
“Apa kamu ingin mati disini jika kamu ingin melanjutkannya,”kata Izam yang dingin kepada Martin yang baru saja datang. Ezan hanya terdiam mendengar kata Izam sampai mereka harus melakukannya dengan cara mereka.”Bos apa yang dia katakan ada benarnya,”ucap Red.”Apa maksud kamu aku harus menyerah dan pergi dari tempat ini,”kata Izam yang memukul Red. “Tunggu dulu mungkin ada kesalahpahaman disini,”kata Samuel yang membantu berdiri Red.
“Apa yang sedang terjadi, kenapa kamu berkata seperti itu kepada Bos kita,”ucap Samuel yang melihat ke arah Red. Hembusan angin menerpang Red yang kemudian dia merasakan aura yang sama disaat dia terkepung oleh para tentara dan kemudian dia tersadar.”Hai kamu. Anak buah kamu sekarang sedang dalam masalah besar. Apa kamu tidak menolong dia,”ucap Red kepada Reli.
“Apa maksud kamu Wildan,”kata Veti.”Iya,”ucap Red.”Tenang saja dia akan baik-baik saja jika tidak salah,”kata Vita yang merasakan ada aura menekan mereka. Reli menepuk bahu Veti,”Pergilah bantu Wildan sekarang.” Vita hanya menatap kepada Reli dan pergi menuju Wildan berada. “Apa cukup hanya mengirimkan satu wanita saja sementara para tentara tadi sangat banyak,”ucap Red.
“Apa maksud kamu para tentara,”kata Izam yang melihat ke arah Red. “Semua ini hanya jebakan untuk kalian berdua,”kata Red.”Apa maksud kamu,”kata Izam.”Sudahlah mau lanjut atau mati disini diantara kita berdua,”ucap Ezan yang maju ke depan.
“Martin,”ucap Rendi yang menyamar. “Sejak kapan kamu ada disini,”kata Ezan. Rendi hanya tersenyum sambil menarik Gazi,”Aku bawa oleh-oleh untuk kamu?.” Ezan menatap Gazi yang diseret oleh Rendi, tidak lama kemudian Mitra dan Rong Shi bersama Roki juga datang dengan bawahannya.
“Apa kalian masih ingin berkelahi,”kata Roki yang berjalan cepat menuju kearah mereka berdua. Sampai Roki memukul keduanya sampai memerah. “Apa kalian puas dengan perkelahian ini,”kata Roki. Tapi keduanya hanya terdiam melihat Roki sampai Martin berjalan melewatinya. Tapi dihadang oleh Roki di sampingnya.”Kamu mau kemana, apa kamu akan melakukannya lagi?,”kata Roki yang marah kepada Martin.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu aku hanya ingin menghampiri orang yang dibelakang kamu saja,”ucap Ezan yang melepaskan genggaman tangan Roki dengan pelan. “Bukannya ini Gazi. Apa yang terjadi dengan kamu penuh dengan luka,”ucap Ezan duduk didepan Gazi.
“Kenapa kamu bahagia sekali melihat orang didepan kamu,”kata Mitra.”Maaf hanya saja, tidak ada yang tahu kalau dia akan muncul di sini bukan... Gazi,”kata Ezan. “Bagaimana kamu bisa datang kesini,”kata Gazi. Ezan hanya tersenyum sambil berbisik kepada Gazi,”Kamu tidak tahu kalau dia sudah tewas saat dia datang kepadaku.”
__ADS_1
Gazi yang membeku karena ucapan Ezan hanya terdiam.”Habisi dia,”kata Ezan.”Aku mengerti,”kata Rendi yang siap memenggal kepalanya dihadapan semua orang. Sampai Mitra berkata,”Tunggu dulu Martin.”
“Ada apa Mitra,”ucap Ezan yang binggung.”Apa kamu tidak ingin mencari tahu siapa dalang dibalik mereka, jika kamu membunuh dia sekarang,”kata Mitra. Tapi Ezan pada kesimpulan yang sama untuk membunuh Gazi dihadapan mereka semua.”Jawabanku tetep sama,”kata Ezan yang tersenyum dingin. Rendi membunuh Gazi didepan semua yang ada, sampai Wildan dan Vita datang melapor.
“Reli mau lanjut apa berhenti semua tempat sudah dipasang formasi pembunuh,”kata Wildan yang berjalan bersama dengan Vita. Izam dan Roki berserta yang lain di lokasi bingung dengan apa yang Ezan Martin. “Apa semua sudah beres,”ucap Rendi. “Belum semua, mereka mundur untuk sekarang karena formasi sudah diaktifkan,”kata Wildan. Ezan hanya menghela nafas dan melihat sekitarnya. Sampai Izam datang menari baju Martin.”Apa maksudnya ini?,”kata Izam yang tidak terima karena dia dijadikan umpan.
