Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 57


__ADS_3

"Trus kita mau kemana pak?" tanya Rani sendu, dia sendiri tidak punya uang, keluar dari rumah suaminya, Rani tidak membawa apa pun, hanya membawa pakaian saat dia masuk ke rumah itu saja.


"Kita cari kontrakan yang murah aja dulu" ucap Pak Bandi, saat dia selesai mengunyah makanan yang tadi dia beli.


"Ngak ngak! Mama ngak setuju! kita ke rumah Edo aja, masih punya menantu satu lagi kok, lebih kaya lagi, mending ke sana aja, masa punya menantu kaya kita ngak bisa tinggal di rumah gedongnya itu!" sungut Bu Eni, mungkin dia lupa pernah di suruh tinggal di kamar pembantu.


"Ma... apa Mama lupa klau Mama pernah di suruh tidur di kamar pembantu" sela Pak Bandi yang tidak habis pikir dengan istrinya itu.


"Ah... kita coba lagi aja, klau dia tidak mau kita tinggal di sana, kita ancam saja biar dia cerai sama Edo cuek Bu Eni, tidak sadarkah dia sudah berapa kali Edo gagal berumah tangga ulah dia, tidak sadarkah dia klau Edo di rumah itu tidak lebih dari seorang pembantu.


"Astaga ma... kapan kamu sadarnya Ma..., kita sudah terusir dari rumah Seli, akibat ulah kita yang serakah sama uang Rani juga jadi korban Ma..." kesal Pak Bandi.


"Ah... si Rani dia saja yang bodoh, tidak bisa ngambil hati suaminya, masa kalah sama dua perempuan tua itu!" dengus Bu Eni yang kekeh dengan pendiriannya.

__ADS_1


"Ma.. aku mohon, jangan nganggu rumah tangga Bang Edo Ma... kasian abang, sudah berapa kali gagal pernikahannya gara gara ke egioisan kita, sudah Ma... tolong jangan ganggu abang lagi?!" mohon Rani.


"Terserah kalian, klau mau ikut ya sudah, kalau ngak terserah kalian saja, mau ngontrak kek, mau jadi gelandangan kek bodo amat, saya akan tetap ke rumah Edo!" kesala Bu Eni meninggal Rani dan Pak Bandi di halte itu.


"Ya Allah... kenapa Mama kamu ini ngak sadar sadar juga sih?!" keluh Pak Bandi, melihat Bu Eni sudah berjalan menjauh dari mereka.


"Ngak tau Pak, aku juga bingung, aku menyesal dulu pernah berbuat kasar sama mantan mantan kakak iparku" keluh Rani, ikut melihat ke arang sang ibu yang sudah menghilang dari pandangan mereka.


Rani hanya mendengarkan semua keluhan papanya saja, mau komentar, dia juga ngak tau mau komentar apa.


"Trus kita mau gimana ini Pa...?" keluh Rani, yang sudah lelah duduk di halte itu, mana kakinya mulai cenut cenutan gara gara jatuh tadi.


"Ya sudah, kamu tunggu di sini apa di taman sana sebentar, biar bapak cari kontrakan di perkampungan sana, klau kamu ikut, takutnya kaki kamu semakin bengkak" tutur Pak Bandi.

__ADS_1


"Tolong antar ke taman sana aja Pa... di sana ada kursi, biar aku nunggu di sana saja" ucap Rani.


"Ya sudah, lagian kita sudah kelamaan di sini, tuh, lihat wajah orang orang sudah pada asem ngeliat kita" kekeh Pak Bandi. Rani pun ikut terkekeh dengan mendengar guyonan papanya, dalam suasana kalut papanya masih bisa bercanda.


Rani di antar oleh Pak Bandi ke kursi taman di bawah pohon rindang, Rani akan menunggu sang Papa di sana sementara pak bandi akan mencari kontrakan dan Rani tidak akan ke panasan menunggu sampai papanya dapat rumah kontrakan.


"Kamu tunggu papa di sini, jangan kamana mana, papa jalan dulu" ujar pak bandi.


Rani menganggukan kepala, melihat kepergian sang Papa.


Rani.....!!


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2