Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
bab 54


__ADS_3

"Loh... Ra, kok kamu ada di rumah, kapan datang, ini lagi kenapa badan kamu sampai kurus gini, apa yang terjadi, apa suami kaya mu itu tidak memberi kamu makan??" tanya Bu Eni, yang kaget melihat Rani ada di rumah pagi pagi.


"A-aku.. sudah di talak Bu...?!" ucap Rani sendu.


"Astaga kok bisa, komu bodoh apa gimana sih..., masa ngak bisa naklukin suami kaya kamu itu!" omel Bu Eni, padahal dia sudah melihat ke adaan anaknya yang tidak baik baik saja, masih aja mikir harta.


"Bu.. aku di sana di siksa bu, ngak pernah sekali pun aku pernah bahagia masuk ke rumah itu, aku pikir aku akan menjadi istri ke sayangan di sana, karena istrinya sudah tua, ternyata pikiran aku salah bu, aku malah du jadiin babu di sana"


"Ncek... itu kamu yang bodoh ngak bisa ngambil hati suami kamu, masa kamu kalah sama perempuan tua!" omel Bu Eni, bukannya sedih mendengar anaknya menderita malah Bu Eni mengomel karena anaknya di cerai suaminya.


Rani kesal campur sedih dengan ucapan sang ibu, tidak ada rasa kasihan melihat anaknya itu, terpaksa Rani hanya diam, dan melanjutkan kerjaannya yang belum selesai tadi.


Iya semenjak Rani tinggal di suaminya Rani sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, yang mana dulu dia tidak pernah mau melakukanya, di rumah suaminya, Rani bahkan mengerjakan dua rumah sekaligus, mulai dari mencuci, ngepel, masak, bahkan membersihkan kamar mandi yang dulu dia bilang jijik, tapi kini menjadi rutinitas sehari hari Rani di rumah sang suami, kerjaan ngak rapi rani bisa di amuk, tidak perduli rani itu belum makan, yang penting kerjaan harus rapi tepat waktu yang di tentukan, lebih dari waktu yang di tentukan maka Rani akan kena hukuman dari kedua istri rentenir itu.


Belum lagi anak anaknya, selalu minta di layani di atas ranjang, Rani benar benar di buat seperti budak *** dan budak untuk semua urusan rumah.

__ADS_1


Di saat itu lah Rani baru mulai sadar, telah membuat para kakak iparnya menderita, ingin rasanya Rani minta maaf kepada mereka, namun dia malu.


"Trus apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Bu Eni tanpa perasaan, tadi kaki nya sudah melangkah keluar dari dapur, balik lagi menemui Rani.


"Belum tau Bu, aku masih trauma ucap Rani sendu, melihat ke arah sang ibu.


"Huufff... terserah kamu lah" Bu Eni meninggal kan Rani yang sibuk di dapur.


Bu Eni pergi ke arah ruang tv untuk menonton acara gosip, padahal rumahnya masih berantakan, namun dia tidak perduli, acara gosip lebih penting dari pada kebersihan rumahnya.


Sedangkan Pak Bandi belum bangun dari tidurnya, semalam dia kurang tidur memikirkan semua anaknya, apa lagi melihat ke adaan Rani yang sudah seperti mayat hidup, dulu anaknya itu, kulit terawat, badan berisi, kini hanya wajah kusam dan badan kurus kering.


Lila pun tidak tau rimbanya, semenjak adu mulut dengan sang Ibu, gara gara membela Renata anak itu tidak pernah pulang lagi, bahkan nomor hpnya yang dulu sudah tidak aktif.


Begitu pun dengan Heru, anak itu juga jarang berada di rumah, entah apa yang dia lakukan di luar sana, Pak Bandi tidak tau, klau di tanya, jawabannya cuma ada deh"

__ADS_1


Tok..


Tok.


Tok..


Saat Bu Eni sedang serius menonton gosip, pintu rumahnya di ketuk dari luar.


"Siapa sih... ganggu aja, apa Seli, awas saja dia klau pulang! habis dia ku bejek bejek" gerutu Bu Eni membuka pintu.


Ceklek....


"Cari siapa ya...?" tanya Bu Eni binggung, karena dia tidak mengenal orang orang di sana.


"Kami di minta sama tuan kami untuk mengosongkan rumah ini!" jawab orang orang berbadan besar di luar sana.

__ADS_1


"A-apaaa...."


Bersambung...


__ADS_2