p3k, dan lansung mengobati wajah sang anak, Angga sedikit meringis merasakan perih di wajahnya.
"Sabar ya sayang?!" Renata ucap Renata sambil meniup niup pipi Angga.
"Masih perih nak...?!" tanya Renata khawatir terhadap anaknya itu.
"Sudah ngak Bun...?!" jawab Angga dengan wajah lucunya.
Sementara itu, Edo benar benar pergi dari kontrakannya, dia ingin hidup sendiri tanpa di pusingkan oleh Mamanya
Bu Eni hanya diam tidak menanggapi ucapan Rani, semenjak bercerai Rani memilih buka usaha kecil kecilan di rumah, dia tidak mau mencari kerja ke luar seperti dulu lagi, membuat bu Eni semakin frustasi, karena Edo mau pun Rani sudah tidak mau di manfaatin oleh Bu Eni.
"Tadi abang mu ketemu sama Renata dan anaknya, abang mu berniat meminta maaf kepada Renata, Pak Bandi menceritakan ke jadian yang terjadi saat tadi siang, yang membuat Edo marah besar sama Mama.
"Astaga... Ma... apa mama belum puas melihat hidup kami hancur Ma... kemana sih, hati nurani mama sebenarnya!" kesal Rani mendengar penuturan Papanya tadi.
__ADS_1
"Ngak usah sok sok nyeramahin mama kamu Ran, kamu sama aja sama Edo, tidak bisa membahagiakan Mama..!!" sewot Bu Eni yang tidak terima di matahari oleh Rani
"Mama yang kurang bersyukur selama ini ma, Mama salah bergaul, coba klau mama pintar ngatur uang yang di berikan Papa selama ini, hidup kita ngak akan kaya gini, seberapa pun banyak uang yang mama terima tidak pernah cukup bagi mama" kesal Rani.
Bu Eni hanya melengos, mendengar ocehan Rani, tidak ada raut bersalah darinya, yang ada muka kesal karena bisa bisanya anaknya itu menyalahkan dirinya.
"Ma... apa di hidup mama itu yang mama pikirkan uang dan uang saja, apa kebahagiaan kami anak anak mama tidak penting bagi mama?" tanya Rani penuh sesak.
Bu Eni yang memang hati sudah mati rasa, tidak sedikitpun tersentuh dengan ucapan Rani.
"Gara gara ke egoisan kita selama ini, Lila dan Heru saja kita tidak tau ke beradaan mereka Ma, apa tidak ada mama sedikit pun merindukan anak mama itu, entah dia masih hidup atau tidak, entah sehat atau sakit, ada ngak kepikiran sama mama?" tanya Rani.
"Ah....dia sudah besar, sudah tau apa yang harus dia lakukan, lagian ngapain mikirin mereka, mereka saja tidak pernah mikirin mama, apa yang mama minta tidak ada yang mereka turuti" ucap Bu Eni menggebu gebu.
"Sudah Ran, ngak usah lagi di lanjut, Mama kamu itu memang ngak punya hati, biarin aja tinggalin aja, ngak usah kamu ladenin, biarin apa yang dia lakukan lihatin aja, klau dia mau minta uang selain untuk makan, ngak usah di kasih, biar kebutuhannya dia yang cari sendiri, biar dia tau rasa gimana cara mencari uang, dan dia tau cara menghargai uang nantinya" lerai Pak Bandi yang juga sudah muak dengan sang istri.
__ADS_1
Bersambung....