
Beberapa waktu berlalu, kehidupan Edo semakin baik, dia hidup tenang di kontrakannya jauh dari hasutan sang Mama, dia menghabis kan waktu bekerja dan beribadah, Edo benar benar memperbaiki dirinya, dia sudah bertekad akan menjadi orang yang lebih baik lagi, dan dia sudah bekerja di sebuah restoran sebagai pelayan.
Hari ini dia bertekad ingin menemui mantan istri dan anaknya, dan juga menemui mantan mertuanya untuk meminta maaf kepada mereka atas segala perbuatan yang tidak terpuji dia berikan kepada sang mantan istri saat mereka masih menjadi suami istri.
Edo memang sudah beberapa bulan ini menabung untuk sang anak, dia memang sudah bertekad akan memberi nafkah kepada sang anak, walaupun dia sadar tanpa nafkah dari dirinya, mantan istrinya pasti bisa memberikan nafkah untuk sang anak, namun sebagai ayah kandung anaknya, Edo sudah bertekad akan selalu memberikan nafkah untuk sang anak walau tak sebesar sang istri namun dia ingin ikut andil membiayai anak kandung nya itu.
"Bismillah....Ya Allah semoga niat baik hamba di terima oleh mantan mertua dan manta istri hamba, lancarkan semuanya Ya Allah..." gumam Edo di dalam hati, sebelum dia keluar dari dalam rumahnya.
Edo berjalan menuju halte bus untuk mencari bus rumah anaknya, tak di pungkiri hatinya deg degan , dia takut niat baiknya tidak di terima oleh orang tua mantan istrinya, jantung Edo semakin berdegup kencang membayangkan memeluk sang anak. Edi tak henti hentinya melafaskan asmauk husna, dan salawat nabi, agar mengurangi kecemasannya.
__ADS_1
Edo menaikin Bus yang sudah berhenti di depan dia berdiri dan mencari tempat duduk, namun sebelum berangkat tadi Edo menyempatkan diri membeli buah tangan untuk sang anak, walaupun dia tidak tau apa yang di sukai sang anak.
Tiga puluh menit berlalu kini di sini lah Edo berada, di depan rumah mantan istrinya, di depannya sudah berdiri dengan tegap mantan mertua dan manta adik iparnya itu.
"Ada apa kamu datang kemari?" tanya Ayah Renata.
"Emang kau salah apa sama kami?" tanya Ayah Renata itu dengan sinis, walaupun dia tau mantan menantunya itu sudah banyak berubah, tidak ada lagi wajah angkuhnya dulu, yang dia lihat sikap sopan dan rasa bersalah yang dalam terpancar dari mata mantan menantunya itu.
"Saya banyak salah sama Renata saat kami masih menjadi istri, saya bersalah kepada Bapak, karena telah menyia nyiakan putri bapak yang bapak rawat dengan penuh kasih sayang, namun saya dengan tega sudah menanamkan banyak luka kepadanya, dan saya juga tidak menginginkan anak saya, bahkan saya pernah menyuruh istri saya mengugurkan kandungannya tanpa perasaan" tutur Edo dengan terisak di depan sana, karena belum di persilahkan duduk oleh tuan rumah, tapi Edo tidak tersinggung, dia tau itu semua karena ke salahannya, jadi wajar dia di perlakukan seperti itu.
__ADS_1
"Lalu setelah di maafkan, apa yang kau inginkan" selidik Ayah Renata itu, Bagas hanya diam di samping sang ayah, tidak di pungkiri dia juga marah melihat laki laki yang ada di depan matanya ini, namun dia berusaha menahan semuanya, dia tidak ingin membuat keributan, dia lebih memilih diam dan mendengar apa yang di ucapkan dan tindakan apa yang akan di lakukan oleh mantan abang iparnya itu, selagi hanya bicara baik baik dia akan tahan dengan rasa kesalnya, namun klau sempat laki laki yang berstatus mantan abang iparnya itu berbuat kasar, jangan harap Bagas akan memberi ampun, adik laki laki Renata itu akan membuat laki laki itu berada di rumah sakit, atau di rumah tukang urut patah tulang, lihat saja nanti.
"Saya tidak menginginkan apa apa Pak, saya hanya ingin minta maaf sama kalian semua, terutama kepada Renata dan anak saya Pak, dan saya hanya minta izinkan saya memberi nafkah kepada anak saya Pak, walau tidak seberapa tapi mohon di terima" tutur Edo tulus.
Ayah Renata itu hanya menghembus kan nafas kasarnya, melihat laki laki di hadapannya ini adalah menuntutnya mengenang masa lalu sang anak yang sangat menyedihkan itu, Renata selalu berusaha baik baik saja di depan mata keluarganya, dia sebagai orang tua yang sudah puluhan tahun mendampingi sang anak, dia tau anaknya tidak baik baik saja, apa lagi saat itu sang anak sedang hamil, memaksakan diri untuk bekerja demi membiayai kehidupan mereka.
Edo hanya melihat penuh harap, agar bisa bertemu dengan sang anak, dan mantan istrinya itu, walau tidak di terima hari ini, Edo sudah bertekad akan selalu datang ke rumah ini setiap waktu hingga dia mendapat maaf dari sang anak dan mantan istrinya itu.
Bersambung....
__ADS_1