Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Identitas Baru 7


__ADS_3

Kehadiran Remon yang tiba-tiba membuat orang merasa waspada dengan keadaan pulau bunga persik. Mereka selalu bertanya-tanya bagaimana satu orang bisa masuk ke dalam kediaman persik tanpa memberikan jejak sama halnya orang yang telah menolong mereka.


“Siapa kamu sebenarnya,”kata Keri dari belakang yang sudah rangkul kepala Remon dengan pisau. Remon terdiam tanpa berkata setelah melihat Martin baik-baik saja.”Maaf lain kali saja aku menjawab. Sekarang aku pamit pulang dulu,”ucap Remon yang menghilang. Keri yang didepan matanya terkejut dan mencari orang tersebut tapi dia tidak menemukannya. Sampai Alex berkata,”Percuma saja kamu mencari dia sudah pergi menggunakan jurus kilat teleportasi.”


“Apa kalian mengenal orang barusan,”kata Keri. Mereka hanya terdiam tanpa berkata apa-apa dan melirik kearah Martin yang masih berbaring.”Sudahlah jika adik sudah bangun kita tanyakan saja pada dia. Bukanya kalian tadi sudah mendengar cacian yang banyak dari mulut adikku untuk orang itu,”kata Morgan yang memalingkan wajah sambil menahan tawa.


Semua yang mengingat apa yang dikatakan Martin hanya terdiam dan keluar ruangan. Setelah di luar ruangan mereka jatuh satu bersatu tertawa mendengar cacian Martin yang bertubi-tubi sampai mereka menangis. Martin yang mendengar tawa dan nafas mereka hanya terdiam. “Kurasa mereka sudah membaik,”kata hati Martin yang kembali tenang.


Dalam ruang dimensi jiwa Martin yang gelap dia menggunakan aura gelap untuk berteleportasi dengan Remon.”Kenapa kamu datang ada apa?,”kata Martin.”Aku hanya ingin melihat kondisi tubuh kamu, bagaimana,”ucap Remon.”Bagaimana dengan Rendi dia baik saja, apa bisa melakukan tugas dengan baik,”kata Martin.”Dia sangat senang bisa berkumpul dalam satu kelompok dengan kamu lagi,”kata Remon.


“Tapi aku tidak bisa terima dia menghilang dengan menggunakan namaku,”kata Remon.”Itukan adik kecil kamu, jangan berantem,”kata Martin.”Iyalah siapa yang berantem. Bukanya kamu sudah berkumpul dengan keluarga kamu,”kata Remon.”Iya hanya kakakku saja Morgan. Pasti kamu sudah mengenalnya bukan,”kata Martin.


Remon tersenyum melihat Martin yang kembali semangat setelah apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya.”Bagaimana selanjutnya,”kata Remon.”Apa kamu sudah mengumpulkan semua anggota yang kita butuhkan dan informasi yang kita cari,”kata Martin.”Semua sudah siap, tinggal menuggu kamu kembali ke markas,”kata Remon.


Marin yang mendapatkan pelukan darai dirinya yang sedang menuggu waktu yang ditunggu 10 tahun telah tiba.”Tinggal satu langka lagi. Jadi sabar saja dan persiapkan apa yang diperlukan,”kata Martin yang memutuskan telepatinya.

__ADS_1


Martin gelap yang berbahagia mendengar kabar baik yang sudah lama tidak ada kabarnya.”Jadi kamu masih berkomunikasi dengan mereka,”kata Martin gelap.”Tentu saja,”kata Martin putih yang tersenyum kepada Martin gelap.


Setelah satu bulan Martin dalam kondisi tertidur tidak kunjung terbangun sampai dia datang lagi.”Kapan kamu bangun aku berbicara,”kata Remon yang datang diam-diam. Martin membuka matanya untuk sekian lama setelah berbaring dimana setelah penyusup datang. Tapi Remon yang di samping merasakan kalau Martin yang ini bereda.”Gelap kenapa kamu keluar dimana putih,”ucap Remon yang dingin untuk menyeimbangkan tekanan yang ada.”Jadi kamu bisa membedakan diriku ya,”kata Martin sisi lain.


“Kamu kira aku bodoh tidak mengenal siapa kamu,”kata Remon.”Dia sedang tidur memulihkan dirinya jadi aku yang menggantikannya,”kata Martin.”Apa dia terluka sangat parah,”ucap Remon yang mulai khwatir.”Tidak usah terlalu gelisah dia akan balik jika sudah waktunya... katanya kamu sudah mengumpulkan semuanya... apa itu benar,”kata Martin.


“Itu benar tinggal menuggu saja kapan kita akan bermain dengan mereka lagi. Tapi aku ingin tahu apa yang terjadi saat gelombang jiwa kenapa kamu tidak menolong putih,”kata Remon yang menatap dihadapan wajahnya.