“Kenapa kamu melihat diriku, bukannya kamu sudah sadar akan pertarungan ini dan perselisihan yang terjadi diantara kita berdua,”kara Ezan berwajah biasa santai. “Izam lepaskan Martin sekarang,”ucap Roki yang menengahi mereka berdua. Tapi Izam yang sudah kesal mendorong Roki dan tetap ingin menghajar Martin. Tapi Martin yang terdiam diri hanya bisa menerima pukulan Izam yang sedang marah.”Apa kamu sudah puas sekarang?,”ucap Ezan yang merapikan dirinya.
“Jika kamu sudah selesai, sebaiknya kamu bawa anak buah kamu pergi dari sini jika ingin selama,”kata Ezan. “Itu mustahil,”ucap Rendi. Ezan melirik kearah Rendi dengan wajah tersenyum,”Kenapa mustahil!.”
“Bukannya sudah diberitahu Wildan kalau formasi sudah aktif,”kata Rendi. “Begitu ya,”ucap Ezan dengan santai. Sampai dia berjalan melihat sekitarnya,”Apa masih ada tentara yang didalam formasi?.”
“Izam,”kata Roki yang berteriak. Tapi Izam tidak menggubris dengan apa yang dikatakan sampai suasana berubah menegangkan. Ezan yang terdiam mengambil ahli formasi untuk beberapa saat sampai dia berkata,”Jika kamu ingin keluar, keluarlah sekarang selagi kamu bisa.”
“Ayo kita pergi dari sini,”ucap Izam kepada bawahan. “Apa kamu yakin melepaskan mereka semua,”kata Rendi.”Iya, ada masalah,”kata Ezan.
__ADS_1
“Kalian bertiga juga pergilah dari tempat ini sekarang sebelum menjadi medan pertempuran yang membahayakan,”kata Ezan. Hingga salah satu dari anak buah Izam yang ingin keluar diserang oleh para tentara.
“Siapa kalian,”ucap bawahan Izam.”Siapa kalian aneh sekali, bukanya seharusnya disini ada perkelahian tapi kenapa tidak ada ya,”kata Woli yang berjalan kearah mereka.
“Itu benar tidak seru ini tidak ada yang terluka,”ucap Kros yang berjalan kearah Ezan. “Bukannya itu Gazi,”kata Zhain. “Iya benar tidak aku sangka dia bisa tewas ditempat ini,”kata Kros.
“Siapa kalian?,”ucap Roki menatap tajam.”Siapa kami tidak penting, yang penting adalah Martin harus tewas sekarang,”kata Woli yang menyuruh anak buah mereka untuk menyerang yang didepan mereka. “Ketua,”ucap Reli. Ezan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Preman selatan, bunuh musuh didepan kita sekarang,”ucap Reli dengan keras kepada bawahan yang mengikuti ketua Martin.
“Siap,”ucap mereka semua yang maju mengalahkan musuh. “Martin aku bunuh kamu,”kata Izam yang salah paham. “Kenapa dia,”kata Rendi yang menoleh kearah Martin.”Mana aku tahu aku hanya menyuruh mereka untuk membunuh musuh kita bukan Izam,”kata Ezan yang bingung.
“Apa maksud kamu Martin,”kata Roki yang binggung.”Kamu ingin membunuh Izam setelah mereka mendapatkan serangan tiba-tiba dari orang lain,”kata Roki yang juga salah paham. “Kalian salah besar kalau Martin ingin melawan kalian berdua,”ucap Rong Shi.”Yang ingin Martin lawan adalah musuh yang baru saja datang bukan kalian berdua yang tidak punya hati,”kata Mitra.
Izam dan Roki saling menatap dan berkata dalam hati,”Apa maksudnya ini?.” Sampai mereka berdua melihat anak buah Martin menyerang dan membantu kelompok Izam yang sedang berhadapan dengan musuh didepan.”Kalian tidak apa-apa?,”ucap anak buah Martin yang menolong anak buah Izam.
“Kenapa kalian menolong kami, bukannya kami adalah musuh kalian berdua,”kata anak buah Izam. “Musuh kamu bercanda, musuh kami adalah mereka yang tidak memiliki hati,”kata anak buah Martin sambil menunjuk kearah mereka yang sedang membantai kawan kami.
__ADS_1
“Jadi kalian adalah teman,”kata anak buah Izam.”Tentu saja,”kata anak buah Martin.
“Kalian sudah lihat bukan apa yang sedang aku katakan musuh bukan teman,”kata Ezan yang menghindar dari serangan Zhain dari belakang. “Kalian benar tidak sabaran ternyata,”kata Ezan yang menghindar dari serangan Zhain.