
"Loh... tumben kamu di antar sama nak Rinto pulang nak?" kaget Pak Bandi melihat anaknya di kawal seorang laki laki yang dia tau laki laki itu adalah teman satu kerjaan sama sang anak.
"Assalamualaikum...." ujar Rinto, sebelum menjawab pertanyaan Pak Bandi.
"Wa'alaikum salam" sahut Pak Bandi mempersilahkan Rinto duduk di ruang tamu rumah Rani.
"Tadi saya sengaja bareng Rani pak" jawab Rinto memang itu adanya.
"Loh... Tumben Rani di barengi?" tanya Pak Bandi.
__ADS_1
"Sebenarnya saya sudah lama suka sama Rani Pak, saya berniat melamar Rani, tapi Rani masih minta waktu" ujar Rinto apa adanya, dia sebagai laki laki dewasa lansung meminta sang anak kepada ayahnya, menunjukan kalau dia tidak main main dengan perasaannya.
"Kenapa Rani minta waktu?" tanya Pak Bandi ingin tahu.
"Dia mau sholat istiqaroh dulu sebelum memutuskan menerima atau menolak lamaran saya" ujar Rido.
Pak Bandi hanya mengangguk angguk tanda mengerti dengan alasan itu.
"Saya tidak perduli dengan masa lalu Rani Pak, yang saya tau Rani yang sekarang bukan yang dulu, masa lalu biar lah berlalu pak, dan bukan kah semua orang juga masa lalu pak" ujar Rinto yang sudah mantab dan lapang dada menerima segala kekurangan dan kelebihan orang yang dia kasihi itu.
__ADS_1
Rani yang berdiri di balik dinding sampai tertegun dengan keyakinan Rinto ingin mempersuntingnya, jujur saja Rani pun menyukai laki laki itu, siapa yang tidak menyukai dia, sudah lah tampan, baik hati, rajin ibadah dan pintar cari uang. Rinto itu bukan hanya bekerja di toko elektronik itu, dia juga mempunyai usaha kecil kecilan yang di kelola oleh anak buahnya, namun kecintaannya kepada elektronik makanya dia tidak ingin keluar dari toko yang telah membawa banyak perubahan dalam hidupnya itu, namun rasa itu sengaja Rani kubur dalam dalam, dia sangat sadar siapa dirinya, wanita yang bergelimang dosa di masa lalunya, juga seorang janda yang tidak pantas bersanding dengan laki laki perjaka itu, Rani cukup sadar diri atas itu semuanya.
"Bapak sangat terharu dengan perasaan kamu terhadap anak bapak nak, namun satu lagi yang belum tau nak, Mamanya Rani sampai sekarang juga belum bisa berubah mulutnya suka menyakiti orang, dia suka merendahkan orang lain, saya takut klau kamu nantinya juga di hina oleh dia, dan kamu meninggalkan Rani karena tidak tahan dengan sikap mamanya" ujar Pak Bandi sendu, entah bagaimana caranya dia menyadarkan istrinya itu, bahkan menantu baik dan cucu semata wayangnya saja masih suka di judesin oleh istrinya saat vidio call.
"Tidak masalah Pak, itu suatu tantangan buat saya, karena saya selama ini hanya sebatang kara, dan tidak mempunyai keluarga, jadi saya ingin menikmati marahnya seorang ibu kepada anaknya" ujar Rinto yang tetap teguh dalam pendiriannya.
Pak Bandi sampai terharu dengan ucapan laki laki di depannya itu, semoga saja apa yang di katakan oleh laki laki itu adalah kebenaran, bukan hanya ke pura puraan sebelum mendapatkan anaknya.
Rani datang membawa minuman ke arah dua laki laki beda usia itu.
__ADS_1
"Lanjut saja kalian ngobrolnya, papa mau ke belakang dulu" ujar Pak Bandi memberi waktu kepada Rani dan Rinto.