“Kamu sangat manis aku ingin mencium kamu boleh sudah lam akau tidak mencium kamu,”kata Martin gelap yang merayu Remon.”Boleh saja tapi aku juga ingin menyentuh bagian bawah kamu,”kata Remon yang membalas dengan rayuan. Sampai Morgan yang membuka pintu melihat mereka berdua sedang bercinta. Martin dan Remon melihat kearah Morgan yang sedang syok terkejut melihat adiknya yang sedang tidak normal dengan orang yang waktu itu datang kesini.


Remon yang terdorong oleh Morgan hanya bisa tersenyum tertawa melihat Martin berwajah masam seperti itu. “Adik kecilku yang aku sanyangi,”kata Remon sambil tertawa terbahak-bahak. Martin yang melihat ekspresi Remon merasa kesal dan mengambil bantal yang ada didekatnya dan melemparkannya kepada Remon yang sedang tertawa.


“Senang kamu melihat aku seperti ini,”kata Martin dengan dingin. “Otak udang kamu masih sama ya,”ucap Martin lagi. “Ok..ok aku minta maaf,”kata Remon.


“Siapa kamu sebenarnya. Bagaimana kamu bisa datang kesini,”kata Morgan yang masih memeluk Martin. Suara nafas berhembus di hidung Martin yang sedang dipeluk oleh Morgan sangat erat membuat dia merasa tidak nyaman tapi nyaman dipelukan kakaknya yang lama tidak bertemu. Sedangkan Remon hanya melihat mereka berdua dengan mesranya. Remon yang tidak bisa terima hanya bisa berjalan menuju mereka berdua sampai di atas kasur Remon tetap berhadapan dengan Martin yang masih dipeluk.

__ADS_1


“Apa yang ingin kamu lakukan,”ucap Morgan yang menarik tubuh adiknya. Tapi respon yang diberikan Morgan sangat lambat Remon yang sudah dihadapan mereka berdua hanya tersenyum.”Hai Morgan lama tidak bertemu sekarang kamu pencinta adik kamu ya,”kata Remon. Morgan terdiam mendengar katanya sampai Martin berkata,”Apa yang ingin kamu lakukan?.”


“Ayolah aku hanya ingin melihat kamu saja apa tidak boleh,”ucap Remon yang bersandar di atas kasur.”Martin siapa dia cepat jawab,”kata Morgan. Mereka berdua yang melihat Morgan gelisah ingin menambah bumbu di wajahnya dengan berkata,”Dia adalah pacarku.”


“Apa,”ucap Morgan yang terkejut karena mereka mengakui secara bersamaan.”Tidak boleh,”kata Morgan yang membalikan tubuh Martin dihadapannya.


“Kamu harus suka dengan wanita bukan laki seperti om tua itu,”kata Morgan yang melirik kearah Remon. “Apa maksud kamu,”ucap Remon yang tidak terima dipanggil om tua. Martin hanya menatap kakaknya yang mulai gelisah.


“Kenapa tidak boleh, jika suka mau bagaimana lagi,”kata Martin.”Aku tidak akan merestui kalian berdua,”kata Morgan yang tajam .”Kamu hanya boleh suka dengan kakak kamu titik,”kata Morgan yang tiba-tiba mencium Martin secara tiba-tiba. Martin yang menerima ciuman bibir yang diberikan oleh kakaknya merasa terkejut dan mendorong kakaknya dengan kecang.”Apa yang kamu lakukan,”kata Martin yang malu menerima ciuman dari kakak dengan mengelap bibirnya. Sedangkan Remon yang melihat juga terkejut,”Tidak aku sangka yang menyukai adiknya sampai seperti itu Morgan. Dia itu bukannya Bos kamu... bukan mantan Bos kamu.”


Morgan hanya melihat kearah Remon dengan mata melek,”Mantan Bos... Apa kamu Remon kakak Rendi.”


“Yang tidak tahu malu membawaku kedalam lubang besar kamu,”kata Morgan yang menghampiri Remon.”Apa maksud kamu aku tidak tahu yang itu,”kata Remon yang mulai gelisah balik karena sikap yang diberikan oleh Morgan sangat berbeda.”Sudah...sudah.. jangan mulai lagi. Kamu juga kakak kenapa kamu menciumku tiba-tiba itu membuat aku jijik tahu tidak,”kata Martin. Morgan menoleh kearah adiknya,”Habisnya kenapa kamu bilang dia pacar kamu. Aku tidak suka dengan dia, kamu tahu itu.”


“Untuk apa kamu datang kesini dan sejak kapan kamu sadar kalau dia adalah bawahan kamu,”kata Morgan melihat kearah keduanya yang membutuhkan penjelaskan.”Kamu ingin tahu, tapi kenapa kamu juga kenapa menyembunyikan identitas kamu kepada Martin,”kata Remon yang membutuhkan penjelasan.

__ADS_1


__ADS_2