Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan

Ketika Suami Tidak Lagi Jadi Harapan
Bab 33


__ADS_3

"Re... " Panggil Edo yang menunggu Renata pulang dari kerja.


Renata hanya melihat dengan wajah datarnya, tidak ada senyum manis di bibir Renata sedikit pun yang ada cuma wajah masamnya.


"Iya ada apa...!" jawab Renata ketus.


"Re... boleh Abang ngomong sebentar" tanya Edo penuh harap.


"Mau ngomong apa"


"Bisa kita cari tempat duduk, biar kita bicara agak santai" tanya Edo hati hati.


"Ngak usah, ngomong di sini aja, klau ngak mau ya sudah, aku mau pulang" jawab Renata dengan nada malas, dia lebih baik cari aman, bicara di depan PT itu ada banyak Security yang bisa dia mintai tolong klau Edo macam macam.


"Baik lah..." Edo mengalah.


Sudah sepuluh menit Edo belum juga bicara membuat Renata bosan.


"Klau cuma mau diam diam aku mau pulang aja" ketus Renata yang sudah sedikit capek menunggu Edo bicara

__ADS_1


"Re... tolong cabut gugatan perceraian kita, mari kita mulai dari awal lagi, abang janji akan berubah" bujuk Edo.


"Ngak... abang sudah banyak bohong sama aku, dan kebohongan abang yang paling fatal, abang bilang abang masih bujangan ternyata abang sudah menikah dua kali dan lebih parahnya lagi aku abang jadiin pelakor dari istri abang" ketus Renata.


"Dan banyak kebohongan yang abang buat dan itu sudah jadi kebiasaan buat abang, lebih baik kita pisah, bukanya abang ngak mau sama anak ini, satu lagi aku bukan sapi perah buat abang, dan aku menikah sama abang bukan untuk jadi pembantu" ketus Renata.


"Re... abang ngaku salah, abang janji akan berubah buat kamu" rayu Edo.


"Ngak... aku ngak bisa bang, aku sudah ngak mau lagi hidup sama abang, abang cari saja perempuan lain, masih banyak di luar sana yang mau sama abang bukanya banyak di luar sana yag menginginkan abang" ketus Renata.


"Aku pulang dulu, nanti kita ketemu di pengadilan agama saja, jangan temui aku lagi, percuma" ucap Renata berjalan ke arah tukang ojek, meninggalkan Edo yang tidak bergeming melihat kepergian Renata.


Hati Edo cukup sakit mendengar perkataan Renata, menyesal sudah pasti, demi bakti kepada orang tuanya, dia kehilangan orang yang dia cintai.


Edo hanya melihat sendu kepergian istri yang sebentar lagi berubah status menjadi mantan istrinya itu di bawa oleh ojek.


Ternyata hari ini Renata tidak di biarkan tenang oleh para medusa itu.


Saat sampai di rumah bibinya, ada ibu mertuanya lagi marah marah ngak jelas.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." Renata mengucap salam dari luar.


"Waalaikum salam" sahut Bi Darmi namun tidak di sahut oleh Mama mertuanya itu, malah Renata di beri tatapan sinis.


"Ada apa Ibu bikin ribut di sini" tanya Renata yang tidak ada ramahnya, melihat cara mama mertuanya itu memaki maki bi Darmi.


"Begitu cara kamu bicara sama Mertua!" ketus mertuanya.


"Mau jadi mantan kok, ngak usah lah sopan sopan" santai Renata.


"Dasar gadis kampung!!' sinisnya.


"Iya emang aku dari kampung, jadi tau tatakrama, dan tau sopan santun, datang bertamu ke rumah orang baik baik, bukan teriak teriak dan memaki maki yang punya rumah" sindir Renata.


"Kurang ajar kamu ya... begini toh, kelakuan kamu ternyata, tidak salah anak saya mau bercerai dengan kamu" maki mama mertua Renata.


"Lagian siapa juga yang mau sama anak Ibu, klau saya tau dari lama saya ogah sama anak ibu, tertipu saya sama dia dan ke baikan palsu dari kalian, asal ibu tau anak ibu itu tadi datang ke tempat kerja saya, dia memohon mohon untuk saya mencabut gugatan cerai" kekeh Renata.


Duar.....

__ADS_1


Ucapan Renata itu membuat kaget Ibu mertuanya.


Bersambung....


__ADS_2