Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 66


__ADS_3

"Ya ampun... Angga kenapa pipi kamu nak?" tanya neneknya panik melihat pipi Angga yang di kasih obat merah oleh Renata, terkesan lebay bagi orang orang sih, namun bagi mereka tidak, karena selama ini, Angga sangat mereka jaga, di rawat penuh kasih, dan tidak pernah terluka di bagian pipi.


"Tadi Angga ketemu sama nenek lampir di jalan saat abis makan di ayam kakek" dengus Angga pura pura merajuk.


Renata lansung terperongoh mendengar ucapan sang anak, bisa bisanya dia mengatai neneknya itu, nenek lampir, tapi memang iya sih.


Ibu Renata memandang Renata dengan pandangan minta penjelasan.


"Tadi itu, Re sama Angga makan di Mall xx, Angga minta makan di ayam Kakek, ya udah Re ikuti, pas pulang Re ketemu sama Mas Edo.


"Apaa... ngapain lagi dia" kesal Ibu Renata itu.


"Ihh... nenek dengar dulu bunda cerita, jangan di potong dulu" manyun Angga, membuat Renata dan Ibunya terkekeh.


"Iya iya, lanjut lanjut" kekeh Ibunya.


"Ternyata sekarang Mas Edo itu jualan tisu asongan sekarang sama papanya" tutur Renata.

__ADS_1


"Lah kok turun derajat, kemana para bininya, apa sudah tidak mempan tuh pelet, buat melet orang berduit" kesal Ibunya Renata.


"Ncek... nenek kenapa sensi sekali sih, darah tinggi kumat baru tau rasa" dengus Angga mencibir.


Ibu Renata itu lansung melotot mendengar ucapan bocah itu, bisa bisanya dia mengatai neneknya, dan Renata terkekeh mendengar ucapan sang anak.


"Kok adek bicara kaya gitu, dengar dari siapa?" kepo Renata.


"Om bagus suka ngomong gitu kalau nenek lagi ngamuk" santai Angga.


"Tuh.. kan, belum apa apa sudah ngakmuk lagi" kekeh Angga.


"Lanjut Ta... ngak usah dengerin anak mu itu, lama lama beneran ibu darah tinggi, gara gara anakmu itu!" dengus Ibu Renata.


Renata hanya terkekeh dan melanjutkan ceritanya.


"Saat Kami keluar, Mas Edo manggil Re, sama Angga, dia mau minta maaf sama Re sama Angga, trus baru mau meluk Angga eh... tiba tiba mamanya datang, bilangnya Re nemuin anaknya, mau balikan sama anaknya, trus maksa mau tinggal di rumah Re, katanya dia ngak mau tinggal di kontrakan bikin kulitnya gatal gatal" jujur Renata sama Ibunya.

__ADS_1


"Walahh... orang sinting, amit sah, Ibu ngak mau kamu balikan sama dia, walaupun kamu mau sujud sujud di kaki Ibu, ibu ngak akan restuin kamu, mending cari laki laki lain aja, jangan jatuh ke lubang yang sama, bikin sengsara dua kali" oceh Ibu Renata itu tanpa henti membuat Renata hany bisa mengeluh dada, klau ibunya itu sudah mengoceh.


"Dih... ogah kali Bu, Re mau balikan sama dia, ngapain, mau sakit hati lagi, ada Angga sudah cukup buat Re bu, Re juga ngak mau nikah lagi, trauma Re Bu" ucap Renata.


Ibunya memeluk Renata dengan penuh kasih, dia tau anaknya sangat trauma setelah pernikahannya kandas, bukan tidak ada laki-laki yang mau sama Renata, banyak malah yang datang meminang Renata, namun Renata menolak mereka terang terangan.


Siapa yang ngak mau sama janda satu anak itu, sudah cantik, usaha di mana mana, sayang ke luarga, ramah, namun karena trauma membuatnya anti dengan namanya pernikahan, ada anak pak lurah, yang berprofesi sebagai dokter aja di tolak sama Renata.


"Ngak boleh gitu nak, kamu harus hilangin rasa trauma mu, Angga juga butuh sosok Ayah, tidak selamanya juga Ibu dan Ayah ada di samping kamu, Belajarlah menerima orang baru" tutur Bu Sri.


"Belum kepikiran sama Re Bu, Re masih mau menghabiskan waktu bersama kalian dan Angga" ucap Renata.


"Nek, jangan paksa Bunda, klau bunda ngak mau nikah lagi ngak apa apa, Angga ngak butuh Ayah kok, kan ada ganti ayah, ada kake, Om bagas, Om Elko sama Kakek Diman" sambung Angga, bocah itu tidak ingin Bundanya memaksakan diri demi kesenangan dirinya.


"Anak bunda pintar sekali" gemes Renata, Ibu Renata hanya tersenyum melihat itu, walau tidak di pungkiri hati kecilnya sangat ingin anaknya menikah lagi, dan membina keluarga baru, namun dia tidak ingin memaksakan ke hendak.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2