Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 40


__ADS_3

"Ta... boleh ibu bicara nak?" tanya Ibu Renata, dengan pelan.


"Mau tanya apa bu... tanya aja, kok ngomongnya gitu" kekeh Renata, melihat wajah ibunya, sementara bapaknya hanya diam duduk di samping sang ibu.


"Gini nak, Angga sudah mulai sekolah, apa kamu akan tetap lanjut kerja di PT, kasian anak itu kurang perhatian dari kamu, kamu tau kan dia hanya punya kamu, dia anak baik tidak pernah sekali pun bertanya tentang Ayahnya.


Renata tersenyum, ternyata ini yang mau di tanyakan sang Ibu, sebelum sang ibu bertanya Renata juga sudah memikirkan soal itu, tidak di pungkiri selama adanya Angga waktu Renata sangat sedikit untuk anaknya, beruntung ada kedua orang tuanya dan Bagus sang Adik, paman, bibi dan Elko adik sepupunya yang selalu menyayangi Angga.


Renata memang mengejar target kerja, dia mati matian banting tulang, lembur, berjualan di PT, walau pun dia sudah mempunya banyak aset di luar itu semua, dia hanya berfikir bagai mana caranya dia mendapatkan banyak uang, sebelum usia Angga masuk sekolah setelah itu dia akan fokus kepada anaknya, dia sadar anaknya itu butuh kasih sayang Ibunya, dan Renata juga sadar dia hanya punya Angga.


Setelah semua keinginannya tercapai, dia akan berhenti, fokusnya hanya kepada sang anak, untuk jualan di PT dia bisa buka on line, dan bahkan Renata sudah membuat toko di samping kos kosannya di area PT tempat dia bekerja dan di sana juga banyak PT PT lain yang berdiri.


Renata tersenyum kepada sang Ibu, ayahnya hanya berpura pura baca koran, padahal kupingnya tetap mendengar obrolan Ibu dan Anak itu.


"Rena sudah masukin pengunduran diri kok, Bu..., bulan depan saat Angga masuk sekolah Rena sudah ada buat dia seharian, paling Rena cuma ngawasin toko toko Rena, Angga bisa setiap hari sama Rena" ujar Rena kepada sang Ibu.

__ADS_1


"Rena tau kok, anak itu pasti juga ingin Ibunya yang mengantar jemput sekolah, les dan mengaji, Rena sudah memikirkan semuanya, apa lagi Ayah sama Ibu sudah tua, dan sudah seharus nya istirahat, tidak mengurus cucu lagi" ucap Rena, dan Renata pastikan habis ini bapaknya mengamuk.


"Enak aja... ngatain Bapak tua, Bapak masih muda ini, boleh di uji sama laki laki lain, Bapak masih kuat gendong Angga ya, Bapak masih kuat ikut lomba lari" kesal Bapak Renata itu, nah kan baru juga di omong si engkong sudah mengamuk, hehehe....


"Iya iya.. percaya Ibu, Ayah masih kuat, saking kuatnya, kemaren angkat galon langsung encok" si Ibu buka kartu.


Buahahaha.... Tawa Renata lansung pecah mendengar Ibunya membuka kartu sang Ayah.


"Ibu... kenapa pakai di bilang di depan anaknya sih... Ayah kan jadi malu, mau di tarok di mana ini muka Ayah.." dengus Ayah Rena itu.


Buahahaha.... mangkin pecah lah tawa Ibu dan anak itu, Ayah Renata hanya mendengus kesal mendengar celotehan cucu kesayangannya itu, bukanya di bantuin malah ikut memojokan sang Kakek.


"Haii... bocah... kamu kenapa ngak belain kakek, malah ikut ikutan mojokin kakek, sini kamu, minta di gelitikin rupanya" garang sang kakek berpura pura marah.


"Habis....kakek sok sokan bilang ke amih bisa gendong Angga, padahal jalan aja kakek ngos ngosan" celetuk Bocah itu, sambil duduk bersandar ke bahu sang Amih.

__ADS_1


"Ncek... kamu sama nenek kamu sama aja, suka zolimin kakek, dengus Ayah Renata.


Renata menarik Angga ke atas pangkuannya, dan mencium sang anak, saking gemesnya, Angga tau sang Amih merindukannya dia tidak menolak perlakuan Amihnya itu.


"Amih kangen anak ganteng Amih ini" jujur Renata.


"Angga juga Rindu sama Amih, tapi Angga tau Amih sedang cari uang buat Angga, buat kakek, nenek dan sekolah om, jadi Angga akan sabar menunggu Amih ada buat Angga"


Luruh sudah air mata Renata dengan ucapan anaknya itu, jangan di tanya kakek dan neneknya juga ikut ikutan melow.


"Maafin Ami nak..." serak Renata memeluk anaknya.


"Amih ngak salah, Angga bangga punya Amih, jadi Amih jangan nangis lagi ya, Angga ngak mau lihat air mata Amih, Angga hanya ingin lihat Amih tersenyum" anak itu memeluk dan mencium pipi ibunya bertubi tubi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2