Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 84


__ADS_3

Pagi ini Pak Diman sedang menunggu anak tetangga Doni yang akan membantu nya, untuk membuat tambak lele, yang terbuat dari terpal dan membuat kandang ayam.


Sementara Rani hari ini mulai bekerja di toko elektronik di pasar.


Bu Eni masih menggerutu karena keinginannya untuk pulang ke jakarta tak di hiraukan oleh suami dan anaknya.


"Pak... kenapa sih... kalian kekeh banget tinggal di sini, sudah tau kampung ini jauh dari kota, mana tidak ada tempat tempat menarik untuk di kunjungi" kesal Bu Eni.


Pak Bandi hanya diam saja, tidak mau meladeni ucapan sang istri, takut kalau di ladeni makan ujung ujung akan ribut, dan membuat mood Pak Bandi hancur.


Memang dasar Bu Eni saja matanya buta, karena lebih suka hidup bebas di kota besar, tidak seperti di kampung ini, yang masyarakatnya pagi pagi sudah berangkat ke sawah dan ke ladang untuk bekerja, padahal tempat tinggalnya sekarang walau di pelosok, namun pandangannya tak kalah indah dan masih asri, udara masih segar, jauh dari polusi udara.


Dia marah, karena di tempat tinggalnya ini tidak ada ibu ibu yang bersantai santai di rumah, semuanya sibuk bekerja, dan mengurus anak anak mereka, dan di sore harinya ada pengajian di mesjid di dekat rumah Bu Eni itu, membuat Bu Eni tidak betah tinggal di desa itu.


"Kamu sudah datang Don?" tanya Pak Bandi basa basi.


"Sudah Pak, belum lama kok" jawab Doni jujur.


"Kamu sudah sarapan belum, klau belum sarapan dulu di dalam" ucap Pak Bandi menawarkan sarapan kepada Doni.

__ADS_1


"Sudah kok pak, tadi saya sarapan di rumah" ucap Doni.


"Oouuhhh ya sudah klau gitu kita lansung aja ke belakang ya" ucap Pak Bandi dan dia lansung ke belakang membawa perkakas yang akan di butuhkan untuk bertukang.


Pak Bandi dan Doni lansung bekerja membuat tempat peliharaan ikan lele, menggunakan terpal.


Di dalam rumah Bu Eni terus saja mengoceh tidak jelas, karena tidak ada orang yang bisa di ajak bergosip.


"Dasar nyebelin semuanya, ngak ada lagi yang perduli sama saya, ngapain juga tinggal di kampung kaya gini, menyebalkan..." sungut Bu Eni.


Di lain tempat, Rani juga memulai harinya bekerja di toko elektronik, dan memang dasarnya di jakarta Rani sudah biasa bekerja jadi SPG jadi tidak butuh lama baginya untuk menyesuaikan diri.


Karena sifat Rani yang ramah membuat teman temannya senang dengan ke beradaan Rani itu, di tambah Rani cukup pintar menguasai pekerjaannya.


"Saya mau cari mesin cuci mbak" jawab si Ibu, Rani dengan sigap membawa coustamer pertamanya ke bagian mesin cuci, Rani mulai menerangkan satu parsatu kelebihan dan kelemahan setiap merk produk tersebut, dan juga tawar menawar harga dengan sangat baik, membuat customer puas dan Rani pun di kasih uang tip oleh pelanggannya.


Setelah pergi satu costumer datang lagi satu lagi mencari TV Rani kembali melayani costumernya dengan baik, begitu lah sampai sore, Rani walaupun karyawan baru tidak membuat dia ongkang ongkang kaki, dia ikut membatu merapikan dan barang barang elektronik saat mau pulang, dan Rani juga tidak mengambil uang tips itu sendirian, dia juga membagi kepada teman temannya, walau tetap yang paling banyak Rani, Rani sengaja melakukan itu, agar teman temanya tidak merasa iri dan membenci dirinya, yang dari pagi selalu melayani costumer dan selalu di kasih uang tips, namun teman temanya tidak mendapatkannya.


"Waahhh Ran, kami di kasih nih uang juga tipsnya" ucap temannya Dewi dengan berbinar.

__ADS_1


"Iya, biar kita sama sama merasakan uangnya" ucap Rani tersenyum manis.


"Aaa... makasih banget Ran, loe tau aja gue lagi butuh uang ini, soalnya duit gue sudah habis" tutur Tika.


Rani hanya tersenyum mendengar ucapan teman barunya itu.


"Ta udah yuk... pulang keburu magrib" ajak Rani.


"Eh iya loe mau pulang kemana Ran?" tanya Dewi.


"Aku pulang ke Desa Mawar" jawab Rani jujur .


"Oo klau gitu loe barenga aja sama gue, gue ngelewatin desa itu, gue kan bawa motor, jadi loe besok besok nunggu gue aja, nanti gue samper loenya kerumah" ucap Dewi.


"Hah... beneran nih, apa ngak ngerepotin?' ucap Rani sedikit ragu.


"Ya elah Ran, benaran lah, masa gue bohong" dengus Dewi.


"Hehehe... makasih ya.." cengir Rani, setidaknya dia bisa menghemat ongkosnya dan nanti dua hari sekali dia akan mengisi bensin motor Dewi, biar enak klau di nebeng setiap hari.

__ADS_1


"Ya udah Yuk... kita pulang" ajak Dewi dan mereka lansung berboncengan.


Bersambung....


__ADS_2