Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 42


__ADS_3

Kini di sini lah Renata dan Angga di sebuah mall yang lumayan terkenal, Renata memenuhi permintaan sang anak, ingin bermain di wahana bermain anak anak.


"Mau kemana dulu anak bunda...?" tanya Renata kepada jagoannya itu.


"Main dulu bun...?!" girang Angga, anak itu sangat bersemangat ingin bermain di wahana anak itu.


"Baik lah... pasrah Renata, memang dia hari ini akan mengikuti semua kemauan anaknya itu.


"Angga ngak mau beli minum dulu? klau haus bagaimana" tanya Renata, di pastikan anaknya itu akan ke hausan klau bermain di wahana tersebut, karena banyak bermain.


"Boleh bun... beli minum dulu, sama snack ya bun...?!" pintanya.


Renata hanya tersenyum dan mengangguk, mengikuti permintaan sang anak.


Mereka memakai baju caple sama sama memakai celana jeans berwana hitam dan kaos berwarna putih dengan rompi hitam, tidak lupa kaca mata di dada Angga, beruntungnya Angga tidak memiliki wajah sang Ayah sedikit pun, dia memiliki paras sang ibu dan kakeknya.


Renata di umurnya yang sebentar lagi 30th, namun masih terlihat sangat muda, masih kelihatan seperti anak remaja, yang sedang membawa sang adik bermain, dengan rambut di kuncir kuda dan riasan natural membuat dia terlihat sangat cantik. di tambah tas gendong di belakangnya, untuk membawa satu stel pakaian untuk Angga klau tiba tiba anak itu butuhkan.

__ADS_1


Renata membeli minuman dan snack permintaan sang anak dan kembali melanjutkan jalannya.


Renata sedang antri membeli tiket untuk bermain dia dan anaknya, tidak tanggung tanggung Renata membeli tiket sampai 500 Ribu untuk bermain.


"Sudah Bun...?" tanya Angga semangat.


"Sudah sayang... Angga mau main apa dulu?" tanya Renata.


"Main trampolin dulu ya bun, tapi sama bunda" rengek anak itu dengan wajah imutnya, mana bisa renata menolak permintaan anaknya, klau wajah sang anak selucu itu.


"Bun... tasnya bun" ucap Angga melihat tas di punggung Bundanya masih di bawa bawa, belum di titipkan.


"Oh... iya... bunda lupa" kekeh Renata sambil berjalan ke tempat penitipan.


Selesai menitipkan tas Renata lansung menuju tempat trampolin, ibu dan anak itu lansung naik ke atas trampolin mereka loncat loncat di sana sambil tertawa riang tanpa beban, tanpa di sadari oleh mereka ada sepasang mata yang menatap sendu kepada ibu dan anak itu.


Iya Edo dengan tidak sengaja tadi melihat Renata dan anaknya yang 6th lalu dia tolak kehadirannya, sekarang sudah besar dan sangat tampan, tidak ada sedikit pun wajahnya di ikuti oleh sang anak, dan melihat sang mantan semangkin cantik dan bersinar, tidak ada sedikitpun rasa luka di pancaran matanya, malah terlihat sangat baik, tidak seperti dirinya yang kini menjadi babu sang istri, dan selalu di perintah perintah anak tirinya, dia datang ke sini pun karena menyopiri anak tirinya yang ingin bermain di wahana yang sama dengan mantan istri dan anaknya.

__ADS_1


Menyesal sungguh menyesal Edo dengan keputusanya menceraikan Renata, kini hidupnya menderita, sedangkan sang mantan begitu bahagia tanpa dirinya.


"Pah... ayo... ngapain sih... masih bengong di situ, kesabet baru tau rasa" omel anak tirinya, membuyarkan lamunan Edo.


"Ehh... iya ayo... mau kemana lagi?" tanya Edo kepada anak tirinya itu.


"Ya mau makan lah... mau kemana lagi, sudah tau capek dan tenaga kami terkuras habis main, ya butuh makan lah" omel anak tirinya itu.


Edo hanya mendengus kesal dengan jawaban judes anak tirinya itu, yang tidak sama sekali ada sopan sopannya sama Edo, dan sang istri juga membiarkan anaknya berkata kasar kepadanya, seperti tidak di hargai sama sekali.


Bersambung...


Haii... janga lupa di like komen dan vote ya..


agar Outhor tau kalian baca novel outhor, kan Outhor bisa semangat melihat like komen dan vote kalian.


"Terimakasih..."

__ADS_1


__ADS_2